Tuesday, May 04, 2010

Huyung: Guru Para Sineas

JALAN hidupnya memang unik sekaligus kontroversial. Namanya tercatat dalam sejarah tiga negara: Korea, Jepang, dan Indonesia; sebagai Hue Yong, Hinatsu Eitaroo, dan Huyung. Demi cita-citanya sebagai sutradara film, dia mengambil pilihan yang bisa membuatnya dicap sebagai seorang kolaborator, pembelot, pahlawan, atau semata orang yang naif dan pragmatis.

Hue Yong, nama aslinya, lahir di Hamgyong, Korea, pada 21 September 1908. Tak ada catatan tentang keluarga dan masa kecilnya. Ketika beranjak dewasa, dia ingin jadi sutradara, dan mewujudkannya jadi soal sulit jika dia tetap berada di tanah airnya. Sejak 1910, dua tahun setelah dia lahir, Korea menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Jepang. Tak sedikit warga Korea yang bermigrasi ke Jepang.


Hue Yong memutuskan pergi ke Jepang untuk belajar film. Usianya masih 17 tahun. Di Tokyo, dia bekerja dengan menggunakan nama Hinatsu Eitaroo di studio film Makino Shozo, bapak perfilman Jepang. Tapi masalah keuangan memaksa studio itu tutup pada 1931. Hinatsu lalu bekerja sebagai asisten sutradara di perusahaan film Shochiku. Pada periode ini pula Hinatsu bertemu lalu menikah dengan gadis Jepang, Hanako.

Hanako lahir di Shimane, sebuah provinsi yang juga dikenal sebagai Kyoto-kecil. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang terpandang di daerahnya. Wajahnya cantik. Hanako lulus dari sekolah khusus perempuan di Tokyo (Tokyo joshi gakko) pada 1934, lalu menjadi tokoh sweet girl di Morinaga yang melejitkan namanya.

Hinatsu sendiri lagi menanjak kariernya. Sebagai asisten sutradara yang menonjol, masa depannya cerah. Pada 1933, dia juga menghasilkan karya film musikal yang berjudul Nure Tsubame. Tapi sebuah peristiwa nyaris menenggelamkan kariernya.

Suatu hari, di musim semi 1937, Hinatsu membuat adegan ledakan di depan istana Himeji untuk film panjang Summer Battle of Osaka (Osaka Natsu No Jin) yang disutradarai Teinosuke Kinugasa. Dia salah memperhitungkan jumlah bubuk mesiu. Dia terluka. Sebagian bangunan istana, yang dianggap warisan budaya nasional, rusak. Polisi menggiring Hinatsu ke kantor polisi dan menginterogasinya selama berjam-jam. Identitasnya sebagai orang Korea terbuka. Pekerjaannya hilang. Dia dinyatakan bertanggung jawab atas ledakan itu dan dihukum masa percobaan.

Di Tokyo dia sempat bekerja di perusahaan Shinke Kinema, membantu beberapa produksi film, dan menyelesaikan pendidikan di Universitas Waseda. Setelah itu dia pulang ke Korea untuk membuat sebuah drama berdasarkan kisah hidup Yi In-suk, seorang tentara sukarelawan Korea yang menjadi martir saat bertugas membela Kekaisaran Jepang. Dari sini saja orientasi hidupnya sudah mulai terbentuk, yang makin terlihat ketika dia membuat film (propaganda) Jepang.

Di Korea, dia mendapat tawaran untuk membuat You and I (Kimi to boku). Film ini dirancang sebagai “Proyek Kerjasama Film untuk Unifikasi Ibu Pertiwi dan Korea” dengan bantuan Kantor Gubernur Jenderal Korea dan Seksi Informasi Balatentara Jepang. Tanabe Masatomo, kepala Divisi Edukasi Pemerintah Kolonial Korea sekaligus temannya, memperkenalkannya dengan sutradara film terkemuka Jepang, Tasaka Tomotaka. Sebelum produksi film dimulai, Tanasaka yang semula setuju menyutradarainya tiba-tiba mengundurkan diri dengan alasan pribadi. Akhirnya film itu dikerjakan oleh Hinatsu, sebagai penulis skenario maupun sutradara.

Syuting film dilakukan di Koryo Film Studio yang seadanya, menggunakan kamera lawas dan peralatan tata pencahayaan yang didapat dengan susah-payah dari tentara kolonial dan studio film lainnya. “Orang-orang di Ibu Pertiwi (Jepang) tak akan bisa membayangkan kondisi sederhana yang biasa dilakukan di sini untuk membuat film,” ujar Hinatsu seperti dikutip Peter B. High dalam The Imperial screen: Japanese film culture in the fifteen years' war, 1931-1945.

