Monday, September 02, 2002

Generasi Biru

LELAKI ini menatap layar kaca. Tapi, tangannya merayap ke rambutnya yang bergelombang, menariknya sejumput dan menyasaknya dengan sisir khusus dari akar hingga ujung rambut, berulang-ulang. Setelah itu, ia memilin-milin rambutnya, segumpal demi segumpal, sampai telapak tangan terasa kapalan dan lecet-lecet. Ketika diurai kembali, rambutnya pun lebih mengembang.

Kini ia mulai merajut helai-helai rambut itu dengan jarum happen. Tapi, pekerjaan ini tak gampang. Kerap ia harus merapikan kembali rajutan rambutnya yang terburai. Proses tersebut memakan waktu dua sampai tiga jam. Setiap hari ia melakukan ini. Namun, pengorbanannya tak seberapa dibanding rasa bangga.

Di jalanan ia bisa tersenyum puas karena tatapan ragu orang-orang dan sahutan teman-temannya, “Ka … Kaka ...!”

Rambut gimbal itu bersepuh coklat di sana-sini. Di atas dahi pemiliknya melingkar bandana ungu dan sebuah kacamata hitam ikut bertengker di kepala. Dandanannya ala junkies; kaos ketat dan jins belel berlutut robek. Sebuah anting tergantung di lubang hidung kiri, dua di telinga kanan dan satu lagi di telinga kirinya. Ia persis Kaka, vokalis Slank, grup musik anak muda ternama.

“Secara pribadi aku senang karakternya Kaka, dari style panggung sampai cara nyanyinya. Lain, yang pasti lain,” ujar Aris Virgiyanto, lelaki itu.

Selain menonton live show Slank, ia juga tak mau ketinggalan nonton penampilan kelompok musik itu di televisi.

“Aku nggak melihat lainnya, cuma lihat perfoma Kaka di panggung kayak apa? Jadi terfokus pada Kaka.”

Aris melakukan semua itu karena ia vokalis kelompok musik imitator Slank bernama Kandidat. Kandidat hanya membawakan lagu-lagu Slank. Selain Aris, personel lainnya adalah Fajar Raharjo (bas), Hendrik Cahyono (gitar), Bayu Ariyana (drum), dan Dana Purnama Dani (kibor). Mereka anak-anak muda yang terbius dengan kehadiran Slank sejak kali pertama melihatnya.

“Begitu melihat video klipnya di TVRI, aku langsung suka. Setelah itu penasaran, cari tahu. Dan ternyata setiap album, beda,” kata Aris.

“Saya suka slengekan asyik, rock n’ roll abis,” kata Hendrik.

“Jelas banget saya menganggap Slank berbeda dari band-band Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas antikemapanan, muda, berani, dan pintar. Mereka benar-benar sosok hero musik rock Indonesia buat saya dan buat banyak remaja lain. We all need a hero,” kata Fajar.

“Aku suka musiknya, slengekannya,” kata Dana.

“Yang menarik dari Slank adalah penampilannya. Asyik lah, cuek abis. Dan mereka bisa membikin fansnya … dia ngomong A ikut A, B ikut B. Mungkin kalau Slank bikin partai, pengikutnya banyak,” kata Bayu.

Kandidat mulai membawakan lagu-lagu Slank ketika tampil di “Tenda Okre”, sebuah acara yang digelar radio RCT 100,9 FM. Sambutan penonton, terutama Slankers, amat meriah. Penampilan pada 1996 itu menjadi pijakan awal Kandidat untuk menobatkan diri sebagai band Semarang Slankers.

Sejak itu Kandidat pun identik dengan Slank. Undangan pentas berdatangan, mulai dari kampus sampai kafe.

Kadung identik, beberapa personelnya mengikuti penampilan personel Slank. Bila Aris berusaha mirip Kaka, maka Bayu memilih Bimbim.

“Terus terang saya fanatik Slank, pertama sama orangnya, lirik nomor dua. Kalau Slank manggung di mana saja, saya selalu ikut, dan nonton harus di atas panggung. Dan kalau di atas panggung pasti yang saya lihat Bimbim, karena saya juga pegang drum,” kata Bayu.

“Bimbim orangnya cuek abis. Ngomongnya enak, enteng, blas blas blas. Trus permainannya tidak neko-neko. Standard tapi bisa enak banget, pas.”


ADALAH Bimbim yang menggeber musik Indonesia melalui Slank. Ia penggemar berat Rolling Stones. Lingkungannya juga penuh dengan penggemar grup musik asal Inggris itu. Ia lalu membentuk kelompok musik Cikini Stones Complex pada 1983 yang terdiri atas anak-anak sekolah menengah atas (SMA) Perguruan Cikini. Sesuai namanya, Cikini Stones Complex membawakan lagu-lagu The Rolling Stones.

“Yang gue lihat dari Rolling Stones, sesama penggemarnya punya rasa kekeluargaan yang kuat. Istilahnya begini. Preman Jakarta sama preman Bandung ketemu, mau berantem, tapi begitu ngobrol dan tahu sama-sama pengemar Rolling Stones, langsung damai, tenang,” kata Bimbim.

“Mereka orang Inggris. Amerika dengan American Dreams-nya, kebebasannya, demokrasinya, segala macem yang diomonginnya, ternyata ada orang Inggris, yang ternyata kalau gue lihat kebebasan dan demokrasinya lebih besar dari bangsa Amerika sendiri. Ada Rolling Stones yang ternyata lebih bebas, lebih freedom dari mimpi-mimpi yang dia ciptakan. Itu kekaguman gue,” lanjut Bimbim.

Anak muda tahun 1980-an sedang ditimpa siklus 20 tahunan. Kelompok musik era 60-an kembali populer, lengkap dengan atributnya.

Lama-kelamaan, hanya membawakan lagu Rolling Stones bikin Bimbim jengah. Ia ingin berekspresi lewat lagu sendiri. Bimbim sadar ia bukan tipe orang yang bisa omong. Ia cenderung tertutup, termasuk ketika menghadapi masalah. Dan lagu, baginya, menjadi sarana untuk berkomunikasi, curhat. Namun, keinginan Bimbim tak didukung teman-temannya.

Cikini Stones Complex pecah. Sebagian personelnya membentuk Cikini Metal Stones, sedang Bimbim membentuk Slank pada 26 Desember 1983, nama yang disesuaikan dengan gaya mereka yang slengekan (seenaknya).

Slank bermarkas di rumah orangtua Bimbim, pasangan Sidharta Soemarmo dan Iffet, di Gang Potlot, di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Slank ternyata tak sekadar kelompok musik, tapi juga mengilhami lahirnya sebuah komunitas. Rumah bernomor 14 yang diteduhi pepohonan itu mulai didatangi anak-anak muda yang getol musik tapi ogah sekolah, anak-anak muda yang hidup seenaknya. Mereka nongkrong, diskusi, main musik—kebetulan Bimbim punya studio musik yang disewakan, bahkan ada yang tidur di sana.

“Kita hanya anak muda yang menjalankan sesuatu dilarang sama orangtua. Pemain band itu dimusuhin orangtua yang punya anak cewek. Akhirnya kita kompak, karena kita musuh sama lingkungan,” ujar Bimbim.

Slank berkali-kali berubah formasi. Pada 1989 Parlin Burman alias Pay menggeser Bongky Ismail Marcel, yang sebelumnya memegang gitar. Bongky kemudian bermain bas, menggantikan Denny. Indra mengisi posisi yang ditinggalkan Adri pada kibor. Kaka, vokalis kelompok musik Lovina, dipinjam untuk mengisi tempat Welly yang kosong.

Slank manggung dari sekolah ke sekolah, dari pentas ke pentas, masih dengan membawakan lagu-lagu Van Hallen, White Snack, atau Guns N Roses. Namun, mereka juga mulai membuat lagu sendiri, dan mencoba rekaman. Uji coba dilakukan dengan ikut rekaman album kompilasi di studio Triple M, sebuah perusahaan rekaman di Jakarta. Mereka menggunakan nama lain, Rockin 96.

Kini mereka makin percaya diri, lalu menawarkan demo kaset ke TEAM Records. Tapi, perusahaan itu tak menghubungi mereka dan nasib lagu-lagu itu tak jelas. Suatu ketika, Boedi Soesatio dari Proyek Q, sebuah perusahaan rekaman di Jakarta, menelepon Indra. Soesatio teman Yudo Salmun, ayah Indra. Ia meminta demo lagu Slank. Bergegaslah para personel Slank ke kantor Soesatio di Jalan Biak.

Demo lagu diperdengarkan. Soesatio langsung kepincut. Ia melihat pasar sudah jenuh. Slank bisa menyegarkan.

Kelompok ini menyajikan perpaduan musik rock 'n roll, jazz, blues, reggae, dan balada. Semuanya dilebur menjadi satu warna musik khas Slank, yang masih terasa asing bagi banyak kalangan, di tengah blantika musik yang berpihak pada God Bless.

“Meski sama-sama rock ‘n roll dengan Rolling Stones, Slank lebih Indonesia. Kita masih ada beat-beat-nya, masih ada javanese rock ‘n roll, masih ada orkes rock ‘n roll,” ujar Bimbim.

Lirik dan tema yang Slank tawarkan pun amat akrab dengan lingkungan sehari-hari. Ada kritik, ada protes. Kebanyakan lagu yang berlirik kebebasan kurang lugas dan ekspresif. Soesatio melihat Slank bisa menjadi corong dan mewakili unek-unek anak muda. Mereka bakal menjadi gaya hidup.

Soesatio dan anggota Slank kemudian menyatukan pendapat, ''Kami bersepakat untuk tidak sepakat.''

Penggarapan album pun dimulai. Adu argumentasi acap terjadi setelah lagu selesai digarap. Lirik lagu yang dinilai agak jorok segera diganti, seperti lagu “Kupu-kupu Malamku” menjadi “Maafkan”.

Slogan Slank adalah anak muda yang slenge'an tapi punya sikap. Logo pun dibuat maskulin, yakni kupu-kupu besi dengan desain warna biru sebagai ikon.

Pada 1990, meluncurlah album perdana Slank bertajuk Suit Suit He..He.. (Gadis Sexy). Dengan pengungkapan yang lugas dan nyeleneh, Slank mengemas kehidupan anak muda dengan problematikanya. Lagu mereka mencerminkan pemikiran dan ketegasan sikap hidup, yang terbilang baru untuk ukuran anak muda Indonesia di masa Orde Baru. Ini selaras dengan penampilan mereka yang informal dan seenaknya.

Memang kantongku memang kering
Jangan menghina yang penting bukannya maling
Memang jaketku memang kotor
Jangan menghina yang penting bukan koruptor


Publik dan beberapa pengamat musik menyambut positif. Mereka dianugerahi penghargaan BASF Award untuk kategori Album Terlaris Kategori Musik Rock dan Pendatang Baru Terbaik.

Anugerah album terlaris kembali diraih lewat hit “Mawar Merah” pada album kedua Slank bertajuk Kampungan (1990). Di album ini warna Slank makin kental lewat lirik-lirik lagu yang menyoroti kehidupan sosial.

Kami butuh sedikit kebebasan
Kami butuh nafas panjang
Tanpa telanjangi harga diri orang
Hanya bicara soal kenyataan....


Slank juga bicara soal romantika cinta lewat “Mawar Merah” dan “Terlalu Manis”, bicara tentang “Aborsi”, atau impian tentang kehidupan di atas “Pulau Biru” yang indah bagai surga.

nggak ada hakim dan terdakwa jauh dari kriminal
nggak ada penjajah dan yang dijajah segala soal selesai dengan bicara
nggak perlu senjata nggak perlu berkhianat
nggak perlu curiga nggak perlu penjara
nggak ada penjahatnya
nggak perlu menyerang nggak perlu menentang
nggak perlu peperangan nggak perlu memakai kekerasan


Bahasa yang lugas, bahkan tak jarang nyerempet vulgar menyusup dalam lagu (“AN+~=+-‘~>”…”, atau anjing).

Slank menjadi figur dan panutan baru anak-anak muda. Sebagai konsekuensi popularitas itulah dibentuk Manajemen Artis dan Fans Club yang diberi nama Pulau Biru, seperti judul lagu dalam album kedua.

Manajemen Artis menangani musisi-musisi muda komunitas Potlot yang kemudian bermunculan, seperti Oppie Andaresta, Anang, Imanez, Kidnap, Andy Liani, dan sebagainya. Fans Club menjadi sarana berkomunikasi dengan para penggemar Slank, yang antara lain berbentuk Bulletin Pulaubiru dan membuka 24 jam Gang Potlot untuk dikunjungi siapa saja.

Rumah di Gang Potlot itu ramai penggemar Slank atau disebut Slankers. Mereka berasal dari Jakarta maupun berbagai daerah di luar Jakarta. Ada yang sekadar kongkow dan numpang tidur. Ada pula yang sengaja melihat aktivitas idola mereka dari jarak dekat.

Para slankers meniru telak penampilan personel Slank. Mereka berkaos ketat yang menggantung di atas pusar, menyelipkan dompet di saku belakang yang terikat rantai ke pinggang, dan mengenakan kalung berleontin logo Slank berbentuk kupu-kupu. Mereka juga saling mengucapkan salam “Piss”—kata yang diadopsi dari bahasa Inggris “peace” sambil menudingkan dua jari yang membentuk huruf ''V''.

Atribut-atribut yang melambangkan sikap antikemapanan itu pernah dicetuskan kaum hippies (flower generation) ketika menentang intervensi negara adikuasa Amerika Serikat dalam Perang Vietnam pada 1960-an. Situasi pascademonstrasi besar menentang kekuasaan Presiden Charles de Gaulle di Prancis pada Mei 1968 turut pula mempengaruhi lahirnya sikap antikemapanan di kalangan anak-anak muda Eropa. Kelompok musik macam The Doors, Sex Pistols, Deep Purple, maupun The Beatles, kemudian menularkan gerakan antikemapanan ini lewat lagu-lagu mereka ke seluruh dunia, bahkan kemudian bereksperimen dengan seks bebas dan obat-obatan terlarang, dari morfin sampai mariyuana.


PUKUL 10.00, di panggung timur Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang. Personel Kandidat sudah berkumpul di belakang panggung. Mereka menjadi bintang tamu dalam acara bertajuk “Say No To Drugs.” Hanya Bayu yang belum datang. Aris, Hendrik, Fajar, dan Dana menunggu gelisah.

Ah, lega. Bayu akhirnya datang juga. Badannya berkeringat. Ia mengunyah permen karet. Mukanya tampak kencang sekali. Tegang. Teman-teman bisa menebak Bayu lagi high. Tapi Bayu tak mengaku dan mengatakan sudah siap main.

Mereka naik panggung. Lagu “Nagih Janji” mengalir. Penonton begitu antusias. Personel Kandidat makin bersemangat.

Janji …..
Bukan yang tong kosong yang nyaring bunyinya
Bukan cuma ngecap udah lewat
Good bye …….

