Thursday, February 07, 2008

Mengenang

(1949)

Ah, Lidah Tuan!

Atas nama Tuhan berkata Tuan:
keadilan itu satu dan sama bagi semua
tapi mengapa pula distribusinya dikelas-kelas?



Tuan yang tidak botak atau tbc karena nasi sepiring
mengapa pergunakan terus kuasa Tuan
untuk merampas nasi kami?
jutaan kami lebih dari botak dan tbc
dan tuan makin gendut, dan kami makin kurus.

Dan bila kami coba-coba lepas dari siksa sepiring nasi
ingin juga mengecap vitamin dan nikmat musik
mengapa pula Tuan berikan kami timah panas
hingga untuk Tuan dan Keadilan jutaan
kami matianjing tiada harga.

Ah, Tuan!
botak, tbc dan vitamin ini, mari, kita adilkan pula
kami tidak seperti Tuan, distribusi mesti merata:
botak, tbc dan matianjing giliran Tuan
dan kami vitamin musik, baik untuk kesehatan kita.

Timah panas, kata Tuan?
ah, Tuan! Hari esok ia tak kan panas lagi
akan dingin seperti Tuan.


(1950)

Antara Bumi dan Langit
untuk H.B.Jassin

Kita adalah dua manusia
dari dua pandangan hidup
dipanaskan matahari satu zaman.

Engkau dan aku mencoba
menjauhi permainan hitam-putih
kita cari lapang luas
di mana kata Merdeka
berhenti menjadi semboyan hampa.

Kita sama-sama cinta merdeka
tetapi isi kata kita cari masing-masing
dan detik aku temui warna
yang tak luntur diuji waktu
gila kita terus-menerus jadi pencari?

Engkau mabok gairah langkah mencari
niadakan segala nilai hasil kerja
aku minta kau ambil posisi
ini senjata tidak serampangan
dia keringat dan otak sejarah umat.

Engkau dan aku cinta Merdeka
tapi lapang luas punya batas
kalau kau berlagak dewa
ku proklamir Manusia darah-daging
zaman ini pelaksana kata Merdeka.

Kita berdua sama-sama tidak bebas
kau terikat pada dirimu
aku pada Manusia dan zaman kini.


Klara Akustia, 7 Maret 1924 - 7 Februari 2006

Read More......

Wednesday, December 26, 2007

Iklan dan Politik

INI era komunikasi modern. Segala sesuatunya dikemas mengikuti hukum budaya massa yang lebih menekankan aspek hiburan. Berita politik di media seolah jadi drama. Iklan dan orasi politik hanyalah janji-janji kosong. Dan itulah sorotan buku ini.



Iklan dan Politik merekam dinamika periklanan politik selama pemilihan umum 2004. Isinya membahas aturan kampanye, keterlibatan praktisi periklanan, peran media, materi iklan, belanja iklan, aturan kampanye periklanan, pengaruh iklan, sampai pelanggaran-pelanggaran yang terjadi selama masa kampanye. Dilengkapi pula dengan gambar-gambar iklan yang menarik –sayang, rencana menyertakan sebuah CD berisi iklan-iklan media cetak, televisi, dan radio urung dilakukan. Tapi, buku ini sudah terbit, dan momennya juga tepat, menjelang pemilihan umum 2009.

Beberapa orang yang membaca buku ini sudah memberikan apresiasi. Sekarang, tinggal Anda.



Pemrakarsa: RTS Masli
Penulis: Budi Setiyono
Tim Ahli: RTS Masli, Baty Subakti, Rudy Haryanto
Penasehat: Indra Abidin, Nuke Mayasaphira, Effendi Gazali,
Yanti B. Sugarda, Iskadi SK, Garin Nugroho, Aswan Soendojo
Pracetak: Paulus Efendi
Administrasi: Wiji Lestari
Sampul dan Tata Letak: Riri Oskandar
Gambar-gambar: Mediabanc Jakarta, kecuali disebutkan sumbernya


Cetakan Pertama: 2008

Diterbitkan oleh:
AdGOAL.Com
Jalan Raya Kebayoran Lama No. 18 CD
Jakarta 12220 Indonesia
Tel +62 21 722 1678
Fax +62 21 722 3760

Galang Press
Jalan Anggrek No. 3/34 Baciro Baru
Yogyakarta 55225
Tel +62 274 545609, 554986
Fax +62 274 554985
Email: galangpress@jmn.net.id
http://www.galangpress.com/

BUKUkita
Jalan H. Montong No. 57 RT 006/02, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
Tel +62 21 7888 3030 (Hunting)
Fax +62 21 787 3446 (Direct)
+62 21 786 4440, 727 0996
Email: marketingbukukita@gmail.com

ISBN: (13) 978-979-24-9913-1
ISBN: (10) 979-24-9913-x

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
All right reserved


Sampul Belakang:

SEORANG pemuda aktivis sosial yang menarik, pintar, dan bersemangat didekati oleh manajer kampanye profesional. Diyakinkannya pemuda itu agar mencalonkan diri bagi jabatan pemerintahan. Sang pemuda setuju. Manajer itu bergerak cepat. Sebuah tim sukses dibentuknya. Ada rombongan petugas polling, pembuat film, pembuat iklan, agen pers, penulis pidato, artis perias, dan sebagainya. Semuanya bekerja dengan satu tujuan: mencetak, mengepak, dan menjual kandidat itu melalui kampanye periklanan massal yang canggih. Pemilihan usai. Sang kandidat menang. Tapi keraguan segera menyergapnya: “Apakah saya benar-benar memiliki kualifikasi sebagai pejabat pemerintah?”.

Dia kembali kepada (mantan) manajer kampanyenya, seorang bayaran yang telah siap mencari wajah baru untuk dijual, dan bertanya, “Tapi, apa yang kita lakukan sekarang?”

Sepenggal adegan film The Candidate itu bermuatan satiristik bahwa “produk” tak dikenal dapat dijual kepada pemilih sebagai “konsumen”.

Bagaimana dengan para kandidat di Indonesia menjelang dan selama pemilihan umum? Buku ini layak dibaca kalangan praktisi periklanan, pembuat regulasi, praktisi media, politisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.