Film ini jadi awal keterlibatan Hinatsu dalam program kebijakan film Jepang menjelang Perang Pasifik. Dan tokoh dalam You and I, bernama Kaneko Eisuke, ibarat cerminan dirinya. Eisuke seorang sukarelawan di kamp pelatihan militer di dekat Keijo, Seoul. Eisuke memilih jadi sukarelawan karena, “Pada saat krisis seperti ini, tak adil meletakkan semua tanggung jawab di pundak saudara-saudara kita di Ibu Pertiwi. Kita, pemuda Peninsula, juga harus memikul senjata untuk mengabdi pada Kekaisaran.”

Tapi motif Hinatsu mungkin tak semata pengabdian. Melihat cita-citanya, pilihan ini adalah jalan logis untuk meningkatkan karier. Selain itu, tulis Peter B. High, Hinatsu punya motif lain: “psikologi” penjajah –dalam satu periode hidupnya dia tampil sebagai ultranasionalis Jepang. Sementara Michael Baskett dalam The Attractive Empire: Transnational Film Culture in Imperial Japan, lebih melihat Hae Young sebagai hasil dari kebijakan imperialisasi Jepang di Korea, sama seperti karakter Eisuke ciptaannya.

Baskett juga menulis, sumber-sumber (dokumen) Jepang dan Korea pascaperang memiliki pandangan berbeda tentang You and I. Sejarah film Jepang menyebut film itu meraih sukses besar, sementara sejarah film Korea menganggapnya sebagai propaganda buruk yang gagal. Namun kedua sumber tersebut setuju bahwa film itu jadi katalisator yang memotivasi Hinatsu untuk meninggalkan Korea dan pergi ke Indonesia.

Hinatsu meninggalkan Hanako, istrinya yang berusia 25 tahun dan telah memberinya dua anak. Anak laki-laki mereka meninggal di usia 10 tahun. Anak perempuan mereka, Moeko, sedang beranjak dewasa. Hanako melanjutkan hidup dengan bisnis rumah makan dan sukses. ”Seniman itu dingin. Kamu nikah sama orang biasa saja ya! Ya, ayah memang melakukan semuanya demi impiannya menjadi pembuat film,” ujar Hanako kepada Moeko seperti terekam dalam http://www.k5.dion.ne.jp/~moeko/index.html.


PADA musim semi 1942, Hinatsu Eitaroo tiba di Jawa sebagai bagian dari rombongan ahli kebudayaan Jepang yang bekerja untuk Kantor Propaganda Jepang (Sendenbu).

Sendenbu, yang merupakan organ utama pemerintah militer (Gunseikanbu) Jepang, dibentuk pada Agustus 1942. Ia bertanggung jawab atas propaganda dan informasi yang menyangkut pemerintahan sipil. Beberapa orang berbakat dan spesialis di bidang kesenian tertentu, seperti Hinatsu, direkrut.

Pendudukan Jepang membawa perubahan besar-besaran dalam produksi film dan sandiwara di Jawa. Pembikinan film (propaganda) dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah. Film-film Jepang, terutama yang berguna untuk propaganda, diimpor. Dalam bidang drama, Sendenbu membentuk sekolah dan mendorong pembentukan kelompok-kelompok teater baru, yang kemudian berkumpul dalam Jawa Engeki Kyokai atau Perserikatan Oesaha Sandiwara di Djawa (POSD). Produksi drama meningkat, lahir dari karya seniman Indonesia seperti Abu Hanifah, Usmar Ismail, Armijn Pane, Idrus, Kotot Sukardi....

Hinatsu bertugas memimpin POSD, yang menggalakkan penulisan dan pementasan drama. Kelompok sandiwara yang semula bermain tanpa naskah diharuskan mementaskan cerita tertulis, setelah melalui sensor POSD. Hinatsu akan marah jika ada seniman yang menyalahi aturan. Kamadjaja, misalnya, pernah kena semprot karena nekat mengubah isi lakon teater “Petjah sebagai Ratna” karya Kotot Soekardi yang dipentaskan kelompok sandiwara Tjahaja Timoer. Tapi akhirnya Hinatsu diam saja setelah menonton pementasan.

Usaha lainnya melalui sayembara penulisan skenario film, lakon sandiwara, syair, dan semboyan yang bertemakan pengerahan Romusha. Hasil sayembara akan dibikin film, pementasan, dimuat di majalah dan suratkabar. Mohammad Hatta menjadi ketua panitia, dan Hinatsu menjadi wakilnya.

“Sayembara serupa ini perlu diadakan sebagai tindakan untuk menyempurnakan pengerahan Romusha dan untuk menyatakan penghargaan pada mereka,” ujar Hinatsu seperti dikutip Asia Raya, 4 Juni 1945.

Hinatsu sendiri rajin menulis naskah drama, yang kemudian dipentaskan di beberapa kota. Lakon-musiknya “Asia Gembira” dipentaskan kelompok sandiwara Warnasari di Jakarta, yang menampilkan tarian, nyanyian, dan musik dari berbagai wilayah Asia Timur Raya. Ada juga pementasan akbar lakonnya “Boenga Rampai Djawa Baroe”, yang merangkai tarian, nyanyian, lelucon, sandiwara, dan pencak silat, untuk menyambut peringatan tiga tahun koran Djawa Baroe.