Janji …..
Bersih-bersihan sampai benar-benar bersih
Bikin angkat topi bukan takut nanti tersisih

NAGIH JANJI !! 3x …… NAGIH !!! 4x


Selepas reffrain pertama, begitu musik berhenti empat ketukan, gebukan drum Bayu tak kedengaran lagi. Teman-temannya menengok ke arah Bayu. Mereka mengira ia lupa urutan lagu.

Ketika itu, Bayu sudah terjengkang dari kursi drum. Teman-temannya spontan meletakkan peralatan musik, lalu berlari ke arah Bayu.

Bayu kejang. Mulutnya megap-megap. Semua panitia berkerumun. Suasana jadi gaduh.

"Drummernya kesetrum!"

"Epilepsi nih!"

Fajar memegang mulut Bayu. Ia tak ingin Bayu menggigit lidahnya sendiri, karena giginya terus bergemeletuk, tak terkontrol. Bayu diangkat ke belakang. Kecemasan bergelayut di benak personel Kandidat.

Manajer Kandidat datang dengan mobil, sementara personel Kandidat segera memindahkan Bayu. Di jalan mereka ribut. Wisnu ingin Bayu langsung dibawa ke rumah sakit. Hendrik tak setuju. Ia takut orangtua Bayu mengetahui keadaan anak mereka yang sebenarnya.

Hendrik pun bercerita kejadian semalam saat ia bersama Bayu berkumpul dengan dengan teman-teman dari kelompok musik lain di sebuah hotel. Di sana mereka begadang sampai pagi, menikmati shabu-shabu. Dan pagi ini, Bayu mau meningkatkan efek shabu-shabunya dengan putaw.

Bayu masih kejang dengan gerakan seperti memukul drum, termasuk gerakan kakinya. Fajar terus memegangi rahang Bayu yang tak berhenti bergerak.

Mereka memutuskan kembali ke studio. Bayu dibaringkan di karpet studio. Udara terasa dingin. Gerakan badan Bayu mulai berkurang, tapi ia masih kejang. Gigi-giginya masih bergemeletuk. Teman-temannya berusaha membangunkannya.

Tengah hari Bayu siuman. Matanya mulai berkedip. Mulutnya membuka.

"Ini lagu keberapa?" katanya

Semua tertawa.

Bayu lantas berdiri dan keluar ruangan. Ia langsung disambut teriakan Slankers yang setia menunggu di luar studio, "Huweeee..."

Dua jam kemudian, dengan mengendarai sepeda motor, mereka berkonvoi ke Yogyakarta. Slank mau manggung di sana.

“Sebelum tahu Slank pake, saya memang sudah nakal. Waktu itu aku mikirnya senang tok. Begitu Slank make, aku merasa ada kesamaan,” kata Bayu.

Di Kandidat Fajar dan Hendrik juga suka mabok, sementara Aris dan Dana bersih. Namun hanya Bayu yang kecanduan berat. Ia sempat menjalani rehabilitasi, tapi tak berhasil. Ia masih bisa mendapatkan pasokan putaw dari bandar yang menempelkan barang itu dengan Handyplast di dinding kakus. Bayu lalu pura-pura ke kakus untuk mengambilnya.

“Mungkin karena identik. Kalau bawain lagu Slank pake itu, rasanya enak. Kalau aku main pas pake itu, aku merasa diri sebagai Slank,” kata Bayu.


BALI, 1993. Di sebuah bungalow di kawan Kuta. Usai pentas, Bimbim, Kaka, dan Bongky mendapat tawaran barang dari seorang teman, bubuk berwarna putih yang bisa memberi sensasi hebat. Ini putaw. Tapi, mereka tak tahu. Selama ini mereka hanya menikmati minuman keras serta mengisap ganja. Barang-barang itu telah menjadi bagian dari gaya hidup dan alat pemacu kreativitas.

Ketiganya bersedia mencoba putaw. Hasilnya, mereka muntah-muntah dan tak merasakan sensasi apa pun. Mereka terus mencoba, karena penasaran. Sampai di Jakarta, badan mereka terasa tak enak. Sakit. Sakau. Ketagihan. Untuk menghilangkannya mereka harus mengonsumsi barang itu lagi. “Kita terlalu bebas, terlalu bereksperimen, mencari jati diri, mencari pemikiran baru, akhirnya kita mencoba yang beda. Drugs juga merupakan simbol protes juga sih; terhadap kemapanan, terhadap orangtua, terhadap feodalisme, terhadap kekuasaan, yang kita anggap nggak bener,” ujar Bimbim.

Eksperimen acap dilakukan dan mereka menemukan rasa yang berbeda. Bikin lagu pakai minuman keras dan cimeng jelas lain, baik suasana maupun rasa.

“Rasanya kalau ketika make itu sama aja. Ya nggak tahu ya. Kalau gue sih setiap hari mikirin bikin lagu, mikirin kesenian, mikirin karya, mikirin Indonesia, begitu aja. Sebenarnya itu dopping,” kata Bimbim.

“Kalau gue bilang memang reaksi kimia yang membuat kita jadi apa sih… percaya diri,” ujar Kaka.

Bongky tidak seperti Bimbim dan Kaka. Ia tak kecanduan. Baginya, kalau sudah bikin badan sakit, ogah. Ia melakukannya untuk alasan mencari fenomena ke dimensi lain, ke dimensi bawah sadar, yang di alam sadar tak ia temukan.

“Dan ketemu. Ada sisi lain, ada kepribadian lain dari gue, pola pandang lain dari kaca mata itu, dalam melihat suatu masalah. Cuma, soal objektif atau tidak itu bukan prinsip,” ujarnya.

Barang baru itu kemudian menjadi barang biasa di Potlot. Pemakaiannya merambat ke personel Slank yang lain. Bahkan hampir semua orang di komunitas Potlot terkena wabah ini. Perlahan, markas Slank dipenuhi pemakai dan bandar narkoba.

Pay kali pertama kenal putaw di Yogyakarta. Usai manggung, iseng-iseng ia mencobanya. Ia muntah. Lama-lama ia menemukan asyiknya, dan ketagihan. Sehari tak ketemu putaw, ia sakau. Ia jadi orang sakit. Pakai putaw, jadi normal.

“Kita jadi terpatok di satu arah, padahal kita tuh punya pilihan. Namanya manusia, sudut-sudut di hati kita kan banyak. Ada yang fun, gembira, yang ini. Kalau kita pakai drugs itu satu sudut yang dalam aja. Karena suasananya begitu. Orang, kalau tidur aja gue mimpinya pantai, tapi hitam,” ujar Pay.

Indra terkena belakangan. Ia mencobanya dan muntah. Tapi melihat teman-temannya begitu menikmati, ia jadi penasaran. Indra mencoba terus selama satu minggu. Lama-lama terbiasa dan tak muntah lagi.

“Kalau pas lagi kena begituan sih, main keyboard, bikin lagu, enak aja,” kata Indra.

Pada tahun-tahun pertama mereka menikmati kegemaran ini. Asyik. Kreatif. Mereka bahkan melempar album ketiga Piss (1993). Dalam album ini Slank masih bicara tentang kehidupan masyarakat, dan berharap pemikiran mereka bisa menjadi salah satu jalan keluar, seperti lagu “Piss”, “Main Monopoli”, “Korban Tradisi”, dan “Cekal”.

Cekal dicekal
Kritik beda pendapat
Cekal dicekal
Dianggap biang rusuh
Kami juga punya ide
Kalian juga punya ide
Musyawarah mufakat
Musyawarah untuk mufakat (bener nggak?)


Tanggapan dari kalangan intelektual pun muncul. Slank diundang melakukan pertunjukkan musik atau diskusi sosial. Album Piss kembali meraih BASF Award sebagai Album Terlaris 1993/1994 untuk Kategori Rock Alternatif dengan hits “Mau Beli Tidur” dan “Kirim Aku Bunga”.

Pencarian bentuk Slank dalam bermusik akhirnya sampai pada album keempat Generasi Biru (1994), yang diproduksi Piss Record, perusahaan rekaman milik Slank. Kritik mereka makin tajam. Tentang birokrasi (“Birokrasi Complex”), tentang pencemaran lingkungan (“Nggak Perawan Lagi”), dan tentang “Feodalisme (Warisan Kompeni)”. Mereka juga berteriak lantang, “Hey … Bung” kepada kelompok elite politik agar coba turun ke jalan. Mereka juga memimpikan hidup enak cuma tidur-tiduran (“Blues Males”).

Dan generasi biru, yang juga dijadikan judul album dan lagu, menjadi kristalisasi sikap dan pandangan hidup mereka.

Aku nggak mau di rekayasa
Aku ingin berpikir merdeka
Jangan coba-coba untuk memaksa
Karna aku Generasi Biru


“Kita bilang kita generasi biru karena kita ingin berpikiran bebas sama dalam, seperti luasnya biru langit dan seperti dalamnya biru lautan. Karena kita open mind. Kita harus open mind sama zaman, sama keadaan. Karena kita nggak bisa berpatokan hidup dengan satu cara, tradisi, karena zaman pasti berubah,” ujar Bimbim.

Album ini meraih penghargaan dari BASF Award 1994/1995 dengan predikat Double Platinum Album Category, yakni album penjualan terlaris sepanjang 1994/1995 untuk semua kategori musik.

Setahun kemudian Slank meluncurkan album kelima, Minoritas (1995) dengan hits “Bang-bang Tut”. Ciri khas Slank belum juga hilang. Mereka menyentil remaja untuk sekolah (“Tut Wuri Handayani”). Mereka juga memimpikan—meski nggak mungkin nggak mungkin / semua itu terjadi, “Pak Tani” yang punya laser disc, televisi berwarna, rumah dengan alarm pengaman, dan mobil BMW.

Tapi, personel Slank makin terpuruk dalam pengaruh putaw. Putaw mulai mengganggu proses berkesenian mereka. Jadwal latihan bisa berantakan karena harus mencari barang. Proses rekaman kacau. Kalaupun barang ada atau didapat, latihan tetap berantakan lantaran masing-masing sibuk dengan mimpi-mimpinya. Hanya beberapa saat saja, ketika sober (merasa segar), mereka mulai bekerja dengan penuh percaya diri. Apa saja yang mereka lakukan terasa menyenangkan. Mereka telah menciptakan dunia mereka sendiri, dunia yang bagi mereka normal, tapi tidak bagi orang normal.

Bimbim dan teman-temannya sudah jadi pemadat berat. Putaw pun mengacaukan sistem kerja otak dan perasaan mereka. Mereka jadi tertutup, cepat tersinggung, gampang marah, dan curiga. Mereka mengidap paranoia. Keadaan ini membuat komunikasi antarpersonel jadi mis, pembicaraan jadi tak nyambung. Bongky merasakan betapa komunikasi tak berjalan.

Perselisihan pun muncul, bersumber dari hal-hal kecil. Hanya karena tak berbagi putaw, mereka bisa saling curiga, bahkan bertengkar. Suatu ketika Indra tak membawa persediaan putaw yang cukup ketika manggung di Medan. Badannya terasa sakit. Mencari putaw di Medan bukan perkara gampang, bahkan mungkin tak ada. Ia pun meminta pada teman-temannya, tapi dijawab lagi tak ada. Ia sakit hati. “Pelit amat sih. Ntar gua bales lu,” pikirnya.

Ia manggung dengan menahan sakit.

Kecurigaan juga bisa muncul karena soal pembagian honor. Kesibukan Bongky, Indra, dan Pay di luar Slank pun memicu perselisihan, bahkan soal perempuan.

Puncaknya, Bimbim menandatangani surat pemecatan untuk Pay, Indra, dan Bongky. Alasannya, visi ketiganya sudah melenceng dari visi Slank.

“Ini lebih karena prinsip, jalan hidup yang mau kita tuju. Di Slank itu solidaritas nomor satu, sosialis lebih tinggi, rasa sama rata sama rasa. Tapi gue lihat yang tiga ini udah mulai hidup dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Udah sibuk bermain musik bukan hanya untuk mengekspresikan diri, tapi udah untuk mencari tambang emas. Hal-hal seperti itu yang bagi kita kemapanan itu, kita coba hindarin,” kilah Bimbim.

Surat pemecatan itu mengagetkan Bongky, Indra, dan Pay. Mereka sakit hati. Mereka tak pernah diajak membicarakan masalah sebenarnya. Alasan pemecatan karena kesibukan di luar tak bisa mereka terima. Sesibuk apapun, kalau mau rekaman, mereka akan menyiapkan waktu.

Ketika itu, Piss Record meminta personel Slank segera masuk dapur rekaman, karena Slank terikat kontrak dengan distributor kaset rekaman PT Virgo Ramayana. Namun karena pengaruh drugs, permintaan itu belum terkabulkan.

Bongky sudah menyarankan kepada Bimbim agar menvakumkan Slank selama setahun untuk proses rehabilitasi seminggu sebelumnya. Tapi, saran itu tak diterima.

Bagi Bongky, Pay, dan Indra, urusan kontrak itu bisa ditangguhkan atau bicarakan ulang. Toh sejak album Generasi Biru, Slank memproduseri sendiri album rekamannya di bawah manajemen Pulau Biru Productions, pengganti Pulau Biru Management.

“Dalam hati gue marah. Basicnya kita main band itu bukan untuk bisnis. Kita ngomong profesional tapi tidak profesional lagi, karena mabuknya udah kebanyakan,” kata Bongky.

“Bimbim itu kan di leader. Dulu gue berantem ama Indra aja yang menengahi Bimbim. Cuma dia juga lagi kacau. Dia juga sensi. Orang yang diharapkan mengeluarkan kita dari masalah itu malah berpikiran pendek dengan bubarin. Kan bisa ditunda dulu, nunggu anak-anak sembuh,” kata Pay.

“Nggak jelas Bimbim ngeluar-ngeluarin. Udah, gua pikir, ‘Wah pada mabok’. Gua beresin alat-alat gua, cabut. Tapi gua pikir bagus juga. Memang kondisinya begitu. Drugs sudah klimaks banget di Potlot. Kalau gua lihat memang dia musti bubarin Slank dulu. Kalau nggak, itu jadi ancur, masing-masing urusannya nge-drugs. Kita sudah perlu merehabilitasi diri,” kata Indra.

Upaya penyelesaian pun dilakukan. Pay berusaha menemui Bimbim, tapi tak bisa bertemu. Begitu pula yang lainnya.

Ketiganya mencoba menggunakan jalur hukum. Bagaimana pun ketiganya punya saham di Pulau Biru Production yang sudah menjadi perseroan terbatas. Namun mereka akhirnya mengurungkan niat itu. (Kelak, ketiganya, terutama Pay dan Indra, masih terbelit narkoba, bahkan sampai menjual peralatan-peralatan musik dan studio mereka. Pada awal 2000, setelah merehabilitasi diri, ketiganya bersama Irang dan Jaka membentuk kelompok musik BIP dengan lagu-lagu yang mengingatkan orang pada warna musik Slank lama.)

Pada masa transisi, dibantu dua musisi pendukung, Reynold (gitar) dan Ivan Kurniawan Arifin atau Ivanka (bas), Slank meliris album Lagi Sedih (1996) dengan hits “Tonk Kosong” dan “Foto dalam Dompetmu”. Sejak album ini Piss Records berubah menjadi Slank Records. Warna musik Slank memang berubah, tapi lirik tetap tajam-menyengat karena Bimbim lah yang selama ini mewarnai lirik lagu-lagu Slank.