“Kalau Anda memang (sebelum membaca buku ini pun) sudah telanjur relatif sinis, Anda toh masih bisa tetap mencoba optimis; motto “Bersama kita Bisa” itu juga boleh dibaca “Bersama Kita Bisa Memperbaiki Diri dan Masa Depan Iklan Politik”.
Effendi Gazali, Phd, Koordinator Program Magister Manajemen Komunikasi Politik, Program Pascasarjana Komunikasi UI

“Periklanan politik kadang dirindukan tapi juga dicacimaki karena pesan-pesannya dianggap membodohi dan menyesatkan masyarakat. Seyogyanya ada pijakan untuk menilainya secara arif. Dan buku ini layak jadi rujukan.”
Indra Abidin, President Director PT Fortune Indonesia

“Dari hasil survey pendapat publik, yang dibutuhkan masyarakat pemilih bukanlah iklan politik dengan pesan-pesan yang obral janji ataupun etalase tanda gambar dan nomor urut semata, melainkan pesan-pesan yang jujur dan mulus. Siapapun mesti membaca buku ini.”
Yanti B. Sugarda, President Director Polling Center

“Iklan politik tidaklah sekadar janji dan daya pikat, tetapi mengandung tawaran program, panduan publik, serta menumbuhkan ketulusan dan kepercayaan. Iklan politik adalah strategi image, pendidikan kewarganegaraan, dan strategi politik. Untuk itu, buku ini menjadi penting di tengah dinamika politik dan media serta hubungan bisnis, politik, dan pendidikan kewarganegaraan.”
Garin Nugroho, Koordinator Koalisi Media untuk Pemilu Jujur dan Adil

“Seringkali iklan dipersepsikan mendorong pola hidup konsumtif. Buku ini memberikan pemahaman peran iklan dalam mendorong demokratisasi dan peran publik dalam penentuan perjalanan bangsa.”
Aswan Soendojo,President Director Matari Advertising

“Ada banyak hal yang tercecer dan luput dari perhatian kita selama pemilihan umum berlangsung, dan semuanya bisa terekam dengan baik dalam buku ini.”
RTS Masli, International Advertising Association – Indonesia Chapter President

Read More......

Thursday, December 20, 2007

Obsesi

SEJUMLAH lembaga membuat program menanam pohon. Pemerintah giat mengajak warga menanam pohon. Sebuah ajakan yang bagus. Tapi saya sedikit geli. Tanpa itu pun warga sudah menanam pohon, mempercantik pekarangan rumah mereka. Coba berjalan ke sejumlah tempat dan lihat di beranda rumah-rumah: begitu hijau, asri, dan cantik.



Tahun ini ibarat tahun tanaman. Entah bagaimana mulanya. Tiba-tiba orang hafal nama-nama tanaman seperti adenium, sansievera, euphorbia, dan anthorium. Yang terakhir ini malah sangat populer; orang menamainya “gelombang cinta”. Konon, di sejumlah tempat, harga tanaman ini dibeli dengan harga milyaran rupiah. Di tempat lain beredar kabar athorium yang dicuri orang –biasanya sebelumnya menolak tawaran harga setengahnya. Ada yang lebih konyol lagi. Seorang suami menjual sapinya untuk membeli anthorium. Dia berharap bisa mendapat keuntungan dari hasil penjualannya. Karena marah, istrinya merajang tanaman itu lalu menjadikannya oseng-oseng. Oh dunia….

Saya sendiri tak tahu apa kelebihan anthorium. Konon, itu tanaman raja-raja zaman dulu. Harga tanaman ini juga pernah melesat beberapa tahun lalu. Tetap saja saya tak tahu letak keindahannya. Namanya indah untuk tanaman yang biasa-biasa saja. Ia sejenis tanaman talas, dengan sisi-sisi daun bergelombang. Seorang teman membeli bibitnya –masih kecil, setinggi sekira 10 cm– dengan harga Rp 75.000. Entah berapa lama dia harus menunggu hingga gelombang cintanya mekar.

Saya melihatnya seperti goreng-gorengan lukisan. Jadi tak sedikit pun saya meliriknya.

Tapi, bisa jadi Susan Orleans benar untuk berhati-hati punya hobi tanaman. Ia mampu menarik hatimu, lalu membuatmu begitu terobsesi padanya. Orlean wartawan The New Yorker, penulis buku Si Pencuri Anggrek. Dalam bukunya, Orlean menggambarkan betapa kecintaan pada anggrek telah membuat banyak orang terobsesi, bahkan bisa melupakan kehidupan lainnya. Karena anggrek, orang rela meninggalkan keluarga, karier, masuk hutan, melalang buana, dan bertarung hidup dan mati. Demam tanaman di sini nyaris seperti Simeleone kecil. Sering saya mendengar berita mengenai pencurian tanaman di rumah-rumah warga. Bahkan di kampung halaman saya, kabar pencurian tanaman juga merebak.

Mungkin saya lagi terobsesi oleh tanaman.

Awalnya, setahun lalu, di sesela bertandang ke Semarang, saya membeli dua buku soal bonsai di Pasar Johar. Harganya murah; masing-masing Rp 5.000. Setelah membacanya, rasanya tak begitu sulit membuat bonsai. Tanamannya juga mudah didapat di mana saja. Tapi saya belum tergerak untuk mencari tanaman pertama saya, meski tanaman bukanlah barang asing. Selagi kecil, pekerjaan rutin saya ya menyirami tanaman.

Tanaman pertama saya bukanlah bonsai tapi lidah mertua. Tanaman daun ini biasa saja. Daun-daunnya agak keras dan menjulur ke atas. Warna kuning menyisiri sisi daun, sementara warna hijau dan putih berbaur di tengah-tengahnya. Orang Jawa percaya, meletakkan tanaman ini di depan rumah baik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga: bakal disayang mertua! Saya sendiri memilihnya karena ia jenis tanaman dalam ruangan. Tahan tanpa sinar matahari dan penyiraman. Selain itu, lidah mertua dipercaya bisa menyerap polusi udara, terutama asap rokok. Klop kan, saya bisa tetap merokok tanpa bau apak yang memenuhi kamar.

Ada juga three colour. Ia juga tanaman dalam ruangan. Ukurannya kecil. Daunnya bersulur lurus bak jarum perak. Warna merah cerah mendominasi daunnya.

Lalu, seorang teman memberi saya adenium. Bagi saya, adenium tak begitu unik. Jelas ia tanaman pekuburan: kamboja. Bedanya ia pendek –sehingga orang sering menamainya Kamboja Jepang. Bonggolnya agak gemuk. Warna bunganya variatif. Bahkan dalam satu pohon, melalui teknik okulasi biasa, bisa muncul bunga aneka warna. Adenium sempat menjadi trend.

Saya sendiri tak begitu tertarik mengikuti trend. Saya sudah memutuskan untuk membuat dan merawat bonsai. Bonsai punya seninya sendiri. Ia bagian dari peradaban manusia. Menurut Budi Sulistyo dan Limanto Subijanto, keduanya penggemar bonsai dan pernah aktif di Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia, dalam buku Bonsai, seni ini sudah lama di kenal di China sejak dinasti Tsin (265-420). Ia menjadi kegemaran kalangan atas. Tapi perlahan seni bonsai menyebar hingga keluar China. Penggemarnya pun mulai beragam. Hingga kini harga bonsai relatif stabil.

Begitu tanaman pertama di tangan, hasrat menambah tanaman muncul. Mulailah saya berburu. Selokan di sepanjang jalan yang saya lalui menuju ke kantor menjadi sasaran pertama. Beringin paling gampang ditemui. Saya juga menemukannya di atap gedung, tembok rumah, pinggir jalan… Bonsai beringin adalah khas Indonesia.

