Thursday, December 20, 2007

Obsesi

SEJUMLAH lembaga membuat program menanam pohon. Pemerintah giat mengajak warga menanam pohon. Sebuah ajakan yang bagus. Tapi saya sedikit geli. Tanpa itu pun warga sudah menanam pohon, mempercantik pekarangan rumah mereka. Coba berjalan ke sejumlah tempat dan lihat di beranda rumah-rumah: begitu hijau, asri, dan cantik.

Tahun ini ibarat tahun tanaman. Entah bagaimana mulanya. Tiba-tiba orang hafal nama-nama tanaman seperti adenium, sansievera, euphorbia, dan anthorium. Yang terakhir ini malah sangat populer; orang menamainya “gelombang cinta”. Konon, di sejumlah tempat, harga tanaman ini dibeli dengan harga milyaran rupiah. Di tempat lain beredar kabar athorium yang dicuri orang –biasanya sebelumnya menolak tawaran harga setengahnya. Ada yang lebih konyol lagi. Seorang suami menjual sapinya untuk membeli anthorium. Dia berharap bisa mendapat keuntungan dari hasil penjualannya. Karena marah, istrinya merajang tanaman itu lalu menjadikannya oseng-oseng. Oh dunia….


Saya sendiri tak tahu apa kelebihan anthorium. Konon, itu tanaman raja-raja zaman dulu. Harga tanaman ini juga pernah melesat beberapa tahun lalu. Tetap saja saya tak tahu letak keindahannya. Namanya indah untuk tanaman yang biasa-biasa saja. Ia sejenis tanaman talas, dengan sisi-sisi daun bergelombang. Seorang teman membeli bibitnya –masih kecil, setinggi sekira 10 cm– dengan harga Rp 75.000. Entah berapa lama dia harus menunggu hingga gelombang cintanya mekar.

Saya melihatnya seperti goreng-gorengan lukisan. Jadi tak sedikit pun saya meliriknya.

Tapi, bisa jadi Susan Orleans benar untuk berhati-hati punya hobi tanaman. Ia mampu menarik hatimu, lalu membuatmu begitu terobsesi padanya. Orlean wartawan The New Yorker, penulis buku Si Pencuri Anggrek. Dalam bukunya, Orlean menggambarkan betapa kecintaan pada anggrek telah membuat banyak orang terobsesi, bahkan bisa melupakan kehidupan lainnya. Karena anggrek, orang rela meninggalkan keluarga, karier, masuk hutan, melalang buana, dan bertarung hidup dan mati. Demam tanaman di sini nyaris seperti Simeleone kecil. Sering saya mendengar berita mengenai pencurian tanaman di rumah-rumah warga. Bahkan di kampung halaman saya, kabar pencurian tanaman juga merebak.

Mungkin saya lagi terobsesi oleh tanaman.

Awalnya, setahun lalu, di sesela bertandang ke Semarang, saya membeli dua buku soal bonsai di Pasar Johar. Harganya murah; masing-masing Rp 5.000. Setelah membacanya, rasanya tak begitu sulit membuat bonsai. Tanamannya juga mudah didapat di mana saja. Tapi saya belum tergerak untuk mencari tanaman pertama saya, meski tanaman bukanlah barang asing. Selagi kecil, pekerjaan rutin saya ya menyirami tanaman.

Tanaman pertama saya bukanlah bonsai tapi lidah mertua. Tanaman daun ini biasa saja. Daun-daunnya agak keras dan menjulur ke atas. Warna kuning menyisiri sisi daun, sementara warna hijau dan putih berbaur di tengah-tengahnya. Orang Jawa percaya, meletakkan tanaman ini di depan rumah baik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga: bakal disayang mertua! Saya sendiri memilihnya karena ia jenis tanaman dalam ruangan. Tahan tanpa sinar matahari dan penyiraman. Selain itu, lidah mertua dipercaya bisa menyerap polusi udara, terutama asap rokok. Klop kan, saya bisa tetap merokok tanpa bau apak yang memenuhi kamar.

