Wednesday, February 07, 2007

Pulang (2)

BAPAK benar-benar pulang.

Dia sudah sampai di rumah. Dia tidak lagi menempati kamarnya yang penuh dengan buku. Dia kini menempati ruangan yang selama ini kosong. Dari jendelanya mengalir udara sejuk pegunungan, gemericik air sungai di belakang rumah. Sebuah tabung oksigen tegak berdiri di tepi ranjang. Bapak pasti senang.

Saya mendatangi bapak hari Jumat bersama Scott Schlossberg, Pamela, dan Alam. Mama bilang sudah menyiapkan durian untuk nanda. Scott juga suka. Hari itu, kata mama, bapak mogok bicara. Dia mau menghemat energi untuk bertemu saya dan Scott.

Scott mahasiswa S3 Department of South and Southeast Asian Studies Universitas Berkeley, Amerika Serikat. Dia sedang mengerjakan disertasi soal Lekra. Kami sudah berdiskusi ketika sama-sama menengok bapak di Rumah Sakit UKI. Scott orang menyenangkan. Humoris. Pintar berbahasa Indonesia dan India. Saya suka berdiskusi dengannya. Tapi suara bapak sudah tak jelas lagi. Pelan. Nyaris tanpa suara. Sesekali saja mengumpulkan tenaga dan menyebut nama satu di antara kami. Bapak lebih banyak menggerakkan tangannya, memberi petunjuk apa yang diinginkannya. Lama-lama kami mengerti bahasa isyarat bapak.

Scott hanya menginap semalam, dan berjanji akan datang lagi.

Tiap saat kami bergantian menjaga bapak. Mengipasinya. Menggeser tubuhnya, membawanya ke toilet, atau memindahkannya ke kursi kesayangannya. Bapak suka memegang tangan kami erat-erat. Pasti bapak sedang menahan sakit. Kulit pinggulnya melepuh, kakinya membengkak. Bapak memang hanya bisa berbaring. Bapak juga kesulitan buang air.

“Budi… pangku.” Bapak mengulurkan kedua tangannya.

Saya menegakkan posisi duduknya. Mama bilang, bapak ingin pindah ke ranjang. Badan bapak terasa berat. Kami juga mesti pelan-pelan mengangkatnya.

Hari Selasa, Pamela, Alam, dan Ratih kembali ke Jakarta. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan. Saya memutuskan tidak mengajar kursus di Pantau, dan tentu tidak ikut rapat keesokan harinya. Saya tak mau mama sendiri.

Seharian itu saya mengetik di ruang tengah. Sesekali saya menengok kamar bapak, membantu mama dan Ibu Komariyah. Tapi malam itu semuanya lelah. Suara pengajian terdengar dari masjid terdekat. Saya sedang mengirimkan laporan pekerjaan lewat internet. Mamang yang menjaga bapak beranjak pulang. Saya bergegas ke kamar. Mama dan Ibu Komariyah tertidur.

Saya mendekati ranjang bapak. Tangannya menggapai, dan saya memegangnya erat. Bapak tertidur sejenak. Nafasnya terdengar keras, menggapai oksigen yang mungkin bisa diraupnya. Tiba-tiba dia terbangun. Tangannya terangkat. Kedua jarinya menunjuk. Saya tahu, bapak menanyakan waktu.

“Jam empat…”

Bapak mengangguk pelan. Bapak mungkin sudah menentukan waktu terbaiknya.

Saya masih mengenggam tanganya. Dingin. Tapi nafasnya sudah mulai teratur. Pelan. Lalu bapak mengarahkan tangannya ke wajah. Saya tak tahu apa yang diinginkannya. Saya membangunkan mama, yang mengajaknya bicara. Ibu Komariyah yang tidur di sisi bapak juga terbangun. Waktu seolah berjalan cepat. Sekitar pukul 05.30 bapak menghembuskan nafas terakhir. Pelan. Lembut. Ibu Komariyah menangis. Mama histeris. Saya menahan tubuh mama.

Bapak benar-benar pulang. Persis saat fajar menyingsing, waktu yang sudah ia torehkan dalam sajaknya: "Rukmanda"

Rukmanda

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku

Sebutkan segala badai
kepahitan pembuangan
kerinduan pada kecapi
kesunyian malam sepi
kenangan pada Priangan
dan kelayuan dari menanti.

Aku yang telah menghitung
rangkaian detik
berpuluh tahun
aku serahkan segala
pada pesta perlawanan
selama ini jiwa remaja
setiap detak nafas nyawaku
dan kala ini juga diminta
aku nyanyikan “bangunlah kaum terhina”

Aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku.

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku
tapi sebutkan juga kesetiaan
kegairahan dan kepahlawanan
itulah aku!


Sajak ini ditulisnya pada 1954. Saya suka sajak ini. Banyak orang lain juga mengaguminya. Saat teman-temannya dipenjara, sajak ini pula yang memberi mereka semangat.

Bapak telah pulang, tapi semangatnya akan tetap di hati siapapun yang mengenalnya.*

7 comments:

udin said...

alo mas, catatan yang menarik. hebat juga ya bapak sampeyan. dia pasti punya banyak cerita.

dulu saya juga sering diceritai simbah saya. bagaimana riuhnya waktu lagu "genjer-genjer"dinyanyikan keliling kota.

btw, saya juga tuh puisi bapak sampeyan itu. gagah berani!

BUDI SETIYONO said...

Terima kasih. Tapi meski sudah hampir setahun ini bersama bapak, saya merasa telah menyia-nyiakan waktu bersamanya. Diskusi kami belum tuntas. Mungkin lewat karya-karyanya dan juga wawancara dengan sejumlah sejawatnya akan menutupinya. Saat ini saya masih mengumpulkannya, dan kelak berharap bisa menerbitkannya.

Aulia said...

set, ceritamu kurang lengkap. Sewaktu bapak menghembuskan napas terakhir, siapa saja yang berada di sampingnya?

Sebelumnya, waktu pukul empat, engkau yang menemaninya. Mama dan Ibu Komariyah masih tertidur saat itu. Kelelahan. Apakah kau yang membangunkan mereka untuk menemani saat terakhir Bapak?

(salam dari eko)

BUDI SETIYONO said...

Aul, yang pasti aku membangunkan mereka dong. Tapi aku perbaiki deh. Salam buat Eko

Anonymous said...

bg buset aku bacanya nangis. untungnya gak ada yang liat.hehehehe....
dalem banget.
bapaknya pasti org yg gak mudah nyerah walau dalam keadaan sakit, tetap semangat. salut deh!
kuat ya bang! seperti bapaknya bilang harus tabah!:)heni.

Elsa said...

Stunning!!!
keren banget!!!

BUDI SETIYONO said...

Thanks Elsa.