Tapi beringin yang saya dapatkan masih terlalu muda. Butuh waktu lama agar mereka mengeluarkan akar-akar yang menonjol keluar. Beringin yang agak besar saya peroleh di tembok rumah. Ia tumbuh berdiri tegak di sisi bangunan rumah berlantai dua. Talang air menjadi satu-satunya jalan mendekati pohon itu. Jalannya mesti merapatkan punggung ke tembok. Beringin itu muncul dari pipa pembuangan kamar mandi. Saya tak bisa membedolnya. Akarnya sudah terlalu dalam dan kuat. Saya mengergaji akarnya. Beringin itu seukuran lengan. Saya sudah memangkas semua dahan, daun, dan akarnya. Saya menaruhnya di pot. Sekarang beringin ini sudah mengeluarkan tunas-tunas baru. Lebat. Sebagai bonsai, ia memang belum sedap dipandang mata.

Bonsai memang bukan tanaman sekejap mata: begitu tanam, langsung bisa dinikmati. Butuh waktu tahunan hingga bentuknya yang eksotik menggoda mata Anda. Kakak saya sudah membuat bonsai tujuh tahun lalu, dan hingga kini belum ada satu pun bonsai jadi. Butuh proses lama, kesabaran, ketelatenan, dan juga kreativitas.

Saya tak berpikir membeli bonsai jadi. Di daerah Puncak, penjual bonsai berjejeran. Dari dalam mobil, saya sering melihatnya dengan takjub. Seorang teman pernah menawar bonsai pohon asem jawa. Harganya: Rp 700 ribu! Dia urung membelinya. Saya juga tak akan membelinya dengan harga semahal itu. Selain itu, saya suka dengan prosesnya. Karenanya, saya lebih suka mencarinya sendiri, lalu merawat dan mendesainnya hingga berbentuk bonsai jadi.

Kadang saya membelinya dari penjual tanaman tapi dengan harga sangat miring. Standar harga saya adalah Rp 5-15 ribu, tergantung ukuran pohon. Kelihatannya tidak masuk akal, tapi saya bisa mendapatkannya. Teman-teman saya, yang kadang mengantar ke penjual tanaman, sering geleng-geleng kepala melihat saya menawar.

Meski tak seperti Laroche, saya mulai terobsesi pada tanaman. Saya terus memburu tanaman lainnya. Saya beli satu lusin pot, dan saya pikir sudah cukup. Ternyata tambah lagi, dan tambah lagi. Kini koleksi saya hampir empat lusin. Ada beringin, beringin putih, beringin karet, beringin dolar, beringin korea, sasilas, pusaka, melati kosta, dewandaru, asem kranji, kemuning, buegenvil, cendrawasih.

Masih banyak tanaman yang belum saya dapatkan. Daftarnya sudah ada: wareng, ulmus, trenggulun, sisir, serut, pinus, rukem, kabesa, kepel, mustam, murbei, minten, maja, landepan, kembang jepun atau nagasari, kawista, kacapiring, jeruk kingkit, delima, cempaka kuning atau kantil, azaela, cantigi, bunut, dan sawo.

Saya terobsesi bonsai hingga pernah membawanya ke dalam mimpi. Saya terobsesi olehnya, hingga tanaman-tanaman ini mampu membuat saya bangun lebih pagi. Untuk apa lagi kalau bukan menyirami dan menyentuhnya.

Yang hadir bukan hanya kenangan masa kecil tapi juga kecintaan pada yang hidup. Mungkin bonsai-bonsai ini akan setua hidup saya nanti.

Bagaimana dengan ajakan menanam pohon? Menjadikan bumi ini hijau memang pekerjaan mulia. Teruskan. Tapi, agar efektif, mungkin perlu juga belajar dari penjual tanaman yang bisa menggoreng tanaman dan menggugah obsesi banyak orang.*

Read More......

Wednesday, November 21, 2007

Cinema Paradiso

SAYA ingin nonton bioskop lagi. Tapi dengan tempat duduk yang nyaman. Tak perlu empuk. Cukup biarkan saya menyandarkan punggung ke kursi dengan kaki nangkring di atas sandaran kursi di depannya. Pengelola bioskop tentu tak akan mengizinkan. Setiap film hendak diputar, larangan posisi duduk semacam itu selalu ditayangkan. Tapi tidak di bioskop-bioskop kampungan.



Menonton bioskop adalah pengalaman personal. Bukan pengalaman komunal. Bukankah sesama penonton tak saling mengenal, dan menghayati sebuah film dengan perasaan masing-masing? Dan pengalaman personal itu pernah saya dapatkan di bioskop kampung saya, di sebuah kota kecamatan di tengah pulau Jawa.

Namanya bioskop Aladin. Letaknya di sisi barat pasar. Semasa kecil, kalau pergi ke pasar, saya selalu menyempatkan diri mampir dan melihat poster-poster film di gedung bioskop. Saya suka poster-poster itu. Saya akan menunggu mobil bioskop keliling kampung, dengan suara khas penumpangnya yang berteriak lantang: “Saksikanlah….” Begitu datang, saya akan mengikutinya, berharap dan berebut dengan teman-teman poster film yang disebarkan. Poster-poster itu saya jadikan sampul buku sekolah.

Saya sering mengunjungi Aladin. Letaknya tak jauh dari rumah. Saya senang melihat antrian penonton yang hendak masuk. Teman-teman saya sering nekat menerobos, menyelip di antara antrian penonton. Saya tak berani. Begitu pintu bioskop dibuka, tanda film akan berakhir, barulah saya masuk untuk melihat sisa film –juga tingkah para penontonnya, yang satu per satu meninggalkan kursi.

Ada saat-saat tertentu bioskop menjadi sangat ramai. Ramainya mengalahkan pasar di sebelahnya. Penonton datang dari desa dengan truk-truk, sekadar ingin melihat film idolanya… Rhoma Irama. Film-film India juga relatif sesak penonton. Begitu pula film-film yang lagi dibicarakan orang macam Saur Sepuh.

Sedari kecil, saya suka nonton bioskop. Biasanya bersama adik saya. Kami biasa menabung uang jajan, dan uang itulah yang kami pakai untuk membeli tiket. Kami suka film-film kungfu, dari Jaka Sembung sampai The Bastard Swordsman (Pendekar Ulat Sutra). Film China ngamuk –begitu kami biasa menyebut film-film Mandarin– juga tak terlewatkan. Kami suka film-film Jacky Chan. Kocak. Penuh aksi. Hampir semua filmnya sudah saya tonton.

Menginjak sekolah menengah, ada seorang pemuda Tionghoa naksir kakak saya. Dan dia sering memberikan kami tiket gratis. Satu tiket berlaku untuk dua orang. Kami tinggal menunjukkan tiket ke loket untuk mendapatkan stempel, lalu melenggang masuk.

Saya ingin menonton bioskop lagi, dengan suasananya yang khas. Tidak di bioskop papan atas yang tertib dan santun, yang sebuah siulan menyambut kedatangan sang jagoan bisa membuat seisi bioskop mengeluh.