Karya terpopulernya, “Fadjar Telah Menjingsing”, dipentaskan di Jakarta dan Surabaya untuk menyambut janji Indonesia merdeka di kemudian hari –yang disampaikan Panglima Tertinggi Tentara Jepang di Asia Tenggara Marsekal Terauci ketika bertemu Sukarno, Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat di markasnya di Dalat, Vietnam– sekaligus peringatan hari jadi POSD. Pemainnya: bintang-bintang sandiwara kenamaan dari berbagai kelompok sandiwara seperti Tjahaja Timoer, Warnasari, Noesantara, Bintang Soerabaja, dan Dewi Mada.

“POSD dengan demikian ingin membuktikan adanya gabungan dan persatuan di antara berbagai sandiwara di Jawa, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam riwayat sandiwara di Indonesia,” tulis Soeara Asia, 6 September 1944.

Hinatsu juga mengarang syair lagu “Kirikomi no Uta” karya Kusbini. Keahliannya dalam bidang film dia terapkan dalam penyutradaraan film dokumenter Calling Australia (Goshu no Yobigoe, 1944) untuk menjawab kritik Sekutu soal kamp tahanan Jepang. Pembuatannya dilakukan di salah satu kamp, dengan pemeran tahanan perang sungguhan.

Film ini menggambarkan bagaimana para tahanan menikmati kehidupan yang nyaman di kamp-kamp tahanan. Mereka mendapat perawatan kesehatan yang baik, bebas menyiapkan makanan di dapur, minum bir, dan main bilyar. Tahanan perempuan mengeluhkan kenaikan berat badan mereka. Ketika pembuatan film hampir rampung, pamflet tentang film itu dijatuhkan ke seantero Australia. Harapannya, semangat tentara Australia kendor dan mendorong mereka menyerah kepada Jepang.

Propaganda Jepang ternyata tak sebanding dengan kemampuan tempurnya dalam Perang Pasifik. Pada 1945, Jepang kalah perang. Film Calling Australia karya Hinatsu dirampas lalu dibikin ulang oleh sutradara Belanda Jaap Speyer untuk menunjukkan perlakuan kejam tentara Jepang dengan judul Nippon Presents. Calling Australia juga diputar di Pengadilan Kejahatan Perang di Tokyo pada 1945 sebagai bukti yang memberatkan para pemimpin militer Jepang.

Dalam situasi ini, sekali lagi Hinatsu mengambil keputusan sulit. Kepada seorang teman dekatnya, Hinatsu berkata: “Kalian (orang-orang Korea) semua datang ke sini (Indonesia) dalam sebuah kelompok yang bekerja untuk militer Jepang. Tapi saya atas inisiatif sendiri mencoba membujuk pemerintah kolonial Korea untuk membuat You and I dengan bantuan militer kolonial. Semua orang tahu tentang You and I. Semua orang tahu bahwa Hue Yong dan Hinatsu Eitaroo adalah orang yang sama. Ditambah lagi bahasa Korea saya tak begitu bagus. Saya adalah seorang Korea yang hampir tak mengetahui apapun tentang sejarah Korea selain apa yang saya pelajari di Tokyo… Apabila saya kembali ke Korea, saya akan dicap sebagai antek Jepang,” ujarnya seperti ditulis Michael Baskett dalam The Attractive Empire: Transnational Film Culture in Imperial Japan.

Hinatsu Eitaroo memilih tetap tinggal di Indonesia dan mengganti namanya menjadi Dr Huyung. Dia juga menikahi seorang perempuan Indonesia, dan mulai membangun dunia teater dan film Indonesia yang sedang berkembang.


PADA Juli 1948, sebuah konferensi pers digelar Kementerian Penerangan di Yogyakarta, pusat pemerintahan Republik ketika agresi militer II Belanda. Isinya, Kementerian Penerangan akan membuka sekolah film dan teater, Cine Drama Institute, di Manduretna, Notoprajan, Yogyakarta. Tujuannya pendirian sekolah film modern itu adalah mendidik seniman Indonesia dengan teori dan praktik.

“Cine Drama Institute itu sifatnya dapat disamakan dengan Hollywood’s Quarterly atau Course Dunham School of Drama and Theatre di Amerika dan Soviet Film Academy di Rusia,” ujar Iskak, kepala bagian Film dan Sandiwara di Kementerian Penerangan, sebagaimana ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi.

Huyung, yang karena pengalamannya diangkat menjadi pegawai bagian Film dan Sandiwara di Kementerian Penerangan, mengatakan bahwa institut ini akan mengajarkan teknik film, teknik drama, pressphoto, musik, tari, ilmu kesusastraan, kesenian, serta bahasa Indonesia dan Inggris.