UNTUK kali kedua personel Kandidat mendatangi Potlot. Tujuannya untuk menagih janji kepada Budi Susetio, eks manager Slank. Tahun sebelumnya, demo kaset yang mereka berikan ke Soesetio dianggap terlalu berwarna Slank. Soesetio lantas meminta personel Kandidat datang lagi tahun berikutnya dengan demo kaset yang punya ciri lain.

Album itu juga ditawarkan Pulau Biru Production yang membawahi Slank. Bimbim berpendapat sekitar tigapuluhan lagu dalam album itu berwarna Slank. Namun ia menyarankan agar Kandidat sesering mungkin datang ke Potlot untuk sharing, sebuah saran yang tak bisa diiyakan personel Kandidat yang kuliah dan tinggal di Semarang.

Berangkatlah personel Kandidat bersama manajer mereka, Wisnu Surya Saputra, dan seorang teman, Andi. Bermodalkan demo kaset berisi tujuh lagu bercorak alternatif, mereka berangkat naik kereta api Senja Utama. Dalam perjalanan mereka bercanda, dan memimpikan kesuksesan di depan mata, meski duit di kantong tipis.

Di Jakarta mereka langsung menuju kantor Budi Susetio. Namun mereka kecewa karena tak bertemu dengan Susteio. Mereka hanya ditemui asisten Susetio.

Orang tersebut sempat mendengarkan demo kaset itu, tapi tak bersedia mengambil keputusan. Personel Kandidat pun pulang sembari meninggalkan nomor telepon. Dari sana mereka pergi ke Potlot.

Sesampai di Potlot, begitu masuk gang, mereka berpapasan dengan Ivanka. Berebut, mereka salaman dengan gitaris Slank itu.

Mereka masuk pagar. Ada beberapa Slanker nongkrong. Ada juga Imanez, Kaka dan istrinya. Mereka pun berfoto bersama. Mereka pun berfoto bersama Kaka.

Bimbim seharian tak keluar kamar. Bunda Iffet bolak-balik mengetuk pintu sambil memnaggil. "Bim, jadi rekaman, nggak ...?!".

Mereka datang lagi ke Potlot keesokan harinya. Kebetulan Slank lagi berulang tahun. Suasana ramai. Banyak anak baru gede (ABG). Ada satu set alat musik di teras rumah utama. Mereka sempat mengisap ganja bareng Imanez. "Bebas betul Pulau Biru ini" pikir Fajar.

Kemudian mereka pun larut dalam keramaian; ikut acara potong tumpeng, dan melihat Slank main musik live dikelilingi Slankers. Bayu paling enerjik. Dia mondar-mandir sambil membawa kamera saku. Bimbim memutar lintingan ketika memainkan drumnya. Slank menyanyikan lagu “Balikin”, salah satu lagu andalan dalam album Tujuh.

"Lagu aneh…"

"Nggak Slank banget"

Mereka saling memberi komentar, bahkan beranggapan bahwa Slank sudah berakhir. (Kelak, anggapan itu terbantahkan. Lagu itu membawa Slank kembali ke puncak)

Susetio sempat meminta mereka untuk datang keesokan harinya. Spontan mereka histeris, berteriak-teriak girang, berpikir demo kaset mereka diterima. Ternyata itu menjadi hari paling menyedihkan bagi mereka. Susetio mengatakan belum cocok dengan lagu-lagu itu. Dia menawarkan sistem pembiayaan fifty-fifty, tapi personel Kandidat menolak.


DI SEBUAH ruangan sekolah musik di Jalan Pemuda, Ridho yang sedang mengajar, menerima panggilan dari telepon genggamnya. Aha, tak biasanya ia membiarkan handphone-nya hidup. Telepon itu dari teman lamanya, Lulu. Ia manajer Slank.

“Ini Bimbim mau ngomong,” ujar perempuan di seberang telepon.

Perkenalan terjadi, pembicaraan terlayani.

“Ayo kita ngejammin,” ajak Bimbim. “Kita udah mau manggung nih di Bandung.”

“Oh ya sudah.”

Beberapa saat kemudian ia mendapatkan tigapuluhan lagu yang harus dipelajari. Lulusan Musician Institute ini dapat jatah memegang gitar. Selain ia, Bimbim juga mengajak Abdee Negara (gitar) untuk bergabung.

Keduanya lulus audisi, dan mengisi kekosongan tempat yang sebelumnya diisi Reynold dalam album Lagi Sedih. Reynold menggundurkan diri, sementara Ivanka mau bergabung. Bandung kemudian menjadi awal pemunculan Slank dengan formasi baru.

Kedatangan personel baru ini ternyata bisa mempertahankan kejayaan Slank. Slank meluncurkan album baru bertajuk Tujuh (1997), dan tetap mendapat sambutan hangat. Album dengan hits “Balikin” ini bahkan mencatat penjualan tertinggi dibanding album-album sebelumnya.

Bukti eksistensi Slank dibuktikan dengan penghargaan AMI Awards untuk mereka sebagai Album Rock Terbaik, Lagu Rock Terbaik, dan Group Rock Terbaik sepanjang 1997.

Kemudian berturut-turut Slank meluncurkan album Mata Hati Reformasi (1998), Slank A Mild Live (1998), dan double album 999+09 (1999).

Perubahan sudah dilakukan. Yang belum berubah, kebiasaan personel Slank yang kecanduan putaw. Bimbim dan Kaka kemudian malah mengenal dan memakai shabu-shabu. Kecanduan. Pecandu narkoba di Slank bertambah satu: Ivanka. Sejak kuliah, Ivanka mulai mengenal minuman keras, ganja, pil nipam dan sejenisnya. Benda-benda itu membuatnya lebih percaya diri ketika bermain musik. Dari situ ia mulai mengenal heroin, lalu putaw, dan shabu-shabu hingga kecanduan.

Abdee bebas dari narkotiba. Meski dulu pernah mencicipi ganja, pil koplo, dan putauw, juga minuman keras, tapi ia mengaku belum pernah kecanduan. Ridho hanya sekali mencoba, dan langsung overdosis. Ia mencampurkan obat, ganja, bir hitam, minuman keras. Ia merasakan efeknya sampai sekarang; suaranya tak bisa lepas.

Kecanduan ini menganggu jadwal latihan dan manggung. Acap ketika Slank show, penonton membeludak, tapi mereka malah teler di kamar hotel. Ini acap menjengkelkan Abdhee dan Ridho, yang tak bisa mengikuti ritme kerja Bimbim, Kaka, dan Ivanka. Ridho sempat berpikir untuk hengkang dari Slank, dan menyampaikannya ke Bunda Iffet.

Bunda Iffet, ibu Bimbim yang juga kemudian menjadi manajer Slank, terpukul ketika kali pertama tahu Bimbim pakai narkoba. Ia merasa menjadi orangtua yang paling sengsara. Setiap hari ia bekerja keras untuk menyadarkan anaknya dari penggunaan barang terlarang itu. Ia pernah membawa Bimbim untuk berobat secara medis, tapi hasilnya hanya bersifat sementara. Pengaruh obat malah membuat pikiran Bimbim menjadi kosong. Bimbim bisa berbugil ria di dalam kamar, bahkan terkadang jalan-jalan keluar kamar.


SEPTEMBER 1999, Pay muncul di markas Slank. Tempat ini, juga penghuninya, pernah jadi bagian penting dalam hidupnya. Ia pernah disekolahkan orangtua Bimbim. Ia juga pernah menjaga studio milik Bimbim, dan acap menilep uang sewa studio. Pay masih menjaga ikatan persaudaraan itu, meski dulu, tiga tahun lalu, ia pernah sakit hati karena mendapat surat pemecatan dari Bimbim. Kedatangan Pay mengagetkan para penghuninya. Badan Pay sudah gemuk.

“Sembuh lu, Pay.”

“Iya, gue pake obat tradisional …….”

Pay menuturkan keberhasilannya bebas dari narkoba. Ia berobat ke sinse Teguh Wijaya yang berpraktek di Kayu Putih, Pulomas, Jakarta Timur. Pacarnya, Dewiq, menawarkannya pengobatan altematif itu setelah melihat penampilan Teguh Wijaya di suatu acara televisi di RCTI.

Pay memberikan kartu nama Teguh Wijaya.

“Coba deh, Cuma sebentar, minum obatnya cuma 10 hari.”

“Boleh juga nih.”

Kartu nama itu disimpan Kaka. Ya, hanya disimpan. Ada perasaan tak percaya bisa semudah itu Pay sembuh dari ketergantungan narkoba. Untuk memastikannya, seorang kurir dikirim ke rumah Pay untuk mengecek kebenarannya.

Dua bulan dari pertemuan itu, usai manggung di Bali, di tepi pantai, keinginan untuk berhenti muncul dari para personel Slank.

“Kita berhenti yuk, udah masuk milinium baru nih, 2000. Buka suasana baru”.

“Ya udah deh. Gue juga sejak make 1993 itu belum pernah nyoba untuk berhenti. Begitu ada saat, ada moment, ada keberanian, gue berani deh untuk berhenti.”

Mereka ingat kartu nama Teguh Wijaya. Ke sanalah mereka datang untuk berobat. Oleh Teguh Wijaya, Bimbim, Kaka, dan Ivanka diminta menenggak kapsul Khe Ying Ning. Obatnya berbentuk pil kecil-kecil. Mereka harus meminum pil itu empat kali sehari dengan takaran 10 butir sekali minum. Pil itu harus diminum selama 10 hari. Total mereka menelan 400 pil seharga Rp 20 juta. Harga itu masih lebih murah ketimbang jatah narkoba personel Slank yang masing-masing mencapai Rp 1 juta per hari.

Bunda Iffet memotivasi ketiganya agar patuh minum obat. Ia juga mengawasi hubungan telepon ke luar. Sejumlah polisi diminta ikut memonitor sekitar kompleks, bahkan berpatroli malam. Ini dilakukan untuk menghalangi masuknya bandar narkoba yang selama ini memasok personel Slank.

Baru dua hari menenggak kapsul itu, Bimbim, Kaka, dan Ivan mengalami masa kritis. Mereka berperilaku aneh. Bimbim berteriak-teriak seperti orang tak waras. Begitu pula Kaka. Ivan malah ingin mematahkan dan menginjak-injak playstation. Masa kritis ini berjalan hingga empat hari. Selebihnya mereka bengong atau tidur seharian.

Begitu masa sepuluh hari terlewati, ketiganya menjalani penyembuhan mental. Mereka dikarantina di rumah selama tiga bulan. Kalau mereka ingin pergi ke luar rumah, beberapa orang mengawal. Mereka tak dibekali uang dan tak diperbolehkan membawa handphone. Di saku hanya tersedia kartu kredit, yang tak mungkin bisa digunakan untuk membeli narkoba.

Inilah proses terberat. Bahkan bagi Bimbim, sakau kalah berat. “Orang kalau kena drugs, lalu berhenti, itu kayak orang patah hati, kayak orang kehilangan istri, kehilangan anak,” kata dia.

Proses rehabilitasi itu menunjukkan tanda-tanda positif. Selera Bimbim, Kaka, dan Ivanka pada narkoba lenyap. Di mata mereka, bubuk itu terlihat memuakkan.

Namun Bunda Iffet terus mengawasi mereka. Ia akan menelpon kalau satu jam mereka tak ada di rumah; menanyakan berada di mana dan bersama siapa. Ia bisa menyuruh pulang kalau teman-teman mereka dianggap tak baik. Ia juga membuat jadwal latihan dan manggung yang padat untuk Slank. Setiap tiga bulan sekali Bimbim, Kaka, dan Ivanka menjalani tes urin.

Akhirnya ketiganya sembuh. Mereka bahkan mendeklarasikan diri “Perang Melawan Narkoba”. Sebagai ikon anak muda, keberhasilan personel Slank lepas dari narkoba ini kemudian dipakai untuk kampanye antinarkoba. Mereka diundang untuk berbicara di berbagai diskusi dan seminar.

Setelah setahun vakum, dan hanya meluncurkan De Bestnya Slank, Slank akhirnya meluncurkan album baru bertajuk Virus (2001). Untuk mempromosikannya, Slank melakukan tour “Virus Road Show” sebanyak 22 kota di Indonesia. Dari sini Slank merilis album live kali kedua Slank Virus Road Show (2002) dan juga merilis album live bergambar dalam format VCD karya Planet Design Indonesia. Seperti album live sebelumnya, album ini berisikan bonus sebuah lagu baru berjudul “I Miss You But I Hate You” sebagai protes terhadap kenaikan harga pulsa telepon.

Album Virus terjual sampai satu juta keping, sedangkan album sebelumnya, Slank A Mild Live, sebanyak 500 ribu keping. Angka penjualan itu ditambah dengan pemasukan dari konser membuat pemasukan Slank melimpah. Majalah musik Hai menyebut Slank sebagai musisi terkaya di Indonesia, mengalahkan Krisdayanti, Jamrud, Padi, Sheila on 7, dan Dewa.


STUDIO musik itu masih ramai, padahal malam makin larut. Dana bersama teman-temannya masih berkumpul dan mengobrol di teras. Mereka habis latihan.

“Aku sudah keluar dari Kandidat. Aku sekarang bergabung dengan Nu Soul Top 40,” kata dia.

Perubahan formasi di tubuh Slank empat menyesakkan dada penggemarnya, termasuk juga personel Kandidat. Meski Slank masih punya dua kekuatan; vokal Kaka yang khas dan kekuatan lirik bikinan Bimbim yang berjiwa, tapi warna musik Slank hilang.

Perubahan itu berpengaruh pada Kandidat. Dana meninggalkan Kandidat, karena kompisisi lagu Slank sudah tak memakai kibor. Hendrik dan Fajar mengundurkan diri karena alasan pekerjaan di luar kota.

“Aku senang Slank formasi lama. Dulu tuh blues dan rock ‘n rollnya kental banget. Setelah album Tujuh sudah kecampuran alternatif,” kata Dana.

“Slank lebih bagus yang dulu. Seperti BIP itu Slank yang dulu. Beda vokal aja. Slank sekarang tidak slengekan lagi. Liriknya masih, tapi musiknya tidak,” kata Hendrik.

“Terus terang saya lebih suka Slank waktu masih sama Indra, Bongky, dan Pay. Secara musikal Slank formasi baru ini terlalu lurus dan sederhana dibandingkan dulu. Tapi saya masih suka. Setiap Slank nongol di televisi, saya pasti nonton,” ujar Fajar.

Kini, tinggallah Aris dan Bayu di Kandidat. Keduanya berusaha menghidupkan lagi Kandidat setelah vakum setengah tahun. Dengan personel baru, Denny Prasetya dan Dhany Cahyono Santosa, keduanya gitaris, Kandidat masih akan membawakan lagu-lagu Slank.

“Koes Plus dikenang orang sampai sekarang. Mungkin kalau anak-anak masih kompak, 20-25 tahun mendatang, lagu-lagu Slank kayak lagu memori. Dia abadi,” kata Aris.