SAYA menghabiskan masa kecil di sebuah kota kecamatan. Aktivitas kota ini terpusat di pasar dan bioskop. Tahun 1980-an, bioskop mungkin satu-satunya hiburan warga kampung. Televisi masih satu channel. Acaranya begitu-begitu saja, lebih banyak program pemerintah. Video masih sedikit yang punya. Saya beruntung punya teman sekolah yang punya video. Saya bisa menonton Goggle V atau Megaloman Fire di rumahnya. Sementara kalau menonton video di rumah tetangga, saya harus membayar beberapa rupiah.

Bioskop juga hiburan keluarga. Orangtua saya sering mengajak nonton bersama saat malam minggu. Kalau film Warkop mampir, kami pasti menontonnya –labelnya memang untuk semua umur, tapi penampilan pemain-pemainnya… huh. Saya sering menutup mata dibuatnya. Film lainnya ya macam Walisongo. Kakak-kakak saya sesekali mengajak saya nonton film-film remaja: Gita Cita dari SMA, Catatan Si Boy, atau Si Roy. Film midnight adalah jatah orangtua saya –saya sering melihat mereka berangkat tengah malam.

Pemerintah Soeharto sadar betul hiburan ini bisa jadi sarana propaganda yang ampuh. Jadilah menonton bersama sebagai program pemerintah Orde Baru. Setiap anak sekolah wajib menontonnya: Serangan Fajar, Robert Wolter Monginsidi, Pengkhianatan G30S/PKI, hingga Operasi Trisula. Kami harus berjalan kaki dari sekolah menuju bioskop, yang jaraknya sekira 3 km. Bioskop penuh. Penonton berjubel. Saya sempat mendapat tempat duduk di kursi paling depan. Kepala langsung pening.

Ia juga masuk ke ruang-ruang privat, ruang-ruang keluarga. Setiap tahun film Pengkhianatan G30S/PKI diputar melalui televisi.

Budi Irawan dalam Film, Ideologi, dan Militer tak mengherani fenomena itu. Menurutnya, sinema Indonesia sejatinya bersifat politis. Sebab, jika menilik sejarahnya, ia tak pernah sepenuhnya bebas dari medan pengaruh kekuasaan politik. Melalui sinema yang diklaim sebagai “film sejarah”, rezim Orde Baru mengkonstruksikan format relasi sipil-militer, memberi legitimasi historis yang mungkin artifisial terhadap Dwifungsi ABRI, serta memperkuat cengkeraman kekuasaan Soeharto dengan penonjolan perannya semasa revolusi fisik. Tapi Soeharto runtuh, dan klaim sejarah itu pun menguap.


RUANGAN sudah gelap. Film hendak diputar. Saya menyandarkan punggung ke kursi dengan kaki nangkring. Saya hembuskan asap rokok sambil sesekali melihat sekeliling ruangan. Sepi. Cuma enam penonton. Tapi saya menikmati keheningan ini.

Saya suka menonton pukul 21.00. Sepi. Tidak berisik. Tidak ada pedagang asongan berkeliaran menjajakan dagangannya. Tidak ada orang berteriak-teriak, memaki, atau bahkan berantem sesama penonton. Saya menguasai bioskop ini sepenuhnya.

Sekolah saya berada di kota kabupaten, sehingga saya tinggal di sana bersama kakak, menempati rumah orangtua yang belum sepenuhnya rampung. Saya jadi jarang nonton bioskop. Jarak bioskop terlalu jauh. Ada dua bioskop di sini: Subur dan Sanjaya –Subur masih bertahan, sementara Sanjaya sudah beralih fungsi menjadi lapangan tenis.

Sesekali saya masih menyempatkan diri menonton di sana. Bersama teman, sepulang sekolah, kami menonton bioskop. Masih film-film China ngamuk. Sesekali kami bolos sekolah dan pergi ke kota sebelah. Di sana ada banyak bioskop. Yang pernah saya kunjungi adalah bioskop Maya di dekat terminal (lama). Ini bioskop murah. Satunya lagi bioskop Dewi di dekat alun-alun kota. Ruangannya dibagi dua, dipisahkan oleh papan memanjang. Di depan untuk kelas festival. Rasanya gerah. Lain dengan di belakang, yang mendapat pendingin dari AC sentral. Ada juga balkon, yang tiketnya tentu paling mahal.

Tapi tetap saja bioskop-bioskop ini tak bisa menggantikan bioskop di kampung saya. Dan seminggu sekali saya pulang ke rumah orangtua, sebuah rumah dinas di sebuah kota kecamatan. Saya mendatangi bioskop Aladin seminggu sekali, meresapkan kenangan masa kecil.


SEMASA kuliah di Semarang, awal 1990-an, saya masih suka nonton bioskop. Karena rumah paman, di mana saya tinggal, dekat Pasar Johar, saya sering nonton di bioskop Gris dan Semarang di Jalan Pemuda –keduanya berhadap-hadapan. Kalau ke Johar dan hendak mencari buku bekas, saya menonton di bioskop Kanjengan.

Setahun kemudian, saya mengontrak rumah bersama teman-teman kampus. Di sini hobi nonton bioskop tak terbendung lagi. Kalau mau nonton film Mandarin, ya datang ke bioskop Murni di Jl Gadjah Mada. Tak jauh dari Murni, ada bioskop Manggala, biasanya film-film Hollywood. Tak jauh dari Manggala, ada bioskop Gajah Mada Theater, Plaza Theater, dan belakangan, setelah dibangun Mal Ciputra, ada Citra –semuanya mengepung Simpang Lima. Agak ke timur, dekat kantor RRI, ada bioskop Admiral.

Saya dan teman-teman kadang menjelajah bioskop lainnya. Berjalan kaki menyusuri Jalan MT Haryono, kami mampir di bioskop Gelora yang lebih sering memutar film-film Hollywood. Kalau tidak ya, menonton di bioskop Indra di belakangnya, jika ingin menonton film Mandarin. Bioskop Anjasmoro dan Atrium 21, yang posisinya berhadap-hadapan di Jalan Siliwangi, menjadi sasaran berikutnya.

Belakangan, saya jadi jarang nonton bioskop. Zaman sudah berubah. Rental VCD bertebaran. Bahkan kemudian, ketika saya sudah bekerja, saya lebih sering menonton VCD. Sampai kemudian era DVD datang, dan saya sudah pindah ke Jakarta, saya lebih memilih mencari DVD di Ratu Plaza, Glodok, atau Mangga Dua.

Tapi pengalaman menonton film di rumah tak kalah menyenangkan. Sebulan sekali, biasanya malam minggu, teman-teman datang ke rumah. Mereka datang dengan segepok film. Kami punya kesenangan yang sama: menonton film. Genrenya juga nyaris sama: film-film festival. Sepanjang malam hingga menjelang pagi, beberapa film diputar. Sesekali komentar meluncur, dari akting pemain sampai ending cerita. Dan mereka menyebut kamar saya…. Cinema Paradiso.