Di Yogya inilah terekam perjalanan kreatif Huyung di bidang drama dan film. Di sini dia dia sering memberi ceramah tentang sandiwara dan film. Di antara murid-muridnya tercatat nama Usmar Ismail, bapak perfilman nasional. Pembentukan Cine Drama Institute juga tak lepas dari perannya. Sekolah ini menerima pemuda lulusan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) atau yang sederajat dan pegawai film yang sudah berpengalaman. Lama pendidikan: 1,5 tahun. Pemimpin umum sekolah adalah Mr Sujarwo. Iskak dan Huyung menjadi kepala sekolahnya. Guru-gurunya antara lain Drs Sigit, Ki Hajar Dewantara, Armijn Pane, Drs Sumaji, dan Intojo. Salah seorang siswanya, Soemardjono, kelak menjadi sutradara terkemuka. Tapi institut itu tak bertahan lama. Huyung sendiri mengundurkan diri karena adanya konflik sesama pendiri.

Setahun kemudian dia mendirikan Stichting Hiburan Mataram, dengan R.M. Darjono dan R.M. Harjoto sebagai pucuk pimpinannya. Sticting Hiburan Mataram lalu menelorkan Kino Drama Atelier (KDA) yang dikerjakan secara sungguh-sungguh oleh Huyung. Dia juga masih sempat membuat naskah drama “Malam Sutji” yang pementasannya diusahakan oleh Badan Persatuan Pendidikan Tionghoa Yogyakarta dan “Kisah Pendudukan Yogya” yang dipentaskan kelompok drama Ksatrya. Sukarno bahkan memuji pertunjukan dramanya.

Dia tak ingin perkembangan seni di Indonesia mandeg. Dia sering berdiskusi dengan sejumlah seniman. Percakapannya dengan Sudjojono dan Sudarso Wirokusumo, misalnya dimuat di majalah Kesenian tahun 1950, lalu dijadikan brosur yang diterbitkan Kementerian Penerangan. Isinya membicarakan berbagai kesenian di Indonesia dan kemungkinan-kemungkinannya di masa datang.

Pada tahun itu juga, Huyung kembali ke Jakarta dan membikin film Antara Bumi dan Langit, produksi Stichting Hiburan Mataram dan Pusat Film Nasional. Naskah skenarionya dibikin sastrawan Armijn Pane. Ceritanya tentang kedudukan pribumi dan Belanda yang bagaikan bumi dan langit serta cinta yang tak tergapai antara Abidin (diperankan oleh S. Bono) dan Frieda (Grace), gadis blasteran. Dalam film itu, Huyung menyelipkan adegan ciuman –yang kelak dianggap sebagai yang pertama dalam sejarah film Indonesia.

“Pemilihan pokok ceritanya memang aktual (persoalan Indo) tapi dalam pengubahan skrip tetap mengarah pada komersialisme… Antara Bumi dan Langit telah melakukan konsesi terhadap selera penonton-banyak, karena sex-appeal dan nyanyiannya, seperti pernah ditulis sendiri oleh Armijn Pane bahwa memang sengaja memasukkan resep film Amerika: avontuur, spanning, romantik, tragik, nyanyian, dan sebagainya,” tulis Usmar Ismail dalam Mengupas Film.

Masalah muncul ketika beberapa adegan ciuman muncul di suratkabar. Kontroversi pun merebak. Pada 21 Januari 1951, empat bulan sebelum badan sensor memberikan persetujuan, Pelajar Islam Indonesia cabang Medan memprotes film itu. Ekspatriat di Indonesia memprotes isinya yang sensitif. Film ini tertahan di lembaga sensor selama dua tahun dan beredar kembali setelah revisi dan mengubah judulnya jadi Frieda, nama tokoh utamanya. Revisi itulah yang membuat Armijn Pane menolak pencantuman namanya.

Film itu meraih sukses. Huyung lalu membuat film Bunga Rumah Makan (dari karya Utuy Tatang Sontani), Gadis Olahraga, dan Kenangan Masa. Tapi ajal keburu menjemputnya sebelum dia sempat menyumbangkan lebih banyak karya bagi perfilman Indonesia. Dia meninggal dunia karena sakit di usia 43 tahun, pada 9 September 1952. Dia dimakamkan di Petamburan, Jakarta.

Sebagian perjalanan hidup Hinatsu coba dirangkai oleh Moeko, anak perempuannya. Semula dia berpikir ayahnya gugur dalam perang. Lalu dia mendengar dari ibunya bahwa sang ayah pergi ke Jakarta sebagai agen penerangan tentara Jepang dan tak diketahui rimbanya. Moekoe sendiri berpikir ayahnya masih hidup dan membuat film di Indonesia. Usai perang dia lega ketika tahu ayahnya masih hidup, menikah lagi, dan punya anak dari istri keduanya. Dari film-film ayahnya, dia merasa bahwa ayahnya sangat mencintai keluarga.

“Ibu, ayah menggunakan namamu dalam film-film yang dibuatnya di Indonesia. Misalnya film Restoran no Hana atau drama Asia no Hana no Kisetsu,” bisik Moeko dalam hati kepada arwah ibunya. Hanako, istri pertama Huyung, meninggal pada 1960.