“Aku senang Slank karena Mas Bimbim-nya. Lainnya ganti nggak masalah,” kata Bayu. “Yang jelas di dalam sini Slank nggak ada matinya. Aku selalu ingat orangnya, lagunya. Biarpun orang bilang ‘Wou, kok bawain lagu Slank’, biarin. Kalau aku main, itu suatu kepuasan tersendiri.”*

Read More......

Monday, October 01, 2001

Boikot

PERAYAAN ulang tahun, sebuah kemeriahan. Itulah yang terlihat pada peringatan ulang tahun ketiga Partai Nasional Indonesia (PAN) se-Jawa (minus Jakarta), Bali, dan Nusa Tenggara yang dipusatkan di Semarang, Jawa Tengah. Selama beberapa hari beragam acara digelar. Ada musik campursari dengan penyayi Didi Kempot. Ada wayang, gerak jalan sehat, dan berbagai lomba.

Sabtu, 25 Agustus 2001, puluhan wartawan berkumpul di lobi Hotel Grand Candi, Jalan Sisingamaraja, Semarang. Mereka siap meliput jumpa pers yang rencananya dimulai pukul 17.00.

Pukul 17.20 ketua PAN Amien Rais maupun panitia tak juga terlihat. Pihak hotel mengatakan partai itu tak memesan ruangan di sana serta menyarankan para wartawan pergi ke Hotel Graha Santika, Jalan Pandanaran, tempat Amien menginap.

Puluhan wartawan dari media cetak, elektronik, serta dotcom bergegas ke sana. Lama menunggu, para wartawan menyaksikan panitia memboyong Amien ke rumah seorang pengurus Muhammadiyah di daerah Gombel. Wartawan pun mengikutinya.

Magrib telah lewat. Sebagian besar wartawan dipersilakan makan di lantai satu, sedang Amien dan rombongan makan di lantai dua di rumah daerah Gombel itu.

Selesai makan, wartawan masih menunggu. Beberapa saat kemudian Amien menemui mereka. Tapi, wartawan jengkel lantaran Amien, yang juga ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, tak memberikan keterangan pers di sana.

Wartawan pun kembali ke Hotel Graha Santika. Kali ini mereka tak tahan lagi dan sepakat memboikot, tak meliput seluruh kegiatan ulang tahun PAN, termasuk pidato Amien yang dilakukan esok hari. Sebagai bentuk protes, mereka duduk-duduk, peralatan meliput, mulai kamera, tape recorder, kartu pers, sampai bloknot digeletakkan di lobi hotel. Sebagian wartawan ada di ruang diskotek sambil mengikuti lantunan musik.

Rupanya kegusaran wartawan diketahui Amien. Pukul 20:00 atau kira-kira tiga jam terlambat dari janji semula, Amien dan rombongan turun dari lantai atas, menemui wartawan. “Begini saudara-saudara, saya minta maaf. Saya juga diombang-ambing panitia. Jadi ini kesalahan panitia setempat, sehingga rekan-rekan wartawan terlantar. Terima kasih,” kata Amien, bergegas menuju mobilnya untuk menghadiri resepsi di tempat lain.

Bukan Amien saja yang minta maaf. Legislator Alvin Lie dari PAN, pengurus lain termasuk Jip Henky Jana Prasetya, yang sekaligus mewakili panitia, berkali-kali minta maaf serta minta kesediaan wartawan untuk kembali meliput. Tapi mereka tak digubris.

Radio Rasika 107,55 FM, Semarang, juga terkena dampaknya. Sebelum pukul 19.00, Rasika seharusnya menyiarkan wawancara dengan Amien Rais, tapi malah terombang-ambing. Mereka langsung membatalkan kontrak. Kegiatan reportase di lapangan yang berhubungan dengan ulang tahun PAN, dihentikan.

"Selain sebagai solidaritas, boikot ini juga sebagai wacana bagi kawan-kawan di PAN bahwa tak mungkin arogansi terus dikembangkan," ujar Yos Bayu, pemimpin redaksi radio Rasika.Radio ini hanya memberi waktu lima menit untuk Amien minta maaf.

Ecep Suwardani Yasa, ketua Aliansi Jurnalis Independen setempat, memandang tak sepantasnya Amien Rais, dan terutama PAN sebagai partai terbuka, bekerja tak profesional. "Pentingnya bukan sekadar maaf-maafan, karena tak ada alasan untuk tidak memaafkan. Ini penting sebagai pelajaran bagi PAN dan partai politik lainnya untuk tidak berlaku serupa di momen-momen mendatang," ujarnya.

Panitia tak siap, sedang wartawan keburu naik pitam. Aksi Semarang itu menutup maraknya pemboikotan oleh wartawan pada Agustus 2001. Sebelumnya, pemboikotan dilakukan terhadap dua artis, Desy Ratnasari dan Feby Febiola.

Desy yang menikah dengan Sammy Hamzah, seorang direktur perusahaan besar, dianggap melakukan diskriminasi. Ia hanya mengundang 10 media dalam jumpa pers terbatas pada 13 Agustus 2001. Tapi acara itu bocor satu jam sebelum dimulai. Para wartawan berdatangan ke tempat pertemuan.

Pihak manajemen Desy melarang masuk wartawan yang tak diundang. "Tolong dong hargai saya. Saya juga wartawan, kok," katanya.

"Kalau kamu wartawan harusnya tahu apa yang kami lakukan," balas puluhan wartawan, tak mau kalah.

Dua hari kemudian, wartawan hiburan kembali sewot. Pemberkatan pernikahan artis sinetron Feby Febiola dengan Nicolas Hugo Bruce Delteil, pria berkewarganegaraan Prancis yang jadi konsultan ekonomi sebuah perusahaan Amerika, berlangsung tertutup di sebuah hotel Jakarta.

Ketegangan terjadi ketika acara berlangsung. Puluhan wartawan melakukan orasi. Isinya mengkritik manajamen hotel dan kedua mempelai. Mereka tetap ingin masuk.

Sekitar pukul 20.00, Lira Dachlan dari Hotel Gran Mahakam, memberikan keterangan pers. "Pada hari ini, Rabu tanggal 15 Agustus 2001, memang benar sedang dilakukan acara pernikahan Tuan Bruce Delteil dan Feby. Ini kesepakatan antara pihak hotel dan keluarga bahwa acara ini hanya bagi orang-orang dekat saja dan tidak boleh diliput wartawan."

Feby mengatakan, "Kami ingin acara pemberkatan nikah kami ini berjalan dengan khidmat. Saya tahu kalau ada wartawan pasti akan sangat mengganggu. Mungkin kalau terlalu banyak orang jadi kurang khidmat. Karena kami anggap hari ini yang sangat sakral," ujar artis ini.

Lucunya, meski wartawan gencar melancarkan boikot, berita-berita tentang Desy dan Feby tetap muncul di media massa. Harap maklum berita yang dikejar berita selebritas!

Ini beda dengan pidato Amien Rais di Semarang. Dalam pidatonya, Amien mengiyaratkan keinginannya untuk maju sebagai calon presiden bila partainya menang lebih dari 20 persen suara dalam pemilihan umum 2004. Ini berita besar!

Suara Merdeka, suratkabar terkemuka di Semarang, tak memuat berita itu. Suara Merdeka malah memuat berita di halaman pertamanya tentang boikot wartawan Semarang terhadap acara Amien Rais. Harian sore Wawasan sami mawon. Bahkan koresponden-koresponden media Jakarta, cetak maupun televisi, juga tak mengirimkan beritanya.

Lantas bagaimana dengan hak masyarakat untuk tahu? Kalau para wartawan jadi pemberang begini, dan sedikit-sedikit merasa dipersulit dalam mendapatkan informasi, mengapa tak sekaligan saja memboikot berita Presiden Soeharto selama 33 tahun jenderal itu berkuasa?

Bukankah Soeharto juga sering mempersulit wartawan? Mengapa cuma Desy, Amien dan Feby saja yang diboikot?*

Read More......

Ngak Ngik Ngok

RUMAH keluarga Koeswojo lengang. Di sebuah rumah kayu yang menjorok ke kanan dari pintu gerbang, dua orang laki-laki sibuk dengan aktivitas masing-masing. Djon membaca koran, sedang Yok sibuk mengikir batu akik. Sesekali dua pria yang rambutnya memutih di sana-sini itu bercakap-cakap.

Rumah kayu yang tertembus pohon belimbing wuluh yang sedang berbuah itu terasa sesak. Ada dua batu granit bulat-tinggi dan satu pahatan kayu berbentuk babi. Gong besar dan kecil tergantung di samping kanan. Burung kayu yang bergoyang-goyang tertiup angin tergantung di langit-langit. Di dindingnya terpajang wayang kulit, dan hiasan batu dan kayu kecil-kecil di sisi lainnya. Ada juga rak kayu.

Djon duduk di satu dari empat kursi kayu dengan jok pilinan bambu. Yok duduk di kursi lipat, membelakangi Djon, menghadap gerinda yang ditempatkan di sebuah meja kecil. “Saya punya hobi batu akik sejak kecil. Jika menemukan batu bagus, ya diambil,” ujar Yok sambil mengikir.

Di sebuah rak panjang, batu-batu belum dikikir berserakan. Di bawahnya, di dekat pohon mangga, beberapa batu terendam air dalam mangkuk-mangkuk plastik. Di dekatnya ada sikat, gayung, dan batu asah.

“Kalau saja tak ada sidang istimewa, saya sudah jalan-jalan ke desa-desa. Urun rembug sambil melihat-lihat pemandangan dan memancing.”

Yok anak lelaki terakhir di keluarga Koeswojo. Dia menyelesaikan sekolahnya di SMA Triguna, Jakarta. Memancing adalah hobi lamanya. Berburu sudah lama dia tinggalkan karena berkurangnya refleks tangan. Hewan piaraannya seperti ular, kura-kura, kasuari, merak, dan burung sudah tak ada lagi.

Yok menyalakan korek api berbentuk peluru, salah satu koleksinya, kemudian mendekatkan api pada rokoknya. Yok kemudian meneruskan kikirannya. Sesekali dia berhenti untuk melihat hasilnya sembari menghisap rokok.

“Ya begini, Mas, daripada mikirin negara, bikin pusing, mendingan ngikir batu akik, bisa bikin hati senang,” ujar Yok yang mengenakan baju dan celana klaso berwarna putih. Katanya, itu sebagai bentuk protesnya terhadap kondisi negara yang tak karuan. “Kami dulu mengingatkannya lewat lagu, tapi tak juga mau berubah. Kepala batu.”

Agak sulit menemui laki-laki ini. Kali ini pun dia mau karena didesak Djon, kakaknya.

“Saya ini orangnya susah, tergantung mood. Kalau mau kumpul ya kumpul. Diminta rekaman, kalau lagi malas, saya enggak mau. Soal sehari-hari juga tak begitu pusing-pusing. Kadang ada yang kasih (uang), atau dapat royalti kalau lagu saya dipakai. Saya tak ingin manggung. Lagu banyak. Idenya dari mana-mana. Kalau ada yang mau merekam ya rekam,” ujar Yok.

Yok pindah ke kursi kayu.

“Begini saja, Mas. Kalau Anda punya jalan, tolong Kakangku ini juga bisa menulis, tulisannya banyak, tolong dicarikan hubungan yang baik agar bisa dirilis. Karena Mas Djon ini juga perlu sandang-pangan.”

“Tapi isinya umum,” Djon menyela.

“Ya terserah, yang jelas Anda kan suka nulis.”

“Nulis, filsafat dan umum.”

“Tujuannya kan biar bisa dibaca. Wong di pasar itu juga ada dodolan (jualan). Sampeyan dodolan atau tidak?”

“Dodolan. Tapi dodolan itu kan ada misinya.”

Djon, anak pertama Koeswojo, terakhir bekerja di Pembangunan Perumahan sebagai astimeter dan quality surveyer. Kemudian keluar untuk membantu pembangunan studio milik adik-adiknya. Sempat pula beternak ikan, ayam broiler, dan babi. Keseharian Djon diisi dengan membaca, menulis, dan berselancar di dunia maya.

“Saya masih mencari penerbit untuk buku saya,” ujar lelaki beruban yang memakai baju lurik putih-biru yang dibiarkan tak terkancing dengan kaos oblong di dalamnya. Jins warna krem membalut kakinya.

Yok kembali ke kursinya, mengikir batu akik berwarna putih. Djon kemudian lebih banyak bicara, meski kemudian berkali-kali dipotong Yok. Sebuah alat perekam yang sudah dia persiapkan tergeletak di atas meja. Dia mau ikut merekam pembicaraan ini.


“KAMI ini anak seorang pensiunan camat di Tuban. Karena bapak bekerja sama dengan Belanda, lalu dicap kooperator. Walaupun kooperator tapi usaha bapak untuk menyokong perjuangan di hutan tak pernah kurang. Ya kirim makan, ya kirim pakaian. Itu Mas Yok sendiri pernah kirim senjata. Saya juga pernah kirim mesin tulis, kacamata hitam, ya permintaan para gerilyawan,” ujar Djon.

“Ya kirim apa saja,” sela Yok.

“Untung hanya satu tahun.”

Koeswojo senior yang berperawakan kecil dan kurus bekerja sebagai pegawai pangreh praja di Tuban, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa Timur, setamat dari sekolah menengah Meer Uitgebreid Lager Ondrewijs (MULO). Sebelumnya dia sempat menjabat asisten wedana di Babad. Uang yang dipakai untuk mengirimkan kebutuhan gerilyawan diperolehnya dari mark up anggaran proyek pemerintah kolonial.

Perkawinannya dengan Atmini dikarunia sembilan anak. Putri pertama, Soemartijah (Tituk), meninggal semasih bayi. Delapan lainnya: Koesdjono (Djon), Koesdini (Dien), Koestono (Tony), Koesnomo (Nomo), Koesjono (Yon), Koesrojo (Yok), Koestami (Miyiek), dan Koesmurni (Nienuk). Keluarga besar ini tinggal di rumah dinas yang sederhana di Jalan Soekohardjo 44. Halamannya yang luas ditumbuhi pohon jambu, mangga, dan asam. Sumur terletak di halaman rumah. Begitu juga kakus, meski agak menjauh.

Sebagai priyayi, Koeswojo kaku, formal, dan menerapkan perilaku dan tata krama priyayi dalam keluarga. Dia ingin anak-anaknya menjadi sarjana, sehingga bisa dibanggakan kepada kolega-koleganya. Dia tak terbiasa bercanda, agak temperamental, dan berbicara seperlunya. Tak jarang dia menghukum anaknya yang nakal dengan melayangkan gagang sapu ke punggung, menguncinya di kakus, atau menyuruh anaknya duduk bersila hingga sore hari.

Pernah suatu hari, sepulang dari kantor, Koeswojo menerima laporan perkelahian anak-anaknya. Dia menyuruh anak-anaknya duduk bersila, sementara dia membaca koran. Mereka menurut dan hanya bisa diam sampai hukuman itu berakhir. Acapkali Miyiek menggoda kakak-kakaknya sambil mengunyah makanan kecil. Seringkali Atmini harus membela anak-anaknya, yang menyulutkan pertengkaran dengan Koeswojo. Atmini berasal dari keluarga kebanyakan. Dia wanita Jawa yang sederhana, lemah lembut, dan penyabar.