Ya, nama itu terinspirasi judul film Cinema Paradiso. Ini film yang indah. Ada kelucuan dan keharuan. Kami sama-sama suka film ini. Teman saya bahkan rela mencari versi original, dan mendapatkannya dengan harga Rp 300.000.

Menonton Cinema Paradiso seolah melihat sejarah sebuah bioskop, film-filmnya, orang-orangnya … sebuah bioskop yang menjadi kebanggaan warga kampung, yang kemudian dirobohkan atas nama ekonomi. Menonton Cinema Paradiso mengingatkan saya pada bioskop di kampung saya, pada kenangan masa kecil.

Aladin kini sudah mati. Saya sempat melewatinya lebaran kemarin. Tak ada yang tersisa dari bangunan yang dulu terlihat megah. Sebuah minimarket telah menggantikannya. Mungkin kalau saya masih tinggal di sana, saya akan ikut melihat bagaimana bangunan itu dirobohkan, dan menangisinya –sama seperti dilakukan orang-orang kampung di film Cinema Paradiso. Bioskop menjadi bagian dari identitas kota.

Zaman memang sudah berubah. Bioskop sudah ditinggalkan pemiliknya karena merugi. Konon, masalahnya soal monopoli distribusi film-film. Praktis hanya beberapa bioskop kelas atas saja yang masih bertahan. Stasiun televisi juga bejibun, dengan beragam acara hiburan. DVD bajakan makin mudah didapat. Orang juga lebih memilih ruang privat, di kamar atau ruang keluarga, menonton televisi atau memutar DVD.

Saya ingin nonton bioskop lagi. *


Ide tulisan ini sempat saya lontarkan ke sejumlah teman. Cak Kartolo, begitu biasa disapa, yang sering mengajak saya ke Glodok dan menonton film di kamar saya, membalasnya dengan sebuah tulisan yang manis. Saya sertakan di sini.

Pengalaman Pribadi Nonton Bioskop


NENG kuto asalku Tulungagung Jawa Timur (kurang lebih 30 km dari Gunung Kelud yang mau meletus), pada era 1980 sampai pertengahan 1990-an, ada lima bioskop (perlu saya sebutin namanya?) yang kini sudah punah, diganti pusat perbelanjaan, hotel, dan tempat karaoke! Di bioskop-bioskop itulah semua film kungfu tak tonton kabeh, termasuk The Bastard Swordsman alias Pendekar Ulat Sutera!

Yang mungkin ente belum pernah dengar, pada era 1980-an, bioskop-bioskop itu membagi tempat duduknya dalam 3 kelas. Kelas 1 –deretan paling belakang dengan harga paling mahal – Rp 1.000. Kelas 2 – deretan tengah, kurang lebih Rp 700. Deretan paling depan, yang bikin sakit mata, Rp 300. Bandingkan dengan harga di Blitzmegaplex Jakarta yang sekarang Rp 40.000.

Pada masa ketika film kungfu Mandarin mengalami “renaissance” awal 1990-an, satu bioskop memutar “Extra Show atau Student Show“. Harga tiketnya Rp 1.000-an. Kita harus berdesak-desakan untuk antri beli tiket kalau mo nonton. Dan setelah di dalam, belum tentu dapat tempat duduk! Pas Basic Instinct lagi diputer tahun 1992, wis ora karuan akehe penontone. Seperti pada kasus wong ndeso sing nyewo truk untuk nonton film Rhoma Irama atau Saur Sepuh. Nonton berjubel-jubel dengan asap rokok dan umpatan-umpatan kotor itu ternyata menimbulkan sensasi tersendiri –yang tidak bisa kita dapatkan kalau nonton di Cineplex– yang penontonnya orang-orang beradab, he-he-he.

Mungkin alasan “pengalaman kolektif” itulah yang membuat ABG-ABG sekarang tidak bosan-bosannya nonton film horor. Kata Kang Giorgio Arwani, “Mereka nonton terutama bukan karena seneng filmnya. Mereka ingin mengalami seneng bareng-bareng, ketawa bareng-bareng, dan takut bareng-bareng.” Sensasi kolektif ini yang dulu saya rasakan bersama penonton kampung lainnya ketika menyaksikan “tendangan tanpa bayangan” Jet Lee di Once Upon a Time in China.

Soal antusiasme penonton, acara tahunan JIFFEST (Jakarta International Film Festival) masih menyedot cukup banyak penonton –tentu karena promonya. Tapi karena rata-rata yang diputer art-house cinema, ya sensasi kolektif itu tidak terlalu MAK-NYUSSS! –karena penontonnya sibuk mikir! Paling banter ketawa sopan bareng-bareng. Aku dhewe wis suwi ora nonton film-film “seru dan renyah”. Jika ada JIFFEST tahun ini, aku mungkin njajal milih sing enteng wae, biar mengalami sensasi kolektif lagi. Ketika baru-baru ini di TIM ada “Tribute to Michelangelo Antonioni”, waktu pemutaran L’ Aventura – gratis, hanya 3 orang yang mampu bertahan sampai selesai: Kartolo karo 2 bule Italia –karena filme “pelaaaan abis”. Waktu nonton Opera Jawa di Blitzmegaplex jam 21.30 hanya ada 4 penonton, tanpa suara, dari awal sampai akhir.

Bagaimana ya kira-kira atmosfernya, ketika disebutkan bahwa penonton di Cannes memberikan standing ovation selama 30 menit untuk film Mexico Pan’s Labyrinth atau standing ovation untuk “film mikir” Denmark - Dancer in the Dark.

By the way, film yang 1 bulan lalu aye dapat dari Mangga Dua (Chacun son cinema) ternyata merupakan kumpulan film-film pendek (5 menitan) dari 20-an sutradara top “art cinema” - untuk memperingati 60 tahun Cannes Film Festival. Tentang interpretasi mereka soal PENGALAMAN NONTON FILM dan kecintaan terhadap film.

Sutradara Israel, Amos Gitai, menampilkan cerita tentang muda-mudi yang nonton bioskop di Israel. Ketika sedang asyiknya-asyiknya, ada tentara masuk mengumumkan pemutaran harus dihentikan karena ada peringatan serangan udara. Ketika penonton masih malas bangun dari kursi atau mendebat sang tentara, tiba-tiba… buuum! Bom ditembakkan ke bioskop!

Sutradara Denmark, Bille August, bikin film tentang mahasiswi Iran yang nonton bioskop di Denmark. Karena tidak mengerti bahasa Denmark, dia janjian nonton dengan temannya, orang Denmark, sebagai penerjemah. Setiap dialog langsung ditejemahkan, dan itu mengganggu sekumpulan penonton laki-laki (gang) di depan mereka. Mereka terlibat adu mulut. Si gadis dan temannya harus keluar gedung. Namun akhirnya, gerombolan pemuda itulah yang akhirnya justru menjadi penerjemah.