Sepeninggalan Huyung, kelompok filmnya bubar. Para sineas dan dramawan Indonesia merasa kehilangan. Bagaimana pun Huyung sudah meletakkan dasar bagi perkembangan seni pentas dan film di Indonesia. *


[Dimuat di www.majalah-historia.com tanggal 3 Mei 2010 dalam tiga tulisan: “Di Negeri Penjajah”, “Antara Drama dan Film”, serta “Guru Para Sineas”]

Read More......

Friday, April 09, 2010

Beb

SEHARIAN Beb sibuk. Ia sudah mempersiapkan beberapa lagu yang akan ia nyanyikan. Kostum sudah pula ia persiapkan: kebaya Sunda. Beb akan menyanyi di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, mengisi acara malam pergantian tahun sekaligus peresmian rumah makan milik saudaranya. Ia berangkat malam hari, menembus jalanan yang rusak di sana-sini, di antara gerimis dan kabut tipis.

Pukul lima pagi, setelah perjalanan yang melelahkan, Beb sampai di losmen di pinggir pantai. Tapi ia tak ingin segera bersantai, sementara Sang Mama sudah melenggang menuju pantai. Deburan ombak tak menggerakkan kakinya untuk menengok sejenak. Masih ada waktu nanti untuk memanjakan mata. Ia membereskan tas, membersihkan badan, lalu bersiap tidur. Belum juga lelap, sebuah pesan pendek masuk: sang abang pingsan. Beb mulai gelisah.


Sudah beberapa minggu ini abangnya keluar-masuk rumah sakit karena liver. Semalam ia mendapat kabar kesehatannya sudah membaik, dan bahkan sudah pulang ke rumah. Beb bisa pergi ke Ujung Genteng dengan perasaan tenang. Tapi pagi ini, sakit abang kambuh lagi. Beb membalas pesan pendek agar abang dibawa ke rumah sakit.

Selang beberapa menit, telepon berdering. Kabar buruk datang lagi: abang meninggal dunia. Beb tercekat. Suaranya terbata, lalu menjerit, menangis. “Bohong, kamu bohong….”

Saya terkesiap dari tidur. Saya melihat Beb histeris. Sendirian. Pintu losmen masih terbuka tapi tak ada seorang pun di beranda. Saya mendekat, mendekap, berusaha menenangkannya. Tapi Beb terus saja berteriak, terus meyakinkan diri bahwa kabar itu isapan jempol belaka. Tubuhnya lunglai. Kakinya menendang apa saja yang ada di dekatnya. “Aku ingin memberikan yang terbaik buat abang. Tapi kenapa tak diberi kesempatan...” ia merengek.

Saya mulai panik. Saya menghubungi nomor ponsel Mama, tapi suara panggilan berdengung di dalam kamar. Penghuni losmen lainnya, yang mondar-mandir di halaman losmen, hanya melihat dari kejauhan. Mungkin mereka berpikir kami pasangan muda yang sedang bertengkar hebat.

Mama akhirnya datang. Beb masih menangis. Hampir satu jam, kami berusaha menenangkan hingga isak tangisnya reda. Kami meluncur pulang ke Cianjur, meninggalkan semua barang di dalam losmen, meninggalkan mimpi liburan penutup tahun.



ACARA pemakaman rampung sudah. Semua keluarga berkumpul di rumah abang. Saya duduk di halaman rumah, melihat anak-anak abang sudah melewati kesedihan, bermain dengan teman-teman mereka. Sesekali saya mengobrol dengan adik Beb, yang sibuk menerima tamu. Malam ini akan ada acara tahlilan. Tapi hari sudah sore. Saya undur diri. Saya menuju rumah Mama.

Saya mengenal Beb, juga keluarganya. Dengan kepergian abang Beb, berarti saya harus merelakan kepergian seorang sahabat; teman seperjalanan, teman bercanda dan bermain kartu. Saya masih ingat, hampir dua tahun lalu, dia pernah menemani saya di Ujung Genteng. Ah, kami belum berpikir apakah akan kembali ke sana.

Beb menghabiskan hari ini dengan keluarganya. Cianjur bagaimanapun adalah tempat yang begitu lekat dalam hidupnya. Hampir semua keluarganya tinggal di sana. Setidaknya sebulan sekali Beb mengunjungi ibu dan saudara-saudaranya.

Beb lahir di Cianjur. Ayahnya bekerja di kantor Kejaksaan, yang sering berpindah tempat tugas. Beb kecil pun tumbuh di lingkungan yang berbeda, mengikuti dinas ayahnya: Subang, Bandung, Jakarta, Cianjur, dan Jakarta.

Sedari kecil Beb suka menyanyi. Di Bandung, sejak taman kanak-kanak hingga kelas 2 sekolah dasar, Beb sering menyanyi di depan umum. Biasanya ia berduet dengan sang kakak, Sukesih yang kelak dikenal dengan nama Endang S. Taurina, untuk mengisi acara ulang tahun kantor ayahnya. Mereka menyanyikan lagu anak-anak seperti “Sang Kodok”-nya Yenny atau Pretty Sister.