Koeswojo hobi bermusik. Dia mahir memainkan gitar dan mandau, serta gemar menyanyikan lagu-lagu Hawaiian. Ketika menjadi pegawai pangreh praja, Koeswojo bersama teman-temannya, guru-guru Hollands Inlanders Schools, punya perkumpulan musik bernama Tuban Bond yang biasa main di societeit (gedung pertemuan). Tapi dia tak ingin anaknya jadi seniman karena kehidupan seniman yang pas-pasan.

Kehidupan keluarga Koeswojo tak bisa dibilang berkecukupan. Anak-anaknya berangkat ke sekolah bertelanjang kaki. Untuk meringankan beban ekonomi keluarga, Atmini berbisnis kayu. Dia biasa memborong kayu jati, yang kemudian ditumpuk di bawah pohon mangga. Di atas gelondongan kayu jati itulah anak laki-laki Koeswojo suka tetabuhan dan menyanyi.

Suatu kali mereka melingkar di meja makan, siap menyantap hidangan yang telah dipersiapkan Atmini. Beberapa suapan masuk ke mulut.

“Kok enggak enak ya makan begini. Yuk makan di atas meja, mungkin enak ya.”

Mereka naik ke atas meja.

“Kok ya enggak enak. Eh taruh di dulang (tampah kayu) dan makannya di bawah pohon yuk.”

Mereka bergerak. Namun nasi tetap tak dimakan, malahan dijadikan mainan dengan membentuk irama “pok pyok pong pong pyok.”

Mbok Pah, pembantu Koeswojo, sering menangis karena godaan mereka. Namun tangisan itu tak meredakan kenakalan mereka. Dia malah terus diledek, “Pah bar nangis pling-plang-plong ….”

Yang menonjol adalah Tony. Meski baru berusia empat tahun, Tony suka menabuh ember dan baskom besar-kecil yang dibalik di bawah pohon jambu. Pemukulnya adalah lidi yang ditancapkan pada bunga jambu yang masih kuncup.

Pada 1952, Koeswojo harus pindah ke Jakarta, bekerja di Kementerian Dalam Negeri. Setelah mendapatkan rumah, dia berniat memboyong keluarganya. Sebelum berangkat, Koeswojo membeli sepatu loakan di Surabaya untuk anak-anaknya. Pakaiannya baju-celana monyet. Mereka akan berangkat dengan kereta api berbahan bakar batu bara. Beberapa kerabat dan pembantu juga ikut. Rombongan diantar kerabat, tetangga, dan teman-teman anak Koeswojo. Teman-teman Nomo mengikuti sambil membawakan gundu.

Kereta melaju dengan suaranya yang khas. Di stasiun Bojonegoro beberapa saudara Koeswojo telah menunggu. Begitu kereta berhenti, mereka berlari mendekat. Tak lama kemudian kereta pun melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanan itu Yon sempat mencuri telur rebus, bekal ke Jakarta. Dia makan di bawah kolong sambil mengintip kaki saudara-saudaranya. Dia tahu persis, jika saudara-saudaranya tahu, mereka akan minta bagian. Yon makan sendirian karena, “Dari kelas satu sampai mau pindah, saya belum pernah makan telur sendirian.”

Jakarta tahun 1950-an masih sepi. Jalan Jenderal Sudirman lengang. Senayan masih berupa kebun karet. Keluarga Koeswojo dijemput mobil Kementerian Dalam Negeri menuju rumah mereka di Jalan Mendawai III/14. Kamar tidurnya hanya dua, berukuran 3 x 3 meter. Ranjang besar yang dibawa dari Tuban tak bisa masuk, sehingga mereka harus tidur beralaskan tikar dengan selimut jarik.

Ekonomi keluarga mulai membaik ketika Koeswojo pensiun dan kemudian bekerja sebagai pegawai administrasi di Bank Timur hingga 1959. Djon juga mulai bekerja sebagai mandor pelaksana di Biro Yayasan Teknik pimpinan Abikoesno Tjokrosuyoso, salah seorang politisi penandatangan Piagam Jakarta dari Partai Syarekat Islam Indonesia. Berhenti sebagai pegawai bank, Koeswojo bertani dan berbisnis tembakau di Delanggu, Solo. Nienuk ikut ke Solo. Koeswojo pun kerap meninggalkan kelima anak laki-lakinya, Dien, dan Miyiek di Jakarta. Dien kemudian menikah dan ikut suaminya. Miyiek ikut bersamanya. Tinggallah kelima anak Koeswojo yang mulai menginjak remaja.

YOK masih sibuk dengan batu akiknya. Kali ini dia membasuh hasil kikirannya dengan air dari gayung di dekat pohon mangga yang terletak di samping rumah kayu. Kemudian dia duduk di kursi kayu panjang yang disesaki peralatan kerja: pisau, lem, tang, pensil dan spidol dalam pot tembikar, jam mati, topi, dan sebagainya.

Djon mengubah posisi duduknya.

“Tak ada bayangan bakal jadi orang top. Cuma mula-mula, ketika Ton menginjak remaja, kepengin punya gitar. Wong masnya punya duit, saya ajak ke Pasar Baru, ‘Ambil yang paling bagus.’”

Tony serius belajar musik. Dia bisa main gitar, ukulele, piano, dan seruling. Suatu ketika dia mencoba main biola tapi mengalami kesulitan. Saudara-saudaranya suka menganggu dengan menggosokkan lilin pada dawai biolanya. Ketika digesek biolanya tak berbunyi. Dia sering bermain gitar sampai larut malam. Saudara-saudaranya menemani: ikut menyanyi atau main kartu di dekatnya. Miyiek paling sering menemani kakaknya, termasuk jika Tony ke pesta-pesta dansa. Di kamar Tony biasa menyetel radio, mendengarkan lagu-lagu Indonesia dan Barat yang sedang populer.

“Tony selalu ikut di mana ada musik. Tak peduli GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), apa saja, dia masuk. Yang penting, ada musik. Itu saking cintanya pada musik. Cuma ikut main-main, tidak masuk anggota,” kata Yok mulai menyela cerita Djon.

Djon yang sering mendengarkan permainan Tony berkata kepada ayahnya, “Mas Ton ini punya golden fingers.”

“Masak adikmu mau jadi tukang musik. Tukang musik itu hidupnya rekasa (sengsara).”

Koeswojo kemudian bercerita tentang nasib temannya, Senen, seorang pemain biola keliling di Tuban. Ketika meninggal, hanya empat orang yang menggotong kerandanya dan seorang tukang pacul yang mengantar jenazah Senen. Koeswojo tak mau anak-anaknya bernasib sama seperti Senen.

“Kayak begitu lo musisi itu.”

Tapi tekad untuk bermusik tetap mengental. Di sekolah Tony membentuk grup band bernama Gita Remaja yang acap memeriahkan pesta ulang tahun.

Suatu hari Djon berbicara kepada Tony. “Ton, kita sudah kebangetan datang dari Tuban. Kata-katanya, saya dengar dari simbah-simbah, kita masih ada darah keturunan. Jadi bukan dari got. Keturunan perintis Islam di Indonesia dari Sedayu. Misi dan visi kita adalah bagaimana generasi mendatang bisa kembali jaya. Makanya dengan tekad ingin kembali jaya, kita cari jalan bagaimana caranya.”

“Paling mungkin, karena kita tak punya modal, main musiklah.”

“Adik-adikmu bisa enggak.”

“Bisa, bisa.”

Tony yang meninggalkan kuliahnya di jurusan Sastra Inggris Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta dan bekerja di Pusat Perkebunan Negara, kemudian mengajarkan musik kepada adik-adiknya, Yon dan Yok. Nomo yang baru pulang berkelana melihat saudara-saudaranya berlatih, ikut-ikutan. Tahun 1960-an itu Koes Bross yang kemudian diganti dengan nama Koes Brothers mulai dirintis. Mereka berlatih setiap hari dengan bas betot, gitar, dan drum yang dipesan dari Solo serta amplifier merek Robin buatan Jakarta. Alat-alat musik itu dibeli dari gaji Djon dan uang arisan yang baru diperoleh ibu mereka. Koeswojo tak setuju dan memarahi Atmini dan Djon. “Ini anak-anak mau dijadikan apa. Dijadikan tukang musik!”

Tapi anak-anak Koeswojo tetap berlatih. “Kalau sudah niat masuk musik, ya jangan tanggung-tanggung,” kata Tony.

Rumah di Jalan Mendawai itu pun berubah ramai setiap petang. Entakan musik dan nyanyian serta gelak tawa menyeruak di antara asap-asap rokok di sebuah ruang tamu yang sempit. Jan Mintaraga –kemudian lebih dikenal sebagai pelukis komik– yang rumahnya hanya bertaut dua rumah, sesekali ikut latihan dan menyanyi, bahkan sampai menginap. Dia suka mendengar lagu dari radio Australia. Ketika menemukan lagu baru, dia datang. “Nih, saya catatkan lagu-lagu baru.” Sesekali Jan Mintaraga ikut Koes Brothers pentas. Hanya saja suaranya tak bisa tinggi, sumbang, dan lagi Jan suka angin-anginan. “Ah.. sekolah, sibuk belajar.”

Mereka menyanyikan lagu-lagu Barat yang sedang tren: Harry Belafonte, Kalin Twin, Everly Brothers, dan sebagainya. Menyanyikan lagu Indonesia dianggap memalukan. The Beatles belum menarik hati, meski Jan pernah membawakan piringan hitam grup band asal Inggris itu, kiriman dari kekasihnya yang bersekolah di Singapura.

Untuk mengasah kemampuan, mereka mengamen di acara-acara ulang tahun, sunatan, pernikahan. Bayaran tak penting, asal bisa tampil di depan publik serta dapat makan enak lagi gratis. Di rumah mereka hanya makan oncom merah, dua butir kentang, atau mencari kodok ketika kehabisan uang kiriman dari orangtua. Minumannya masih lumayan: segelas susu, yang distok Atmini. Miyiek pernah ikut menyanyi ketika saudaranya mengamen, dan kegirangan ketika mendapatkan bolpoin, sabun mandi, dan buku tulis dari tuan rumah. Kadang ada pula tuan rumah yang memberi uang.

Mereka belum berani bersaing dalam festival-festival band melawan grup band yang punya nama dan peralatan yang lebih baik. Salah satunya Teenager’s Voice, yang kemudian berganti nama menjadi Irama Remaja. Sophan Sophiaan adalah salah satu personelnya.

“Kalau begini terus kita enggak bakalan maju,” ujar Tony yang kemudian melontarkan gagasan membuat album rekaman.

“Itu gagasan gila. Mustahil. Perusahaan rekaman mana yang mau menerima kelompok kita yang kecil-kecilan ini? Jangan mimpi, Mas Ton.”

“Kita harus mencoba. Satu-satunya kekurangan band-band yang ada sekarang adalah mereka menyanyikan lagu-lagu orang lain, lagu-lagu Barat. Memang bagus, tapi nyontek. Kalau kita mau maju, kita harus menembus melalui celah itu.”

Pada 1962, Tony yang kemudian keluar dari pekerjaannya mulai menciptakan lagu. Dalam satu minggu dia menghasilkan dua lagu: “Weni” dan “Terpesona”. Djon berinisiatif merekamnya di rumah dengan alat perekam Grundig yang pitanya sebesar piring. Dibantu Jan Mintaraga, Tony mengetik surat permohonan rekaman ke PT Irama. Dengan naik bus, keenamnya mendatangi PT Irama yang berlokasi di Cikini. Jack Lesmana menerima dan mendengarkan keinginan mereka. Bersama bos PT Irama, Suyoso, yang lebih dikenal dengan panggilan Yos, Lesmana mendengarkan rekaman tersebut. “Kalau you bisa menciptakan lagu dalam dua minggu ini, saya akan memberi kesempatan kepada you untuk rekaman,” kata Lesmana.

Dua minggu kemudian mereka datang lagi. Lesmana terkejut ketika mendengarkan lagu-lagu mereka.

“Wah, bisa ini, Dik. Bisa. Langsung rekaman nanti malam,” ujar Yos.

“Saya tak menyangka you bisa menciptakan lagu-lagu seperti ini,” kata Lesmana kepada Tony.

Malam itu juga Koes Brothers –yang kemudian berubah nama menjadi Koes Bersaudara– rekaman. Djon memegang gitar bass, Tony (melodi), Yon (vokal), Yok (rhythm, vokal), dan Jan (gitar). Drum set dipegang dua orang, karena Nomo belum mahir memainkannya. Nomo dibantu Iskandar, tetangga mereka. Rekaman dilakukan dua track; harus langsung jadi. Namun perulangan tetap saja dilakukan karena terganggu suara kereta api yang lewat. Dalam semalam rekaman hanya menghasilkan satu lagu. Karena Jan harus menghadapi ujian sekolah, dia hanya sempat ikut rekaman tiga lagu: “Senja,” “Bis Sekolah,” dan “Telaga Sunyi.” Lagian Jan lebih tertarik dunia komik dan gambar. Dia sudah melahirkan komik Cinde Laras pada 1961. Jan kemudian melanjutkan sekolahnya di jurusan Interior Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta.

Pukul 16.00, mereka menunggu oplet untuk pulang di daerah Tosari. Pelawak S. Bagyo lewat mengendarai mobilnya. Bagyo menyapa sebentar, lalu melanjutkan perjalanan.

“Kapan ya saya bisa punya mobil sendiri,” gumam Nomo.

“Huu ….”

Album piringan hitam Koes Bersaudara yang berisi 12 lagu diluncurkan bersamaan dengan acara Games of the New Emerging Forces (Ganefo) di Jakarta pada 1963. Dalam album yang tak menyertakan “Weni” dan “Terpesona” itu suara bas Djon tak terlihat. Setelah rekaman, permainan basnya didiskualifikasi, sehingga di-dubbing lagi oleh Yok.

Lagu-lagu Koes Bersaudara mulai mengudara di RRI dan radio Angkatan Udara.

Duet Yon-Yok mengingatkan orang pada popularitas Everly Brothers dan Kalin Twin, dan itu diakui Tony dalam kata pengantar untuk piringan hitam pertama Koes Bersaudara. “Itu tidak dapat kami sangkal dan salahkan. Karena merekalah yang mengilhami kami hingga terbentuknya orkes kami ini.”

“Mulanya ya begitu. Kemunculan duet memang terpengaruh Kalin Twin dan Everly Brothers. Karena yang namanya musik itu selalu ada kaitannya. Misalnya, kita diilhami dari Everly Brothers. Sebelum ada Everly Brother, ada Kalin Twin, penyanyi Inggris yang kembar. Terus di Amerika ada Elvis Presley. Gabungan antara Kalin Twin dan Elvis itu timbul grup yang namanya The Beatles. Itu pasti ada saling keterkaitan. Enggak mungkin tidak. Karena yang namanya musik itu kan bunyi-bunyian yang beraturan,” Yok mencontohkannya dengan dua kepalan tangannya yang dihentakannya di atas meja, membentuk sebuah irama.