Zhang Yimou bikin film tentang pengalaman nonton layar tancap di suatu desa di China. Pada saat film diputar, justru sang bocah yang jadi tokoh utama ketiduran, capek nunggu. Adegan-adegan di sekitarnya sebelum film dimulai justru telah berubah menjadi film itu sendiri.

Roman Polanski – bikin pengalaman nonton film semi porno dalam segmen CINEMA EROTIQUE. Wis ora usah tak critani yen soal iki.

Yen nonton BF utowo semi, enake pengalaman kolektif atau personal???? Koyone enak nonton dhewean neng kamar sambil..... minum kopi .... huak ak ak ak. *

Read More......

Sunday, September 30, 2007

Semut Terjepit Dua Gajah

RUMAH ini asri. Pepohonan rindang memenuhi pekarangan rumah. Dari pintu masuk, aroma wangi yang khas tercium. Sebuah apotik menghadap pintu masuk, menawarkan beragam jenis obat tradisional berbentuk cair hingga kapsul. Di sisi kanan, di sebuah lahan yang lapang, sejumlah tanaman obat berjejer rapi.



Rumah ini tak pernah sepi. Ada aktivitas meditasi dengan mengandalkan kekuatan alam. Sesekali rombongan tamu datang, sekadar melihat-lihat, membeli obat, atau mempelajari pengobatan tradisional. Sebuah papan pengumuman di dinding rumah menjadi petanda: sejumlah lembaga pernah bertandang ke sini.

Putu Oka Setia, si empunya rumah, sudah berada di teras belakang. Ia asyik berbincang dengan tamu yang mulai berdatangan.

Putu Oka seorang sastrawan asal Bali. Pernah mendekam selama 10 tahun di penjara karena aktivitasnya di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), gerakan kebudayaan yang berdiri pada 17 Agustus 1950. Pengalamannya sebagai tahanan politik dia tuangkan dalam sebuah novel Merajut Harkat.

Ia berbincang dengan Scott Schlossberg, mahasiswa S3 Universitas Berkeley, Amerika Serikat. Scott sedang mengkaji Lekra. Saya melihat perbincangan itu ibarat perploncoan. “Apa yang mau kamu tulis; Lekra sebagai hantu gentayangan atau Lekra sebagai semangat berkesenian,” ujar Putu Oka.

“Kalau mau menulis Lekra sebagai hantu gentayangan, ke kuburan saja.”

Putu Oka tertawa. Ini memang pertemuan yang cair. Nama pertemuannya sendiri dibuat santai: temu kangen seniman.

Sudah sering seniman Lekra berkumpul. Awalnya betul-betul temu kangen. Dalam perkembangan, muncul ide untuk membuka diri, memberi kesempatan bagi orang lain untuk bergabung dengan mereka. Acaranya ya makan-makan, bertukar kabar, kemudian diskusi santai mengenai satu topik yang sudah diagendakan dari awal.

Temu kangen digelar di ruang tamu. Katrin Bandel, dosen-tamu di program magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, membuka diskusi. Ia membedah sejumlah karya sastra Indonesia yang terbit selama dan sesudah Orde Baru, terutama yang menyinggung peristiwa 1965. Mula-mula novel Pergolakan karya Wilda Yatim yang terbit pada 1974. Lalu Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramudya Ananta Toer, Anna Gretta Budi Darma, Sri Sumarah Umar Kayam, Ronggeng Dukuh Paruh Ahmad Tohari, Saman dan Larung Ayu Utami, dan sebagainya. Ia kutip adegan atau dialog dari buku-buku itu lalu mengkritisinya.

Menurutnya, karya sastra Indonesia masih mencerminkan versi pemerintah. Karya sastra Orde Baru memberikan empati terhadap korban-korban 1965 tapi lebih kepada orang yang tak tahu apa-apa. Sekalipun Orde Baru runtuh, logika dan versi sejarahnya belumlah berubah; lebih menyoroti pergolakannya, sementara sisi ideologinya dianggap tidak penting. Menurut Bandel, tidak tepat jika karya-karya sastra yang terbit belakangan menjadi versi tanding Orde Baru.

Ini berbeda dari karya-karya korban. Versinya jelas berbeda, meski ada teks-teks mengenai korban yang tak bersalah atau merasa tak bersalah dan bagaimana mereka mengatasi situasi ini. Ada sedikit kesamaan. Perbedaannya terletak pada pendalaman psikologisnya.

Bandel usai, Saut Situmorang bicara. Saut memaparkan pandangannya tentang apa yang dialami generasinya, generasi pasca-1965, yang menurutnya terjepit di antara “dua gajah yang sedang bertarung.” Generasinya kehilangan pegangan, tanpa pijakan. Di masa Orde Baru, sastrawan Horison menjadi dewa –Horison adalah nama majalah sastra yang diterbitkan sejumlah sastrawan “Manifest Kebudayaan” dan menjadi standar mutu sastra Indonesia. Setelah reformasi, mitos Lekra sebagai setan berubah menjadi dewa.

Meski setelah 1965 kelompok Manifest Kebudayaan “menang”, pertarungan dua kekuatan itu tidak meredup. Kebenaran sejarah menjadi hal yang tak pernah selesai: apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.

“Generasi sekarang menjadi korban, terjepit, lost generation. Padahal generasi kami yang memberikan pengakuan terhadap dua kekuatan itu,” ujar Situmorang.

Saya suka istilah Saut tapi tak sepakat dengan keterjepitan generasinya. Kalau pun benar, yang hilang bukan hanya generasinya tapi juga sejarah sejarah sastra Indonesia yang utuh.


PADA suatu ketika, menjelang tahun 1950, sastrawan Adi Sidharta (biasa disingkat A.S. Dharta) bertemu dengan M.S. Azhar dan Njoto. Tak jelas apa yang membuat mereka bisa bertemu. Tapi saat itu, menjelang dan sesudah kemerdekaan, pergaulan masih terasa sempit, sehingga ada kebutuhan untuk bertemu dan mengenal orang lain. “Ingat hukum jenis mencari jenis,” ujar Dharta kepada saya.

Njoto seniman musik. Semasa di Solo, gitaris hawaian. Pengetahuannya tentang musik luar biasa. Komponis-komponis Jakarta hormat kepadanya. Pengetahuannya juga luas, mencakup segala bidang. MS Azhar novelis. Perasaannya sangat kuat, dan terasa dalam karya-karyanya.

Mereka bertemu kali pertama di rumah Azhar di Jl Wahidin No 10, rumah dinas Departemen Perhubungan. Awalnya hanya sekadar mengobrol, tentang apa saja, kadang sambil bermain catur. Njoto terkenal jago memainkan bidak. Dari obrolan ringan itulah meluncur perbincangan mengenai perkembangan seni di Indonesia. Mereka merasa Jakarta butuh lembaga kesenian yang ikut memberi andil bagi Indonesia yang masih belia. ”Ternyata dalam diskusi, muncul pemikiran yang lebih luas. Indonesia bukan hanya Jakarta. Jakarta bukan Indonesia. Tapi Indonesia ada Jakarta,” ujar Dharta.