“Pokoknya selalu duet,” ujar Beb.

Pindah ke Jakarta, keluarga Beb tinggal di kompleks kejaksaan di Tebet. Beb melanjutkan sekolah dasarnya. Di sini Beb pernah ikut lomba menyanyi anak-anak se-Jakarta Selatan, mewakili sekolah. Kali ini ia tak bisa berduet tapi malah harus bersaing dengan sang kakak. Hasilnya, Endang meraih juara pertama, sedangkan Beb kedua.

Lulus sekolah dasar, Beb masuk SMP 73, sekolah favorit di Tebet Timur –beberapa alumninya menjadi artis terkenal seperti Astrid Ivo, Titi Dwi Jayanti, dan Naratama. Di Tebet pula Beb bergabung dan berlatih menyanyi di Sanggar Vita pimpinan Ibu Ida. Vita sering mengisi acara-acara TVRI, satu-satunya televisi yang mengudara saat itu, dari acara Natal hingga Lebaran, dari Lalu Lintas hingga Aneka Ria Anak-Anak.

“SMP masih menyanyikan lagu anak-anak?”

“Karena badan saya kecil, jadi masih sering ikut,” ujar Beb.

Dan di usia semuda ini pula, Beb mulai rekaman. Mulanya ajakan teman-teman dari kelompok musik untuk membuat album lagu. Yang tanda tangan kontrak sang manajer. Tugas Beb hanyalah menyanyi, berduet dengan Endang. Mereka harus merekam 12 lagu hanya dalam dua hari. “Agak berat. Karena kami tak berpengalaman ya nurut aja. Operator sampai geleng-geleng kepala; iba melihat kami diperdaya tanpa bisa berbuat apa-apa.”

Jadilah sebuah album berisi 12 lagu. Lagu andalannya “Pelita Hati”, yang menurut Beb, agak berat syairnya. Meski sudah kelar rekaman, album itu tak juga keluar di pasaran.

Pada 1983, Endang S Taurina meluncurkan sebuah album dengan lagu andalan “Apa yang Kucari” dan meledak. Momen ini dipakai produser Beb untuk meluncurkan album yang belum sempat edar. “Mungkin ini trik dagang. Dia mendompleng kepopuleran Endang S. Taurina,” ujar Beb.

Beb senang kakaknya menjadi penyanyi terkenal. Ia sendiri tak ingin mengikuti jejak. Baginya, itu sudah cukup. Ia juga terbiasa berduet dengan sang kakak, belum berpikir menyanyi solo. Tapi orangtuanya mendorong agar Beb rekaman. Tawaran juga datang dari A. Riyanto, yang melejitkan nama Endang S. Taurina. Orangtuanya terus membujuk, hingga Beb pun menyerah. Pergilah mereka menemui A. Riyanto, “Om, Ratih sudah mau nyanyi.”

A. Riyanto mengetes vokal Beb. Ketika menyanyikan lagu Tommy J Pisa, sebentar saja, A. Riyanto sudah menghentikannya dan meminta Beb menyanyikan lagu pop manis Iis Sugiarto, “Jangan Sakiti Hatinya”. Dan A. Riyanto pun menemukan ciri suara Beb.

“Ratih cocok dengan tipe suara Iis Sugiarto,” ujar A. Riyanto.

Beb menandatangani kontrak rekaman dengan Nada Utama tapi baru mendapat lagu dan rekaman setahun kemudian. Pada 1986, keluarlah album Antara Benci dan Rindu, sesuai dengan lagu andalan karya Obbie Messakh, pencipta lagi yang produktif pada 1980-an. Di album pertama ini, kepopuleran Endang S. Taurina masih dibawa-bawa. Foto Endang terpampang di sampul kaset. Lagu “Antara Benci dan Rindu” pun meluncur manis di pasaran. Ia sering muncul di acara-acara musik di TVRI: Safari, Irama Masa Kini, atau Selecta Pop.

Album pertama Beb meledak. Beb mendapat Golden Album Plus. Hadiahnya keliling Amerika. Namanya langsung populer.

“Tapi waktu itu aku belum yakin, masih belum percaya diri.”

Lalu, meluncurlah album-album Beb berikutnya: Kau dan Aku Berbeda, Mungkinkah Ini Nasibku, Inginnya Begini Jadinya Begitu, dan sebagainya. Setidaknya 25 album ia hasilkan, baik sendiri maupun duet dengan Endang S. Taurina. Hampir semua lagunya sukses di pasaran.

“Semua yang cari dan milih lagu produser, aku hanya menyanyi. Rata-rata, suaranya yang manja-manja gitu,” ujar Beb.

Industri musik belum segemerlap sekarang. Meski sudah merilis banyak album, namanya sudah dikenal, tapi Beb jarang pentas. Dan Beb tak berubah. “Aku kan agak pendiam. Seperti orang biasa saja. Senang saja kalau ketemu penggemar, minta tanda tangan.”