“Dulu saya sering mendengarkan lagu-lagu di radio di rumah. Saya juga menyediakan Gerard 95 dengan plat-platnya. Koleksi saya banyak. Nah, itulah yang mempengaruhi selera musik adik-adik saya,” sela Djon.

“Koleksinya Mas Djon itu ya Victor Silverster, The Kilima, Xavier Cugat,” timpal Yok yang diiyakan Djon.

“Kemudian belakangan Everly Brothers dan sebagainya juga punya. Memang dipancingnya ke musik Barat,” kata Djon.

“Dan karena teman saya banyak, ya pinjam kanan-kiri, karena kalau beli kan mahal,” kata Yok.


“DAN engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi; engkau jang tentunja anti-imprialisme ekonomi, engkau jang menentang imprialisme politik; kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi? Kenapa di kalangan engkau banjak jang gemar membatja tulisan-tulisan dari luaran, jang njata itu adalah imprialisme kebudajaan?”

Suara Presiden Soekarno, seperti biasanya, lantang dan bergelora. Pidatonya tetap berapi-api, menarik hati siapapun yang mendengarkannya. Dalam pidato peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1959 itu, Soekarno mencanangkan Manipol-USDEK (Manifestasi Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia).

Koes Bersaudara lahir ketika Indonesia dilanda demam musik ngak-ngik-ngok, istilah yang dipakai Soekarno untuk musik Barat. Musik pop itu masuk ke Indonesia melalui piringan hitam, majalah, dan suratkabar asing seperti Time dan Life. Stasiun-stasiun radio Angkatan Udara acap menyiarkannya, yang merupakan koleksi pribadi anggota Angkatan Udara. Radio Republik Indonesia (RRI), radio milik pemerintah, yang menomorsatukan siaran lagu nasional, hanya sesekali memutar lagu rock ‘n roll. Perusahaan rekaman ikut merekam lagu-lagu pop, seperti Irama Record, Melati, Dimita, Remaco, Gateway, dan Parrot. Lokananta, perusahaan rekaman milik pemerintah, tetap membatasi diri merekam musik nasional dan daerah. Bing Crosby, Perry Como, Doris Day, dan Elvis Presley amat populer.

Fenomena menarik adalah kemunculan The Beatles sebagai pelopor musik rock ‘n roll, setelah pamor Elvis Presley menurun. Kelompok musik ini lahir di kota Liverpool. Mereka terdiri dari John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison, dan Ringo Star. The Beatles dijadikan simbol generasi muda sebagai flower generation (generasi bunga) yang suka hura-hura dan antikemapanan.

The Beatles digandrungi anak-anak muda di Bandung, Jakarta, dan kota-kota lain. Gaya The Beatles juga mempengaruhi para pemusik Indonesia. Dara Puspita, grup band yang terdiri dari Susi Nander, Titiek Hamzah, Titiek AR, dan Lies AR meniru aksi panggung The Beatles, dengan menggerakkan pinggul dan lutut. Begitu juga Lilis Suryani dan Koes Bersaudara. Dandanan Koes Bersaudara mengikuti mode bergaya The Beatles. Rambut berponi, celana ketat, dan bersepatu ala The Beatles yang berhak tinggi dan berujung lancip.

Upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional, termasuk musik, didukung oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang dengan salah kaprah selalu dianggap sebagai onderbouw Partai Komunis Indonesia. Antara lain melalui konsepsi kebudayaan yang dimuat di Lentera, lembaran kebudayaan harian Bintang Timur yang dimulai 16 Maret 1962 dan ditandatangani beberapa seniman seperti Sitor Situmorang, F. Silaban, Pramoedya Ananta Toer, serta Henk Ngantung. Konsepsi Lekra didukung Lembaga Kebudayaan Nasional yang berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) milik Pesindo.

Dalam sidang pleno Lekra yang berlangsung 23-26 Februari 1964 di Palembang, didiskusikan tentang usaha-usaha menjebol “kebudayaan imperialisme Amerika Serikat” dan membangun kebudayaan nasional dengan mengobarkan kebangkitan tani serta membatasi musik komprador di Indonesia.

Dalam sidang penutupnya, seperti dimuat Harian Rakjat, 15 Maret 1964, Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Nah, sekarang kita akan mencoba dengan takzim mendengar lagu-lagu jang setiap hari dipantjarkan di udara Indonesia melalui TVRI, RRI, lagu-lagu jang merambat dari pesta-pesta borjuis sampai petikan-petikan gitar di malam sunji oleh pemuda jang tertikam rindu atau secara realistis dapat dikatakan sudah kebelet kawin, maka lagu-lagu yang dikatakan lagu-lagu Indonesia ini bila diganti kata-katanya dengan kata-kata Inggris, maka akan berubah menjadi lagu Amerika Serikat. Inilah lagu komprador, jang menganggap semua dapat diselesaikan, apabila pahlawan atau pahlawin dapat ketjup-mengketjup bibir-bibir masing-masing. Seluruh persoalan akan beres bila pahlawan dan pahlawin dibenarkan naik randjang bersama-sama.”

“Itulah penjelesaian jang menjalahi kodrat, alias kontrarevolusi, itulah penjelesaian jang anti objektifitas, antihistori, anti realistis, anti perkembangan. Lagu-lagu jang membawa randjang asmara sebagai penjelesaian segala beserta badan-badan yang menjiarkan merupakan unit dari suatu lembaga pendidikan seksual. Lagu sebagai lembaga pendidikan seksual? Ya, itulah arahnja. Dalam pada itu lagu-lagu patriotik-revolusioner dibatasi geraknja pada kesempatan-kesempatan upacara-upacara doang!“

Hampir setahun Lekra berdiri, muncul Manifest Kebudayaan (yang dileceh pihak Lekra sebagai Manikebu) yang menolak politik sebagai panglima. Manikebu keluar pada September 1963, digagas beberapa seniman dan cendekiawan seperti H.B. Jassin, Wiratmo Soekito, Trisno Soemardjo, Goenawan Mohamad, dan Arief Budiman. Sejak kemunculannya, Manikebu berhadapan dengan polemik, tekanan, serta serangan dari Lekra, khususnya melalui Lentera, hingga kemudian dilarang pemerintah pada 8 Mei 1964.

Menindaklanjuti pidatonya pada 17 Agustus 1964, yang lebih dikenal dengan Tahun Vivere Pericoloso, Soekarno mengeluarkan instruksi presiden untuk kembali ke kepribadian dan kebudayaan sendiri.

Upaya pemerintah untuk mencari pemecahan terhadap pengaruh budaya Barat akhirnya diserahkan kepada panitia yang terdiri dari Oei Tjoe Tat, Adam Malik, dan Mayor Jenderal Achmadi melalui sidang presidium kabinet pada 22 September 1964. Hasil kerja tim tersebut kemudian dilaporkan kepada Presiden Soekarno yang antara lain berisi tindakan tegas terhadap warga yang masih mendengarkan dan memainkan musik ngak-ngik-ngok. Penanganan pelanggaran diserahkan kepada Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKRI). Sebelumnya, pemerintah sudah mengeluarkan Penetapan Presiden No 11/1963 tentang larangan musik ngak-ngik-ngok.

Operasi penanganan dan penanggulangan meluasnya musik ngak-ngik-ngok pun dilakukan. Di Jakarta penanganan dilakukan melalui Operasi Hapus Angkatan Kepolisian VII/Jaya. Petugas menegur Lilis Suryani dan Erni Djohan agar mengubah gaya panggung dan busana yang mereka pakai sesuai dengan orang Timur. Keduanya kemudian menyatakan tak akan menyanyi dengan gaya The Beatles lagi.

Razia dan penyitaan dilakukan terhadap ratusan piringan hitam dan alat perekam beserta kaset The Beatles, Rolling Stones, dan The Shadow. Pihak kepolisian memerintahkan kepada para pedagang piringan hitam agar menyerahkan semua piringan hitam yang berisi musik The Beatles dan musik ngak-ngik-ngok lainnya sampai batas waktu 22 Juli 1965. Operasi rambut gondrong dan sasak serta mode pakaian ala Barat juga dilakukan.

Kejaksaan Tinggi Jakarta mengeluarkan instruksi kepada band dan pelaku bisnis pertunjukan untuk mendaftarkan diri agar memudahkan pihak kepolisian mengawasi.

Operasi juga dilakukan di Semarang, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. Di Bandung misalnya, kepolisian meminta agar tukang cukur, pengusaha salon kecantikan, pemilik toko, dan pembuat sepatu tak melayani permintaan potongan rambut dan sepatu ala The Beatles.

Setelah pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang memutar lagu-lagu rock ‘n roll di radio, para penggemar musik tersebut mendengarkan radio gelap dan radio luar negeri yang progresif seperti radio Australia (ABC), radio Singapura (Malaysia), radio Luxemburg, dan radio Inggris (BBC). Piringan hitam yang berisi lagu-lagu Barat beredar di kalangan terbatas.

Udara Indonesia dipenuhi lagu nasional, lagu daerah, serta gegap-gempita politik: pembebasan Irian Barat, konfrontasi Malaysia (negara baru bentukan Inggris Raya), dan keluarnya Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.


SEORANG perempuan muncul dari samping rumah kayu, berbicara lirih kepada Yok, lalu pergi. Yok bergegas menyusul. Djon mengajak saya menuju ruang tamu rumahnya. Dia masuk ke kamar sebentar, dan kembali dengan membawa dua tulisannya yang terjilid rapi. Dia meletakkannya di atas meja. Saya mengambil satu jilid dan membuka halaman demi halaman. Isinya mengenai deklarasi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa 19 Desember 1949. “Ini kan belum banyak anak sekolah yang tahu,” kata Djon.

Djon kemudian menggeser jilid lainnya ke dekat saya. Sebuah gagasan mengenai hak asasi manusia yang dia peroleh melalui tafsirnya terhadap Alquran, Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru. “Ini masih berlanjut, makanya saya beri nama gagasan. Jadi tak akan pernah selesai. Kalau memang ada yang mau menerbitkan, saya senang jika nanti terjadi polemik.”

Saya membolak-balik isi buku itu. Djon kemudian mengambil ukulele yang tergeletak di sampingnya. “Saya masih bisa menggunakan ukulele ini. Coba Anda menyanyikan lagu. Apa lagu keroncong yang Anda sukai?”

Saya berpikir sejenak. “Selendang Sutra.”

“Coba nyanyikan.”

“Selendang sutra, tanda mata darimu ….”

Djon memainkan jari-jari tangannya. Begitu nadanya ketemu dia pun menyanyi dengan lebih banyak gumaman. Belum puas, dia meminta satu judul lagu lagi. Entah kenapa saya teringat Presiden B.J. Habibie. Karena itu saya langsung berkata, “Sepasang Mata Bola.”

Djon beraksi lagi.

Djon mengaku lebih suka keroncong dan Hawaiian. Karena itulah dia memutuskan untuk keluar dari Koes Bersaudara setelah rekaman pertama. Dengan uang tabungan yang dia miliki, dia memboyong keluarganya ke Tuban, menjadi nelayan. Adik-adiknya sempat menengok. Oleh Djon mereka diajak memancing di laut. “Main musik, jadi apa saya. Dulu kan kecil sekali.”

Selepas dari rumah Djon, saya menuju rumah yang terletak di ujung kiri dari pintu masuk kompleks rumah keluarga Koeswojo. Nomo terlihat santai dengan kaos oblong dan celana pendek. Sebatang rokok terselip di antara dua jarinya. Dia membaca koran, ditemani Francise Koeswojo, istrinya, yang lebih dikenal dengan panggilan Meis. Acapkali dia bercengkerama dengan teman-temannya yang berdatangan.

Nomo dianggap anak paling nakal di keluarga Koeswojo. Dia mendapat julukan crossboy. Dia menyelesaikan sekolahnya di SMP XI dan SMA Taman Madya, keduanya di Jakarta. Koeswojo berharap Nomo menjadi sarjana, tapi Nomo ingin bekerja setamat sekolah menengah atas. Ayahnya tak mengizinkan, tapi Nomo nekat berkelana ke beberapa kota: Surabaya, Medan, dan sebagainya.

“Masak disuruh sekolah terus. Yang bisa mengukur otak saya kan saya, bukan orang lain,” ujar Nomo dengan logat Jawa Timuran –sesekali campur dialek Banyumasan, lucunya, menirukan logat saya.

Yok datang, duduk di sebelah saya. Dia telah merampungkan makan siangnya. Di kedua jarinya terselip sebatang rokok. Di sini Yok juga ikut-ikutan logat bicara Nomo. Djon datang belakangan.


MESKI sudah rekaman, honor Koes Bersaudara amat kecil. Beberapa lagu hitnya di album rekaman pertama tak mempengaruhi kehidupan mereka. Mereka masih saja pentas di mana-mana: dari pesta perkawinan hingga panggung pertunjukan. Pernah juga mereka tak dibayar gara-gara pemilik rumah yang sedang menggelar pesta perkawinan tersiram teh panas.

Satu hal yang bikin repot, penonton selalu meminta Koes Bersaudara agar terus memainkan musik meski pagi menjelang. Tak kurang akal, Yok melepaskan hewan piaraannya, ular, yang sering dia bawa untuk menghibur diri. Dan acara pun bubar.

Koes Bersaudara pentas secara berkala di gedung bioskop Megaria sebagai selingan pemutaran film. Ini strategi dagang agar film-film yang sedang diputar laris. Selain itu mereka juga rutin tampil di International Airport Restaurant Kemayoran (IARK) dua kali seminggu. Meski ada larangan musik ngak-ngik-ngok, pengunjung selalu meminta Koes Bersaudara untuk memainkan dan menyanyikan lagu-lagu The Beatles.

Larangan dan peringatan dari kejaksaan tak diindahkan. Beberapa media mulai menyorotinya. Dalam tajuknya, Warta Bhakti menyatakan perlunya penyelidikan mendalam latar belakang “pembangkangan” tersebut, bahkan menganjurkan tindakan tegas. “Bukanlah sesuatu yang mustahil … telah dijadikan alat oleh kaum imperialis melalui kaum reaksionis di dalam negeri sebagai kaki tangannya untuk mendiskreditkan nama baik Presiden/Panglima Besar Revolusi Bung Karno.”

Koran resmi Partai Komunis Indonesia, Harian Rakjat, menyayangkan bandara pintu masuk ke Indonesia itu menjadi ajang pementasan kebudayaan Barat. “Koes Bersaudara dilarang di RRI, dilarang di Gelora Bung Karno, lho malah muncul di Airport Restaurant Kemayoran,” tulis Harian Rakjat, 14 Maret 1965. Sementara Keng Po memuat karikatur yang memperingatkan bahwa di airport ada jurig (setan).

Pemberitaan itu membuat Koes Bersaudara menerima surat panggilan dari Kepala Kejaksaan Negeri Istimewa yang ditandatangani Jaksa Aroean. Beberapa hari kemudian, Tony dan Handijanto, teknisi Koes Bersaudara, memenuhi panggilan tersebut. Mereka menghadap Aroean, yang memberi teguran dan penjelasan-penjelasan, serta peringatan keras agar tak memainkan musik ngak-ngik-ngok.