Pada 17 Oktober 1950, atau beberapa bulan setelah penyerahan kedaulatan, didirikanlah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sejumlah sastrawan hadir dalam deklarasi Lekra itu. Sikap berkesenian mereka dituangkan dalam Mukadimah. Njoto pembuat konsepnya.

”Lekra membantu aktif perombakan sisa-sisa ’kebudayaan’ penjajahan yang mewariskan kebodohan, rasa rendah, dan watak lemah pada bangsa kita. Lekra menerima dengan kritis peninggalan-peninggalan nenek moyang, juga hasil-hasil ciptaan klasik dan batu dari bangsa lain, menuju ke penciptaan kebudayaan yang nasional dan ilmiah. Lekra juga mendorong inisiatif dan keberanian kreatif, menyetujui setiap bentuk, gaya, dan sebagainya, selama ia setia kepada kebenaran dan selama ia mengusahakan keindahan artisitik yang setinggi-tingginya.”

”Lekra menolak sifat antikemanusiaan dan antisosial dari kebudayaan bukan rakyat, menolak perkosaan terhadap kebenaran dan nilai-nilai kebenaran. Lekra bekerja untuk membentuk manusia baru yang memiliki segala kemampuan untuk memajukan dirinya dalam perkembangan kepribadian yang bersegi banyak dan harmonis. Lekra berpendapat bahwa secara tegas berpihak pada rakyat dan mengabdi kepada rakyat adalah satu-satunya jalan mencapai hasil yang tahan uji dan tahan waktu.”

Menurut Lekra dalam Menjambut Kongres Kebudajaan Bandung, 6-11 Oktober 1951, Lekra didirikan setelah kurang lebih 15 orang peminat dan pekerja kebudayaan di Indonesia menerima Mukadimah dan konsepsi Lekra. Sekretariat Pusat Lekra terdiri dari A.S. Dharta, M.S. Azhar, dan Herman Arjuno, masing-masing sekretaris I, II, dan III. Henk Ngantung, Njoto, dan Joebaar Ajoeb menjadi anggota. Aktivitasnya meliputi seksi sastra, seni rupa, seni suara, seni drama, film, filsafat, dan olahraga. Majalah Lekra diterbitkan tiap minggu: Zaman Baroe, kantornya di Surabaya tapi belakangan pindah ke Jakarta. Redaksi diisi oleh Iramani (Njoto), Klara Akustia (A.S. Dharta), dan M.S. Azhar.

Tak dinyana, meski tanpa sistem keanggotaan, dengan cepat cabang-cabang Lekra berdiri di sejumlah daerah. Tak jelas berapa jumlah anggota Lekra. Pram, pada 1963, pernah menyebut angka lebih seratus pekerja kebudayaan. Setahun kemudian, DN Aidit mengklaim hampir setengah juta orang, malah ribuan bahkan jutaan orang ambil bagian dalam mengembangkan Lekra.

”Itu bukti bahwa zaman membutuhkan. Bukti bahwa kita punya understanding terus-menerus. Organisasinya terus-menerus dimodernkan, diefisienkan, supaya yang di bawah pegang kendali,” ujar Dharta.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Stephen Miller, pengajar bahasa Indonesia di University of New England, menyebut Lekra sebagai fenomena unik dalam sejarah dunia. ”Berdasarkan penelitian saya, cukup jelas bahwa Lekra berkembang karena cara membangunnya sangat organik dan sesuai kondisi lokal,” ujarnya. Stephen Miller saat ini sedang melakukan riset tentang Lekra untuk tesis doktoral di Australian National University.

Tapi gerakan itu langsung habis begitu Soeharto melancarkan ”gerakan pembersihan”. Lekra dianggap sebagai onderbouw Partai Komunis Indonesia, partai yang disalahkan atas peristiwa pembunuhan para jenderal. Para aktivitasnya dipenjara dan sebagian dibuang ke Pulau Buru tanpa proses pengadilan.



SEMASA saya remaja, Lekra adalah nama yang asing di telinga. Saat ini pun nama itu pun tidak begitu dikenal masyarakat. Orde Baru dibangun dengan propaganda dan pembelokan sejarah untuk melegitimasi kekuasaan. Penggambaran Lekra sebagai bagian dari PKI begitu melekat. Dan salah satu gambaran itu yang sangat berhasil, menurut saya, adalah keluarnya buku Prahara Budaya karya DS Moeljanto dan Taufik Ismail.

Di masa itu, ketika akses informasi terbatas dan sejarah tandingan bukanlah makanan yang mudah ditemukan, saya sendiri terheran-heran membaca buku itu. Kedua penulisnya berhasil menggambarkan kekejaman seniman-seniman Lekra. Kasar. Main sikat. Tukang berangus. Setelah Orde Baru runtuh, gambaran itu memudar, menjadi simpati yang luar biasa. Dan ikonnya adalah Pramudya Ananta Toer, novelis tetralogi Bumi Manusia yang karyanya berkali-kali diberangus pemerintah.

Tapi tahun belum berakhir. Gambaran itu masih melekat di benak sejumlah orang. Mereka juga masih mengaitkan Lekra dengan PKI.

Stephen Miller tak bisa menerima gambaran Lekra sebagai alat PKI. Alasannya, hubungan antara gerakan komunis dan Lekra tak mungkin jalan seperti yang digambarkan selama ini. Miller mengatakan, Lekra muncul begitu saja atas inisiatif pemimpin PKI. Tapi banyak orang yang ikut Lekra di masa awal sudah punya basis sebelumnya. Mereka sudah aktif di sanggar-sanggar seperti Sanggar Pelukis Rakyat dan Sanggar Seniman Indonesia Merdeka (SIM) atau punya kedudukan dalam masyarakat. Lekra hanya semacam badan koordinasi yang mengembangkan organisasi dan kegiatan tersebut.

Lekra bekerja sama dengan organisasi lain, misalnya serikat-serikat buruh dan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Lekra juga membangun organisasi-organisasi baru yang kemudian berkembang sealiran dengan Lekra, misalnya badan nasional untuk pemain ketoprak dan Sarbufis (Sarekat Buruh Film Indonesia). Perhatian pun datang dari tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Presiden Soekarno. Soekarno sering datang ke pameran Lekra, atau membuka acara-acara resmi Lekra. Seniman dan sanggar Lekra memenangi kontrak-kontrak seni dari negara.

Keberhasilan Lekra mengilhami kelahiran lembaga-lembaga lain: Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi), Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi), dan lain-lain.