Ada juga three colour. Ia juga tanaman dalam ruangan. Ukurannya kecil. Daunnya bersulur lurus bak jarum perak. Warna merah cerah mendominasi daunnya.

Lalu, seorang teman memberi saya adenium. Bagi saya, adenium tak begitu unik. Jelas ia tanaman pekuburan: kamboja. Bedanya ia pendek –sehingga orang sering menamainya Kamboja Jepang. Bonggolnya agak gemuk. Warna bunganya variatif. Bahkan dalam satu pohon, melalui teknik okulasi biasa, bisa muncul bunga aneka warna. Adenium sempat menjadi trend.

Saya sendiri tak begitu tertarik mengikuti trend. Saya sudah memutuskan untuk membuat dan merawat bonsai. Bonsai punya seninya sendiri. Ia bagian dari peradaban manusia. Menurut Budi Sulistyo dan Limanto Subijanto, keduanya penggemar bonsai dan pernah aktif di Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia, dalam buku Bonsai, seni ini sudah lama di kenal di China sejak dinasti Tsin (265-420). Ia menjadi kegemaran kalangan atas. Tapi perlahan seni bonsai menyebar hingga keluar China. Penggemarnya pun mulai beragam. Hingga kini harga bonsai relatif stabil.

Begitu tanaman pertama di tangan, hasrat menambah tanaman muncul. Mulailah saya berburu. Selokan di sepanjang jalan yang saya lalui menuju ke kantor menjadi sasaran pertama. Beringin paling gampang ditemui. Saya juga menemukannya di atap gedung, tembok rumah, pinggir jalan… Bonsai beringin adalah khas Indonesia.

Tapi beringin yang saya dapatkan masih terlalu muda. Butuh waktu lama agar mereka mengeluarkan akar-akar yang menonjol keluar. Beringin yang agak besar saya peroleh di tembok rumah. Ia tumbuh berdiri tegak di sisi bangunan rumah berlantai dua. Talang air menjadi satu-satunya jalan mendekati pohon itu. Jalannya mesti merapatkan punggung ke tembok. Beringin itu muncul dari pipa pembuangan kamar mandi. Saya tak bisa membedolnya. Akarnya sudah terlalu dalam dan kuat. Saya mengergaji akarnya. Beringin itu seukuran lengan. Saya sudah memangkas semua dahan, daun, dan akarnya. Saya menaruhnya di pot. Sekarang beringin ini sudah mengeluarkan tunas-tunas baru. Lebat. Sebagai bonsai, ia memang belum sedap dipandang mata.

Bonsai memang bukan tanaman sekejap mata: begitu tanam, langsung bisa dinikmati. Butuh waktu tahunan hingga bentuknya yang eksotik menggoda mata Anda. Kakak saya sudah membuat bonsai tujuh tahun lalu, dan hingga kini belum ada satu pun bonsai jadi. Butuh proses lama, kesabaran, ketelatenan, dan juga kreativitas.

Saya tak berpikir membeli bonsai jadi. Di daerah Puncak, penjual bonsai berjejeran. Dari dalam mobil, saya sering melihatnya dengan takjub. Seorang teman pernah menawar bonsai pohon asem jawa. Harganya: Rp 700 ribu! Dia urung membelinya. Saya juga tak akan membelinya dengan harga semahal itu. Selain itu, saya suka dengan prosesnya. Karenanya, saya lebih suka mencarinya sendiri, lalu merawat dan mendesainnya hingga berbentuk bonsai jadi.

Kadang saya membelinya dari penjual tanaman tapi dengan harga sangat miring. Standar harga saya adalah Rp 5-15 ribu, tergantung ukuran pohon. Kelihatannya tidak masuk akal, tapi saya bisa mendapatkannya. Teman-teman saya, yang kadang mengantar ke penjual tanaman, sering geleng-geleng kepala melihat saya menawar.