Pada 24 Juni 1965 Koes Bersaudara mendapatkan undangan ke sebuah acara makan malam di Djatipetamburan II A 4A, Tanah Abang, Jakarta. Dara Puspita dan Quarta Nada juga diundang. Quarta Nada adalah grup band yang terdiri dari Surachman, Wien Arief, Angky, dan Totok.

Lewat pukul 19.00 mereka datang ke rumah Koesno, seorang kolonel Angkatan Laut, yang mengundangnya. Di sana ada beberapa duta besar, atase militer Amerika Serikat, serta perwira Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Peralatan band tergeletak di depan ruang tamu. Di luar rumah beberapa orang menonton.

Suasana pesta santai. Keempat penghibur itu bermain secara bergantian. Sebagian besar menyanyikan lagu-lagu Barat, karena permintaan tuan rumah dan pengunjung.

“Kenapa menyanyi lagu-lagu begitu?”

“Enggak apa-apa, enggak ada yang dengar,” kata Koesno.

“Ya, ya, mainkan,” teriak pengunjung.

“Lagu The Beatles juga enggak apa-apa.”

Koes Bersaudara kemudian tampil. Baru saja Tony menyanyikan beberapa bait lagu The Beatles, “I Saw Her Standing There,” terdengar suara lemparan batu dari luar yang menimpa atap rumah. Lalu diikuti suara teriakan puluhan pemuda.

“Ganyang Nekolim!”

“Ganyang Manikebu!”

“Ganyang ngak-ngik-ngok!”

Orang-orang di dalam ruangan terperangah. Permainan dihentikan.

“Tenang, tenang. Diam dulu, diam,” kata Koesno.

Beberapa orang keluar untuk mengetahui apa yang terjadi, dan beberapa lainnya berhamburan pulang.

Tony, Nomo, Yon, dan Yok keluar rumah.

“Ada apa? Ada apa?”

“Ganyang ...!”

“Ganyang ...!”

“Ganyang ...!”

“Ganyang imperialis!”

“ ... kapitalis!”

Ban sebuah mobil bernomor plat CD 12-29 sudah kempes, tapi pengendaranya terus tancap gas.

Teriakan belum berhenti. Beberapa pemuda setempat menuntut Koes Bersaudara agar langsung menyatakan minta maaf dan menyanyikan lagu “Nasakom Bersatu” bersama mereka. Tony berbicara, meminta maaf, dan berjanji tak akan memainkan lagu ngak-ngik-ngok lagi. Setelah nama-nama personel dari band penghibur itu dicatat oleh pengunjuk rasa, semua bubar.

Menurut Bintang Timur, 26 Juni 1965, keesokan harinya delegasi pemuda Djatipetamburan mendatangi Front Pemuda Pusat (FPP) di Jalan Veteran 7C untuk melaporkan pengganyangan musik ngak-ngik-ngok ala The Beatles. Soetadjo mewakili FPP membenarkan aksi tersebut. Beberapa hari kemudian Bintang Timur, 5 Juli 1965, memberitakan kedatangan pemuda-pemuda Djatipetamburan itu ke kantor redaksinya. Para pemuda melaporkan bahwa rakyat kampung marah dan mengganyang Koes Bersaudara yang sengaja memainkan lagu-lagu yang bertentangan dengan kepribadian dan bahkan telah dilarang. Di edisi ini juga, Mang Ronda, pojok Bintang Timur, menyentil dugaan adanya antek Nekolim di belakang Koes Bersaudara, yang berarti subversif. Karena itu ia berharap pihak kejaksaan mengambil tindakan serius.

Yok punya versi lain tentang Peristiwa Djatipetamburan itu. Menurutnya, Koes Bersaudara datang hanya sebagai tamu. Penggeropyokan pemuda setempat terjadi ketika mereka sedang duduk menyaksikan permainan musik Quarta Nada.

“Sekali-kali jadi tamu dong,” ujar Yok.

“Tidak main kok ya ditangkap juga, ya.”

“Itu ada rahasianya Pak Djon, cuma sampai sekarang kita tutup rapat. Cuma saya katakan, tak ada warga negara Indonesia yang tidak mau berguna bagi nusa dan bangsa!“

Yok memukul kayu penyangga rumah.

“Waktu itu kita sedang konfrontasi sama Malaysia, ingat!” Yok memukulnya lagi.

“Tapi ini jangan dimasukkan, jangan dimasukkan. Ya.”

Klik! Alat perekam saya matikan. Saya membiarkan Yok bercerita tanpa direkam.


PAGI belum beranjak. Belum banyak aktivitas di rumah keluarga Koeswojo di Jalan Melawai III No 14, Blok C, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Anak-anak mereka sedang bersantai. Tiba-tiba datang mobil kejaksaan dengan bagian belakang tertutup kaca dan jeruji. Tiga orang berpakaian hijau-hijau turun. Mereka datang hendak menjemput Tony ke Kejaksaan Negeri Istimewa untuk interogasi.

Koeswojo, Atmini, dan adik-adik Tony bingung. Tapi mereka berpikiran bahwa penjemputan itu semata untuk interogasi, kemudian akan segera dipulangkan. Tony masuk mobil tersebut.

Tak lama kemudian petugas kejaksaan datang lagi. Kali ini mereka mau menjemput personel Koes Bersaudara lainnya, yang juga katanya akan diinterogasi. Di rumah hanya ada Yon. Yon dibawa petugas tanpa sempat membawa apa-apa.

Ketika pulang berburu, Yok menjumpai tiga petugas kejaksaan sudah menunggunya. Dia diberi tahu ibunya, “Masmu ditahan kejaksaan dan kamu disuruh menyusul.”

Tanpa sempat bersih-bersih, Yok dibawa pula ke kejaksaan.

Menjelang sore, Nomo pulang ke rumah. Dia baru ditahan polisi selama tiga hari karena menabrak orang secara tak sengaja. Dia juga sudah ditunggu seorang petugas kejaksaan, dan langsung dibawa ke pergi.

Hari itu, Selasa, 29 Juni 1965, keempatnya dibawa ke kantor kejaksaan di Jalan Gajah Mada. Mereka dianggap tak mengindahkan peringatan polisi tentang pelarangan musik ngak-ngik-ngok. Penangkapan Koes Bersaudara sesuai dengan Surat Perintah Penahanan Sementara bernomor 22/023K/SPPS/1965 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta dan ditandatangani Aroean. Isinya, “Oleh karena cukup alasan menyangka dia telah melakukan kejahatan yang tersebut dan diancam dengan hukuman dalam pasal Penpres 11 tahun 1963 KUHP, sedangkan penahanannya sangat diperlukan untuk kepentingan pemeriksaan, menjaga supaya perbuatan itu tidak diulangi lagi, dan menjaga supaya dia tidak melarikan diri.”

Di kejaksaan mereka diinterogasi, dan kemudian ditahan di dalam sebuah ruang sidang. Kejaksaan tak punya sel tahanan.

Malam sudah turun. Mereka lelah, sehingga satu per satu terlelap. Nomo bahkan tidur di atas meja hijau. Di hari ketiga, mereka diperiksa kembali satu per satu. Saat pemeriksaan, mereka juga diberi wejangan tentang kepribadian nasional. Nomo malah balik bertanya, “Kepribadian nasional itu seperti apa? Kasih contoh?”

“Kulintang, keroncong, gamelan …”

“Keroncong dari Portugis, gamelan itu Jawa, itu suku bukan nasional.”

Petugas itu marah, mengeluarkan pistol, dan meletakkannya di atas meja. Brak!

Setelah pemeriksaan, mereka diputuskan untuk dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Khusus Glodok.

Penangkapan Koes Bersaudara diikuti dengan penyitaan peralatan musik mereka. Kemudian diikuti juga dengan penggeledahan surat-surat, yang ternyata hanya berisi surat-surat penggemar.

Keluarga Koeswojo mulai panik. Sudah beberapa hari anggota keluarganya tak pulang. Miyiek sibuk mencari informasi nasib keempat saudaranya setelah lima hari tak dipulangkan. Bersama saudaranya, Isuarni dari Yogyakarta, dia mendatangi Kejaksaan Tinggi. Nihil. Dia juga menghadap Jaksa Aroen bersama ibunya dan Meis, pacar Nomo, tapi Aroean hanya menjawab, “Itu perintah presiden.”

Polisi juga melarang peredaran lagu-lagu Koes Bersaudara. Namun para penggemar Koes Bersaudara masih bisa mendengarkan lagu-lagunya melalui radio Singapura. Koes Bersaudara ditahan ketika lagu “Pagi yang Indah” menjadi top hit di seberang lautan.

Penangkapan Koes Bersaudara memunculkan reaksi. 4 Juli 1965, organisasi-organisasi kebudayaan mendatangi kantor Kejaksaan Tinggi. Mereka ingin berdialog dengan pihak kejaksaan mengenai kasus penangkapan Koes Bersaudara dan pelarangan musik ngak-ngik-ngok. Mereka diterima Jaksa Aroean dan Jaksa Agung Brigadir Jenderal Sutardhio.

Dalam dialog tersebut wakil organisasi-organisasi kebudayaan mempertanyakan batasan mengenai musik-musik terlarang dan kurang jelasnya musik yang diperbolehkan berkembang di Indonesia. Menurut Aroean, garis kebudayaan adalah untuk memenangi revolusi, sehingga karya musik tak boleh bertentangan dari garis revolusi. Dia juga menegaskan bahwa tak akan diizinkan sejengkal tanah pun di tanah air untuk digunakan bermain band Beatles-Beatlesan.

Brigadir Jenderal Sutardhio menginginkan masalah generasi muda menjadi perhatian khusus karena generasi muda adalah harapan bangsa. Penangkapan Koes Bersaudara merupakan usaha mencegah kerusakan moral generasi muda.

Beberapa media menyorot penangkapan tersebut. Kompas, 4 Juli 1965, terlihat berhati-hati. Tulisnya, “Peristiwa ini menundjukan segi positif ialah betapa seriusnja kita sekalian ini sedang berusaha menumbuhkan kebudajaan nasional dalam segala pengedjawantahannja.”

Harian Rakjat, 9 Juli 1965, menilai tindakan Kejaksaan Tinggi sebagai permulaan yang baik untuk diteruskan dalam melakukan ofensif Manipolis, ofensif reaksioner di bidang kebudayaan.

waktuku di dalam bui
ku bersedih dan bernyanyi di malam sunyi
ibu dan ayah menanti
berdoa setiap hari
aku kembali


Krompyang! Piring seng berisi nasi campur jagung dengan lauk kangkung rebus plus dua potong ikan teri digeletakkan begitu saja. Cangkir seng berisi air menemani. Tony, Yok, dan Nomo melihat. Yon yang kali pertama mengambil dan memakannya.

“Enak kok.”

Yang lainnya kemudian mengikuti. Yok masih bergeming, dan hanya melihat saudara-saudarannya makan.

“Lebih baik dimakanlah daripada kita kelaparan terus sakit.”

Yok akhirnya memakannya.

Personel Koes Bersaudara dimasukkan ke ruang isolasi berukuran 2 x 2 meter, dibatasi ruang di depannya yang juga berukuran sama. Ruang isolasi ini terpisah dari ruang tahanan lainnya. Di dalamnya tersedia kakus yang dibatasi dinding papan setinggi pinggang. Ruang menghadap udara terbuka. Di pagi hari hanya pintu sel di dalam yang dibuka, sehingga mereka tetap berada di dalam sel. Malam hari pintu digembok.

Beberapa hari kemudian mereka siap dipindahkan ke sel yang lebih besar. Nomo, Tonny, Yon, dan Yok membentuk barisan, kemudian berjalan menuju salah satu sel tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Glodok. Mereka melewati pintu masuk blok.

“Brang-bang-bang-bang ....“

“Tahanan baru!”

“Tahanan baru!”

“Masuk, masuk ... Temanku itu! Minggir, minggir, minggir…,” teriak seorang lelaki.

Lelaki itu ternyata Bambang Sembuto, teman Yok, yang ditahan karena mencuri diesel di Senayan.

Keempatnya masuk ke sel nomor 15. Sel yang berkapasitas enam orang itu diisi tujuh orang. Selain personel Koes Bersaudara, ada tiga narapidana lain: Saleh, koruptor, serta Atun dan Rachim, keduanya pembunuh. Atun dipenjara karena menyuruh Rachim membunuh orang. Ketiganya, kata Yok, narapidana baik-baik yang sengaja dipilihkan untuk mendampingi Koes Bersaudara.

Mulailah mereka melakukan aktivitas rutin yang menjemukan. Tidur, makan, dan sesekali berolahraga jika di luar sel. Pagi mereka dikeluarkan sebentar untuk menikmati matahari, makan, berolahraga, atau duduk-duduk sambil mengobrol. Di luar ruang tahanan terdapat beberapa kamar mandi dan kakus.

Setelah lama di sel, mereka kenal dengan Tan Sio Gie atau Hartanto, yang kemudian menjadi bapak angkat mereka selama di penjara. Tan Sio Gie yang ditahan karena membunuh seorang polisi sering membagikan makanan dan rokok yang dikirim istrinya. Lelaki asal Semarang ini rajin menanam sawi di atas tanah kecil di belakang tahanan. Sawi itu subur. Pupuknya adalah kotoran manusia.

“Kami sudah pernah makan tahinya. Edan, dia menanam sawi, dan tahinya buat pupuk. Asem tenan,” kata Nomo sambil tertawa terbahak.

“Tapi dia baik banget,” kata Yok.

Setiap hari Miyiek mengantarkan makanan kering dan buah-buahan. Tapi dia tak diperbolehkan masuk, sehingga makanan harus diantarkan penjaga. Meis kadang harus bersembunyi di dalam drum di dekat tempat penjagaan, menunggu pergantian jaga agar bisa masuk. Sesekali dia datang diantar Meis, Cori Louise (pacar Yok), atau Sulis, teman sekolah Yok.

Lazimnya kehidupan penjara, jalur belakang acap dipakai. Banyak penggemar dan teman Koes Bersaudara mengirim makanan lewat para penjaga: dari makanan kaleng hingga biskuit.

Djon sesekali membesuk, tapi hanya ditemui Tonny. “Ton, jangan khawatir. Nanti kamu keluar dari sini boom dah. Tuhan memberi rahmat tapi terselubung lewat penahanan.”

Kesempatan bertemu yang leluasa terjadi pada 17 Agustus 1965, karena tahanan bebas keluar sel untuk menemui keluarga. Miyiek datang bersama personel Dara Puspita. Dia berpelukan dengan Yok dan menangis. Tak terasa waktu telah berlalu. Personel Koes Bersaudara segera dimasukkan lagi ke sel.

“Di penjara tengar-tengur (tak ada kerjaan). Cuma terakhir aku ketemu temanku, Johny Klasem, yang habis nggarong di Cibinong, tangisan sama saya,” kata Yok. “Ketemu Johny ketika mau pertandingan tujuhbelasan.“

Pada perayaan 17 Agustus ada pertandingan olehraga antarpenjara di Jakarta.