Di kantin Perpustakaan Nasional, ketika Beb menemani saya membuka koran-koran lama, penjaga kantin ribut: meminta tanda tangan, nomor handphone, berfoto bersama. Beb, dan Endang, juga pernah bertandang ke rumah saya. Tetangga berdatangan. Dan ada satu penggemar fanatiknya, yang tak bosan berkirim surat sedari Beb tenar sampai sekarang. “Hampir setiap hari dia kirim SMS,” ujar Beb.

Beb terharu, dan pernah membalasnya sekali. Dan kalau pusing dengan banjir pesan pendek itu, Beb akan menghapusnya.

Beb menunjukkan pesan-pesan pendek itu.



NAMANYA Ratria. Ia bilang bekerja di sebuah restoran di Surabaya. Ia mendaku sebagai penggemar fanatik Ratih Purwasih. Ia suka dan hafal semua lagu Beb. Ia sendiri lupa sejak kapan mulai berkirim surat, dan belakangan pesan pendek, ke Beb. Dalam suratnya, ia pernah bercerita tentang seorang teman yang bertanya bagaimana ia bisa mengenal Ratih Purwasih, dan ia tak bisa menjawabnya.

“Aku gak tahu tiba-tiba kenal sama idolaku, kirim surat juga gak pernah dibalas. Aku juga sudah lupa isi surat yang aku kirim. Kira-kira Kaka ingat gak mulai tahun berapa aku kirim surat ke Kaka? Selamat malam, Kaka. Semoga mimpi yang indah. AKU SAYANG KAKAK SELAMANYA,” ujarnya dalam pesan pendek ke Beb.

Surat-suratnya tak jauh dari ungkapan kerinduan, puisi-puisi sentimentil, seakan ia tidak sedang berbicara sendirian atau tepatnya tak peduli. Di awal surat, biasanya ia menulis: “Kakaku sing ayu dewe sak Indonesia.” Di ujung surat, ia akan torehkan kata ASK, akronim dari Aku Sayang Kaka(k).

Ratria sering merasa tak enak hati; takut pesan-pesan pendeknya menganggu Beb. Ia mengira Beb sudah bersuami. Tapi terkadang Ratria putus asa.

“Kaka sengaja kan menjauhi aku. Mungkin Kaka nganggap aku lesbi? Ok. Aku gak akan ganggu Kaka lagi. ASK.”

Sesekali Ratria marah, suratnya tak berbalas. Tapi ia segera sadar, dan segera mengirim surat lagi, dengan nada yang kembali normal, seolah kemarahan itu tak pernah ada. Lalu, ketika sepi menghentak di dini hari, Ratria mengirimkan puisi.

Tapi mengirim berpuluh-puluh pesan tanpa jawaban, membuat Ratria berang.

“Kaka ke mana saja sih… Di-SMS gak mau balas. Kaka gak peduli dengan perasaanku. Aku ngerti Kaka seorang ARTIS. Tapi aku anggap Kaka sebagai seorang sahabat yang bisa kuajak bicara. Ternyata aku salah, Kaka gak mau bersahabat denganku. Kaka bukan RATIH PURWASIH yang aku kenal, yang selalu penuh kasih sayang seperti lagu-lagu yang Kaka nyanyikan. Sekarang Kaka cuek padaku dan jaga jarak sama aku. Iya deh aku ngerti kok. Semoga Kaka sukses selalu. Nikmatilah… Semoga Kaka selalu bahagia selamanya…”

Kali ini Beb menjawab. Ia juga tak ingin penggemar beratnya kecewa. Balasan pesan pendek itu cukup menghibur Ratria.

“Selamat malam, Kak Ratih. Sekarang aku percaya kalau Kaka adalah RATIH P yang selama ini aku rindukan, yang penuh kasih sayang, lembut, ramah, dan hangat. Pokoknya Kaka gak boleh berubah. Jadilah RATIH P yang dulu dan sampai kapan pun ya, Kak. ASK selamanya.”

Saya tak bisa membayangkan sosok Ratria. Saya pernah menelponnya. Suaranya lirih, agak malas-malasan menjawab telepon. Ia menolak wawancara saya dengan alasan sibuk. Tapi ada sebersit kebimbangan ketika ia perlu meyakinkan diri dengan menanyakan lagi: “mau apa”, “untuk apa”, kemudian mengelak wawancara lagi. Berulang-ulang.

“Ini siapa sih?”

Saya jelaskan. Ia menjawab benar ia penggemar berat Ratih Purwasih tapi, “Kalau diwawancarai aku gak bisa.”

“Kenapa?”

“Udah ah… aku sibuk.”

“Okay. Kapan punya waktu?”

“Mau apa sih?”

Saya jelaskan lagi.

“Gak ah..”

“Kenapa?”

“Takut aja.”

Telepon tutup.

Kepada Beb, Ratria memohon agar ia tak diwawancarai: “Ratria sayang Kaka, tapi Ratria gak mau diwawancarai. Tolong ya, Kak.”