Meski tak seperti Laroche, saya mulai terobsesi pada tanaman. Saya terus memburu tanaman lainnya. Saya beli satu lusin pot, dan saya pikir sudah cukup. Ternyata tambah lagi, dan tambah lagi. Kini koleksi saya hampir empat lusin. Ada beringin, beringin putih, beringin karet, beringin dolar, beringin korea, sasilas, pusaka, melati kosta, dewandaru, asem kranji, kemuning, buegenvil, cendrawasih.

Masih banyak tanaman yang belum saya dapatkan. Daftarnya sudah ada: wareng, ulmus, trenggulun, sisir, serut, pinus, rukem, kabesa, kepel, mustam, murbei, minten, maja, landepan, kembang jepun atau nagasari, kawista, kacapiring, jeruk kingkit, delima, cempaka kuning atau kantil, azaela, cantigi, bunut, dan sawo.

Saya terobsesi bonsai hingga pernah membawanya ke dalam mimpi. Saya terobsesi olehnya, hingga tanaman-tanaman ini mampu membuat saya bangun lebih pagi. Untuk apa lagi kalau bukan menyirami dan menyentuhnya.

Yang hadir bukan hanya kenangan masa kecil tapi juga kecintaan pada yang hidup. Mungkin bonsai-bonsai ini akan setua hidup saya nanti.

Bagaimana dengan ajakan menanam pohon? Menjadikan bumi ini hijau memang pekerjaan mulia. Teruskan. Tapi, agar efektif, mungkin perlu juga belajar dari penjual tanaman yang bisa menggoreng tanaman dan menggugah obsesi banyak orang.*

9 comments:

Anonymous said...

wartawan pecinta tanaman ya :). mas buset apa kabare? gimna masih berani buat taruhan makan durennya?;)
heni ni.

BUDI SETIYONO said...

Baik. Taruhan makan duren masih saya pegang. Tunggu ya. Thanks

astri said...

mas buset, saya baca tulisan ini sambil menahan senyum :)

saya jadi ingat ibu saya. Cintanya pada adenium dan beberapa jenis tanaman yang mas buset sebutkan di tulisan ini bisa dibilang luar biasa.

habis sudah halaman depan dan belakang rumah kami dengan tanaman-tanaman yang membuatnya jatuh cinta itu :D

BUDI SETIYONO said...

Astri,

Makanya ketika ke luar kota, seperti ke Yogya kemarin, sempat kepikiran juga siapa yang kasih minum tuh tanaman. Hehehe. Untung ada teman-teman yang bantu menyirami kala aku pergi.

wisnu said...

sorry mas,punya puisinya Sapardi Djoko Damono berjudul "Rakyat" ??bagi dong..

kirim aja k email wisnu.kuncara@gmail.com
wisnu.kuncara@krakatausteel.com

Andi Harianto said...

salam kenal Mas Budi
saya yang baru tergila-gila dengan tanaman merasakan betul kecintaan Mas terhadap Bonsai.

Saya baru menanam 1 bonsai beringin, Mas sudah melakukannya berlusin-lusin. Salam saya dari Makassar.

Andi Harianto

BUDI SETIYONO said...

Andi,

Salam kenal juga.

Saya belum bisa dibilang punya bonsai berlusin-lusin. Saya masih konsisten untuk lebih mengumpulkan beragam bibit atau stekan tanaman yang bisa dijadikan bonsai, kemudian merawatnya hingga besar dan siap dijadikan bonsai. Butuh kesebaran.

Anonymous said...

Permisii.I ijin ninggalin jejak ya Pak Buset.. Artiketnya bagoes... Sy hery - JKt. 32thn.. Baru 2bulanan tertarik bonsai. N lg suka sekali beringin.. Belum sampe selusin sih bonsainya tp alhamdulillah bisa menenangkan hati.. Lam kenal Ɣªª. 29342ec7 087771005444

BUDI SETIYONO said...

Sama-sama Hery. Memang hobi yang asyik dan menenangkan. Salam kenal juga