“Eh, volly kita menang atau tidak, Yok?” sela Nomo.

“Menang. Kita menangan. Lawan Cipinang, menang.”

“Tujuhbelas kan ada lomba, lawannya Cipinang, Salemba, Bogor.”

Pada peringatan 17 Agustus 1965 pula nama Koes Bersaudara disebut-sebut dalam pidato Bung Karno di depan Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia, “Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan?”

“Dengan Bung Karno ngomong begitu dan kita ditahan itu kan berarti kita dianggap menentang dia. Tapi kita ini mengemban misi,” ujar Yok lirih tanpa menjelaskan misi yang dia maksudkan.


NOMO sibuk dengan urusannya menjawab telepon. Nomo amat dikenal di daerah Pecenongan. Sejak sekolah menengah atas dia terbiasa nongkrong di sana, yang membuatnya lihai jual-beli kendaraan bermotor. Dua mobil berjajar rapi di teras rumahnya. Di belakangnya tertera tempelan kertas bertuliskan sold.

“Sekarang saya tak mengurusi itu lagi. Biarlah anak-anak,” ujar Nomo ketika saya tanyakan sambil menunjuk teman-temannya yang dia anggap sebagai anak angkat.

Sekali lagi, telepon di dalam rumah berdering. Kali ini Meis mengangkatnya, kemudian keluar mengabarkan peledakan bom di Gudang Peluru. “Sing ngebom kudune dipithes (yang mengebom seharusnya dibunuh),” kata Nomo. “Kasihan kan rakyat kecil, pada takut kayak zaman PKI.”

“Aku ingat Hengky, anaknya Jenderal Slamet. Waktu ada kabar bahwa komunis di Indonesia harus dibasmi seakar-akarnya, saya ngobrol di depan rumah dan bilang enggak setuju kalau PKI dibasmi seakar-akarnya. Wong yang lain kan tak tahu apa-apa. Pak Slamet yang lagi baca koran, pakai kaos oblong tentara sehabis pulang kantor, dengar, ‘Kamu ini bagaimana. Kalau mereka berhasil kalian ini sudah almarhum. Saya punya datanya.’ Jadi kita dianggap antikomunis. Wis diperkirakan bakal mati, disembelih, ngrusuhi.”

Nomo, Yok, dan personel Koes Bersaudara mengalami masih penuh gejolak itu. Malam itu, 29 Spetember 1965, beberapa panser lalu-lalang di jalanan. Personel Koes Bersaudara takjub melihat kesibukan yang tak biasa itu dalam perjalanan pulang ke rumah. Koes Bersaudara baru saja dibebaskan dari penjara dengan syarat harus melapor ke kejaksaan setiap Senin. “Masih dalam pengawasan dan bimbingan Kejaksaan Tinggi Jakarta,” tulis Jaksa Tinggi Dan Sulaiman dalam surat pembebasan. Peralatan musik milik mereka tetap ditahan sebagai barang bukti.

Keluarga Koeswojo gembira atas kepulangan mereka. Setelah melepas kangen Yok, Yon, dan Nomo langsung tidur. Tony keluar rumah, meluapkan kegembiraan dengan berkeliling kota mengendarai mobil Opel milik Handijanto. Sekali lagi dia heran melihat jalanan yang lengang. Pagi harinya Yok, Yon, dan Nomo juga berkeliling kota melihat situasi kota tapi hanya menghasilkan tanya, “Kok sepi. Ada apa, ya?”

Sesampainya di rumah, begitu radio diputar, RRI Jakarta menyiarkan gerakan militer yang dilancarkan satuan-satuan Cakrabirawa yang dipimpin Letnan Kolonel Untung terhadap beberapa jenderal yang dianggap membentuk Dewan Jenderal dan merencanakan kudeta.

“Wah, ada pemberontakan nih. Revolusi nih.”

Peristiwa yang menorehkan luka dalam sejarah Indonesia sedang berlangsung. Angkatan Darat dibawah komando Mayor Jenderal Soeharto bergerak cepat mengambil-alih situasi. Kemudian diikuti pelarangan dan penumpasan PKI beserta organisasi-organisasi onderbouw-nya. Korban pun berjatuhan.

Yon terpaksa menghentikan kuliah arsitekturnya di Universitas Republica (kini Trisakti). Dia ingat bagaimana screening diterapkan di kampus-kampus. “Yang bau-bau PKI saja, ayahnya PKI, tidak boleh kuliah. Bau-bau PKI sedikit, out; bau-bau organisasi yang kiri-kiri, out. Banyak mahasiswa hilang,” ujarnya. “Selama beberapa saat juga tak ada pertunjukan band.“

Pengawasan pemerintah terhadap pertunjukan band diterapkan di seluruh kota besar di Indonesia. Panitia penyelenggara pertunjukan dan para pemain band, bila mengadakan pertunjukan, harus minta izin kepada kejaksaan. Bila ada pertunjukan band yang tanpa izin dari kejaksaan, kepolisian berhak membubarkan pertunjukan tersebut.

Koes Bersaudara masih tetap menjalani wajib lapor. Peralatan musik masih disita. Selama beberapa bulan tak ada aktivitas pentas. Jakarta dipenuhi aksi mahasiswa dan pelajar.

Ketika keadaan mulai mereda, Koes Bersaudara mulai mendapat panggilan pentas. Koes Bersaudara tampil dengan peralatan musik yang masih disita kejaksaan, yang setelah pertunjukan harus dikembalikan lagi. Dalam setiap pentasnya penonton selalu meminta lagu The Beatles, tapi mereka menolak. Selepas pentas mereka harus membuat laporan tertulis dan menyerahkannya kepada kejaksaan. Semuanya sesuai dengan Surat Keputusan Kejaksaan Tinggi Jakarta tertanggal 10 Januari 1966.

Keajaiban datang. Koes Bersaudara tampil sebagai lambang kebebasan atas penindasan penguasa lama dan kesewenang-wenangan politik. Sejumlah organisasi, kesatuan militer, dan kesatuan aksi mahasiswa mengundang Koes Bersaudara untuk tampil di pentas-pentas pertunjukan. Jadwal pertunjukan makin padat. Bahkan pada Agustus 1966 Koes Bersaudara melakukan pertunjukan keliling Jawa dan Bali. Dari uang hasil pertunjukan itu pula Koes Bersaudara bisa pindah rumah ke Jalan Sungai Pawan 21 Blok C, Kebayoran, seluas 500 meter persegi. Tak lama kemudian, pada 1967, Koes Bersaudara mengeluarkan dua buah piringan hitam, Jadikan Aku Dombamu dan To Tell So Called the Gulties, yang berisi 24 lagu.

“Nah ini ditulis, Orde Baru itu mengadakan artis safari. Rencana semula itu wadah untuk artis seluruh Indonesia. Ternyata digerombolin ke Golkar saja. Ngertos mboten. Ini yang tidak cocok. Wong nasional kok digerombolin-gerombolin, ya ora sudi ya,” ujar Yok, masih mencampurkan dengan logat Banyumasan.

“Makanya kita cuma sekali saja. Dan ini boleh diingat, kedua, Mas Tony sudah tidak ada, tapi saya masih mau, tahun 1992 atau berapa. Karena saya pikir saat itu satu-satunya yang bisa menyelamatkan supaya tidak kocar-kacir seperti ini masih Golkar. Tapi nyatanya sudah tidak bisa direm.“

Yok membanting bungkus rokok ke atas meja.

“Kebablasan semua. Nyimpang semua”.

“Tahun 1971 saya ngurusi pemilihan umum, Sekber Golkar ke Golkar, ngirim artis-artis. Semuanya ikut, tapi yang aktif sehari-hari saya. Bukan anggota Golkar lho ya, untuk menentramkan bangsa ini. Dulu kalau bukan Golkar yang menang rusak bangsa ini. Tahun 1973 nganter misi kesenian ke Malaysia. Kemudian saya meninggalkan Golkar, bikin Yukawi,” kata Nomo menyebut nama studio rekamannya.

“Wis ditulis sing apik, sing enak, ben sing moco seneng. Dasare wong iku seneng diapusi (Sudah, ditulis yang bagus, yang enak, agar yang baca senang. Dasarnya orang itu senang dibohongi),” kata Yok.

“Ada yang tak senang diapusi; diapusi pejabat. Kalau diapusi seniman itu senang. Contohnya apa, coba?” timpal Nomo.

”Menonton film.”

“Bukan, seniman musik kok. Orang Indonesia ini lho dibohongi sama Mas Yok. Menggendong bayinya dan memberi minum susu saja tak bisa kok Mas Yok bilang kolam susu. Bukan lautan hanya kolam susu .… Benar, enggak?”

Nomo tertawa, bercanda, tapi Yok menanggapinya dengan serius.

“Itu bukan ngapusi, Mas. Itu kan mengingatkan.”

“Kan enggak mungkin kolam itu kolam susu.”

“Pengertiannya itu bahwa negara kita kaya raya. Itu filosofi. Mau menuruti ya syukur, ora yo wis. Sekarang tongkatnya enggak ditanam-tanam tapi buat rebutan.”

“Ngelingke (mengingatkan),” Nomo mengalah.

Yok kemudian pergi, entah ke mana.

“Sekarang memang susah. Elit-elit itu ribut melulu sementara rakyat pada bingung. Nah, Anda tahu satria piningit? Itu bohong. Rakyat pada bingung. Itu tekadnya bangsa Indonesia. Itu ‘Satriaku.’”

Nomo menyuruh anaknya, Reza, memutarkan kaset berisi dua lagu ciptaannya: “Satriaku” dan “Kopra Berdikari.” Keduanya merupakan akronim dari “Satu Tekad Rakyat Indonesia Akur Kembali Utuh” dan “Koperasi Rakyat Mandiri.” Saya diminta masuk ke ruangan untuk mendengarkannya.

Di mana, oh di mana
Oh di mana
Benar, benar yang benar
Yang mana
….


“Nanti ada koor sebagai backing vocal menyanyikan lagu ‘Tanah Airku,’” kata Nomo.

Lagu kedua mengalun.

Kopra berdikari
Solusi bangsa ini
Kopra berdikari
Koperasi rakyat berdikari


“Sekarang kalau aku berkarya itu berkarya untuk bangsa dan negara. Enggak aku jual, enggak aku apa-apakan,” ujarnya. “Saya keluarkan nanti, wong bangsa ini masih sembrawut. Kalau dikeluarkan malah tak berpengaruh,” ujar lelaki yang mengaku berencana mendirikan perkumpulan tani Pancasila ini.


BURUNG-BURUNG berkicauan sembari melompat-lompat di pepohonan yang memenuhi halaman rumah di Jalan Haji Nawi. Kicauan burung ini seakan menggantikan suara musik berdentam-dentam yang menunjukkan kehadiran Koes Plus, grup musik yang disegani di zamannya. Koes Plus muncul pada 1969 karena kehadiran Murry, pemain drum grup Patas, yang menggantikan posisi Nomo. Nomo keluar dari Koes Bersaudara karena lebih memilih bekerja untuk membiayai hidupnya setelah menikah.

Toh, Nomo tak bisa lepas dari musik. Dia lalu mendirikan studio rekaman Yukawi dan Lieman, mendirikan grup musik No Koes dan Nobo, serta bersolo karier. Atas pemakaian nama itu, orang digiring untuk berkomentar: No Koes itu sama dengan anti-Koes Plus. Nobo? No terhadap Bimbo! Dia sempat bergabung lagi dengan saudara-saudaranya dengan nama Koes Bersaudara dan menghasilkan album Kembali. Pada 1984, Nomo membubarkan studio rekaman miliknya.

Koes Plus perlahan menjadi band populer. Kasetnya meledak. Lagu-lagunya populer, dinyanyikan semua umur. Kepopuleran itu mendatangkan tawaran sebagai bintang iklan minuman ringan F&N dan mobil Kijang, main film, dan pemasangan gambar mereka pada sampul buku tulis. Pembuatan perusahaan film digagas tapi batal karena kekurangan modal.

Sejak Tonny Koeswojo meninggal pada 1987, Koes Plus seperti kehilangan motor penggerak. Koes Plus mengalami bongkar-pasang pemain. Setelah Abadi Soesman, anak ketiga Tony, Damon Wicaksi Wangsa Koeswoyo, sempat masuk menggantikan posisi Soesman.

Yon satu-satunya anggota keluarga Koeswojo yang tetap bertahan. Kini, bersama Murry, Andolin, dan Jack Kasbi, dia berusaha mempertahankan eksistensi Koes Plus.

Setelah beberapa kali mendatangi rumah di Jalan Haji Nawi, saya menemui Yon. Anak lelaki Koeswojo yang paling pendiam ini tinggal di rumahnya yang luas dan asri di Pamulang, Jakarta. Rumahnya di Jalan Haji Nawi ditempati Miyiek. Dia masih memelihara rambut gondrongnya. Selain pentas dan membuat lagu, dia meluangkan waktu untuk hobi yang sudah dua tahun dia tekuni: melukis. Di sebuah bangsal yang dijadikan ruang tamu berderet lukisan-lukisannya.

“Wah, dulu Koes Plus itu rajanya band di Indonesia. Betul-betul meledak ke mana-mana. Saya enggak aman, keluar ke mana-mana dirubung (dikerumuni). Saya kira enggak ada artis Indonesia kayak Koes Plus. Sekarang artis jalan-jalan, aman. Akhirnya, saya jarang keluar karena tahu bakal dirubung,” kenang Yon.

“Kalau saya manggung, honor Koes Plus Rp 3 juta. Harga Corona yang baru itu paling Rp 3,6 juta. Sekarang kalau dikurs sama saja sekali manggung Rp 150 juta. Mana ada sih artis sekarang yang honornya segitu? Kalau di daerah minimal Rp 1 juta. Harga Honda CB itu paling Rp 240 ribu. Jadi dibayar empat kali Honda. Ini harga mobilnya yang gila apa? Ha-ha-ha.... Bingung saya. Sampai saya bisa beli rumah, mobil. Sekarang kecil, enggak karu-karuan.”

Menjelang sore saya pulang, sambil membawa pesan Yon agar datang ke pertunjukannya suatu saat nanti. Mungkin saya tak akan sempat menontonnya, dan lebih memilih mendengarkan lagu-lagu Koes Plus, yang sampai kini masih digemari banyak orang.

Sepanjang sejarahnya, Koes Plus (dan Koes Bersaudara) telah melahirkan sekitar 450 lagu, yang sebagian besar menjadi hit di zamannya. Beberapa lagu diciptakan oleh Koeswojo, yang meninggal pada 2000. Sekurangnya Koeswojo menciptakan 20 lagu, yang beberapa di antaranya cukup populer: “Muda Mudi,” “Oh Kasihku,” “Layang Layang,” “Jangan Bimbang Ragu,” “Nasib Penyanyi Butuh Uang,” dan “Kasih Sayang.” Koes Plus jadi legenda. Penghargaan BASF Legend Awards pada 1992 membaptiskannya.*

Read More......