Keith Foulcher, dalam risetnya Social Commitment in Literature and Arts, idem dito. Menurutnya Lekra bukanlah alat PKI, tapi sealiran (politik) dengan PKI. Penggambaran Lekra sebagai “alat” PKI, menurut Foulcher, mengada-ada karena seakan-akan ada jalur komando dari Moskow dan Peking melalui Politbiro PKI, lalu ke Pimpinan Pusat Lekra, sampai ke basis keseniannya. Gambaran macam begini tak mungkin terjadi dalam organ sukarela seperti Lekra yang tak punya keanggotaan yang terikat, misalnya dengan kartu anggota atau iuran wajib. Fungsi Lekra di sini lebih pada jaring penghubung antara organ budaya satu dengan yang lainnya dan sekaligus mesin melek politik revolusioner.

Hubungan keduanya mungkin lebih tepat diistilahkan sebagai “keluarga komunis” –meminjam Saskia Elonara Wieringa, penulis buku Penghancuran Gerakan Perempuan. Istilah itu menggambarkan hubungan lentur ketimbang hubungan organisatoris dalam menunjukkan relasi PKI dengan organ-organ konsestannya.

Dalam temu kangen ini, para seniman Lekra juga menolak gambaran itu. Mereka berpendapat Lekra juga tidak satu. Hubungan PKI dan Lekra, juga Gerwani dan Pemuda Rakyat, seperti minyak dan air. Tak bisa bersatu. Dan ini belakangan menjadi masalah bagi Dipo Nusantara Aidit. Ia ingin menjadikan Lekra sebagai organisasi resmi di bawah PKI.

Menurut Joebaar Ajoeb dalam memoarnya Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia, menjelang akhir 1964, gagasan itu disampaikan kepada sejumlah anggota Pimpinan Pusat Lekra. “Jika Lekra setuju pada gagasan itu, yang praktis mem-PKI-kan Lekra, maka hal itu akan diumumkan secara formal. Tapi Lekra menolak gagasan itu. Bahkan Njoto, anggota Sekretariat Pusat Lekra yang juga wakil ketua II CC PKI, ikut dalam penolakan itu,” ujar Ajoeb.

“Kami di Lekra menolak. Saya juga menolak, karena tidak bisa, misalnya, seorang Pram diperintah menjadi merah,” ujar Oey Hay Djoen dalam Tuan Tanah Kawin Muda.

Dan yang hendak dimerahkan bukan saja Lekra, tapi juga lembaga lain seperti Gerwani dan Pemuda Rakyat. Karena tak berhasil, PKI membuat organisasi sendiri: Gerakan Wanita Komunis (Gerwis) dan Pemuda Komunis. Sementara di bidang kebudayaan, PKI membuat KSSR. Mereka juga memiliki media sendiri: Kebudayaan Rakjat.

Upaya Aidit dilakukan antara lain melalui rapat Pleno II CC PKI pada 1963. Salah satu resolusinya adalah Konferensi Nasional Sastra dan Seni, yang akhirnya diadakan pada 27 Agustus hingga 2 September 1964 –dengan nama Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR).

Dalam referetnya, “Dengan Sastra dan Seni yang Berkepribadian Nasional Mengabdi Buruh, Tani, dan Prajurit”, Aidit mengulang apa yang pernah dikatakannya. “Pekerjaan politik adalah otaknya partai, sedang sastra dan seni adalah hatinya partai. Orang komunis adalah manusia yang mempunyai otak dan hati yang terbaik. Oleh karenanya kaum komunis tidak menarik garis pemisah antara kerja politik dengan kerja kebudayaan.”

Setelah diskusi dengan partisipan, referat Aidit diadopsi sebagai program aktivitas kebudayaan revolusioner. Konferensi juga mendeklarasikan bahwa “Sastra dan seni harus diintegrasikan dengan tugas-tugas politik yang kongkret.”

Sejak itu, menurut Keith Foulcher, KSSR dijunjung tinggi sebagai pedoman semua kebijakan kebudayaan Lekra. Sekjen Lekra Joebaar Ajoeb membuat serial artikel yang diadopsi dari ceramahnya dengan judul “Mengapa dan Bagaimana Mengabdikan Kebudayaan kepada Buruh, Tani, dan Prajurit”. Judul itu mengindikasikan bahwa setelah KSSR, bukan saja formula “buruh, tani, dan prajurit” ditinggikan, tapi juga merefleksikan petunjuk dan ketentuan dari Aidit yang disebut “integrasi” dimulai. Sekalipun seringkali “integrasi” itu sendiri menjadi masalah dalam tubuh Lekra sendiri.

Setahun kemudian, peringatan 1 tahun Konferensi diadakan meriah dengan seminar yang menghadirkan sejumlah figur penting Lekra. Media Lekra melaporkan antusiasme atas keberhasilan perkembangan terarah dalam seni revolusioner, khususnya dalam hubungannya dengan aktivitas “turun ke bawah” (Turba). Bagi Keith Foulcher, kenyataan ini menunjukkan bahwa KSSR dan Lekra sama-sama peduli terhadap perkembangan seni dan kebudayaan Indonesia. Tapi tidak ada indikasi bahwa perjuangan itu mengambil tempat dalam kerja politik yang lebih luas saat itu, juga mengancam posisi Lekra.

Meski KSSR itu sendiri sering dianggap sebagai “cacat” dalam sejarah Lekra, tak ada “pertarungan” antara KSSR dan Lekra hingga meletus 30 September 1965. Tak terbayangkan bahwa peristiwa itu akan menjadi tahun yang tak pernah berakhir. Dan “cacat” itu, meski tak banyak diketahui orang, menjadi pembenaran sejarah versi pemerintah.



TAK satu pun para seniman, yang bertemu kangen ini, membicarakan pengalaman kelam mereka setelah 30 September 1965: ditangkap, disiksa, dibuang, dipenjara tanpa proses pengadilan. Mereka lebih banyak bercerita tentang proses penciptaan. Lalu masing-masing saling melengkapi metode penciptaan Lekra, yang dikenal dengan asas 1-5-1: kegiatan meluas dan kegiatan meninggi, tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individu dan kearifan massa, serta realisme sosialis dan romantik revolusioner.

“Kalau ada seniman Lekra tidak punya wajah 1-5-1, maka ia telah ditinggalkan,” ujar Amrus Natalsya, pelukis dengan teknik cukilan kayu, anggota Sanggar Bumi Tarung.

“Saya tak peduli 1-5-1. Pokoknya saya menulis dan saya pikir (hasilnya) sesuai dengan 1-5-1,” ujar penulis cerita pendek Martin Aleida.

“Satu-satunya lembaga yang membuat metode penciptaan adalah Lekra,” ujar Putu Oka.

Temu kangen berakhir.

Bagi saya sendiri, sejarah Lekra tetap tak bisa diabaikan dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia. Pada akhirnya gajah-gajah itu hanya akan meninggalkan gading. Generasi Saut dan saya mungkin tak akan menemukan kebenaran tunggal mengenai posisi Lekra dan lembaga kebudayaan lainnya. Tapi sudah semestinya, seperti dalam permainan pinsut, semut selalu menang melawan gajah. Generasi sekarang harus membuat sejarahnya sendiri.*

Read More......