PADA 1994, Beb pindah ke produser rekaman Blackboard dan meluncurkan sebuah album Biasanya. Tapi badai menghantam kehidupan pribadinya. Beb memilih pindah ke Bali, meninggalkan albumnya yang sudah rilis, menghentikan aktivitasnya menyanyi. Dua tahun lamanya ia mencoba menggapai kehidupan baru.

Sepulang dari Bali, Beb mulai menekuni lagi dunia menyanyi. Tapi industri musik sudah berubah. Pendatang baru muncul, dengan corak dan warna musik yang lebih menghentak. Lagu-lagu pop era 1980-an mulai teredam, apalagi sebelumnya ada larangan “musik cengeng” yang dilontarkan Menteri Penerangan Harmoko.

Tapi lagu-lagu pop lama punya penggemarnya sendiri. Dan Beb bertahan di jalur ini. Ia menandatangani kontrak dengan Nada Pesona Record untuk rekaman lagu-lagu lama dengan aransemen baru. Setelah itu ada tawaran rekaman album dangdut Jawa dengan Bais Record. Ia menyanyikan satu lagu “Klambi Biru”, berduet dengan Bambang Is, pejabat Departemen Perhubungan yang jadi produser, pencipta, dan penyanyi. Video klip “Klambi Biru” diputar di TVRI dan Global TV.

Beb sempat sangsi karena harus menyanyikan lagu berbahasa Jawa. “Padahal, saya menyanyi lagu etnis baru kali ini, dan langsung Jawa. Mungkin karena unsur musik pop Jawa sudah diterima publik. Meski ini versinya beda dengan Didi Kempot,” ujar Ratih Purwasih.



SAYA mengenal Beb empat tahun lalu. Kali pertama bertemu, saya langsung mengenalinya. Sosoknya pernah mengisi kenangan masa kecil saya. Saat itu, tahun 1980-an, wajahnya sering muncul di acara-acara musik di TVRI. Dan waktu duapuluh tahun tak mengubah penampilannya. Wajahnya tetap segar dan muda. Suaranya masih sama: centil dan kenes.

Di keluarganya di Cianjur ia dipanggil Ratih atau Atih. Di rumah di Jakarta, ia dipanggil Beb –panggilan kesayangan saudara-saudaranya, yang bisa juga singkatan dari Barbie atau Baby. Ya, Beb seperti Barbie, boneka lambang kecantikan modern. Kulit putih, rambut ikal. Beb selalu menjaga penampilan. Beb akan kebingungan kalau rambutnya sudah panjang atau badannya sedikit melar. Beb tidak merokok. Beb tidak suka minuman keras. Pernah sekali ia menyesap seteguk bir, dan keesokan harinya ia bingung: suaranya serak. Ia pun kapok.

Beb juga berarti baby. Saya belum pernah melihat Beb bepergian sendiri. Ia selalu ceria, tapi tiba-tiba bisa sedih. Ia juga akan menjerit-jerit kalau seekor kupu-kupu melintas. Ini trauma masa kecilnya. Sewaktu kecil, ia pernah melihat kupu-kupu mati di taman rumahnya. Dan sejak itulah ia tak mau melihat kupu-kupu, membiarkan keindahannya hilang dari pandangan matanya.

Beb lebih banyak tinggal di rumah. Kesehariannya berlatih menyanyi –selain juga mulai menciptakan lagu. Tak melulu lagu-lagu lama. Ia juga menghafal lagu-lagu yang lagi populer. Ia harus tetap fit dan up-to-date ketika tampil di atas panggung. Ia tak ingin permintaan penonton tak bisa terpenuhi. Inilah cara Beb menjaga eksistensinya di dunia musik; tidak lagi di layar kaca (meski sesekali ia tampil) tapi dari panggung ke panggung. Bisa di kafe, acara ulang tahun, apa saja. Seperti di Ujung Genteng, di malam pergantian tahun, beberapa jam setelah melepas kepergian abang, dalam letih, kantuk, dan kesedihan yang belum sepenuhnya hilang.

“Ada yang tahu lagu saya, nggak?”

Semua penonton, yang sebagian besar anak muda, terdiam. Beb terus memancing perhatian penonton, terutama tentu pengunjung yang sudah berumur. Dan akhirnya Beb menjawabnya sendiri: “Antara Benci dan Rindu.”

Lalu mengalunlah lagu itu, yang di era tahun 1980-an pernah menjadi hits.

Yang, hujan turun lagi
Di bawah payung hitam ku berlindung
Yang, ingatkah kau padaku
Di jalan ini dulu kita berdua
Basah tubuh ini, basah rambut ini
Kau hapus dengan sapu tanganmu


Ia terus menyanyi. Kesedihan, setelah kepergian sang abang, tak tampak di raut wajahnya –ia pendam dalam-dalam. Saya melihatnya dari kejauhan. Sesekali memotret.

Lagu demi lagi terus mengalir. Sesekali Beb melenggangkan badan, meliuk-liukkan tangannya, kala menyanyikan lagu Sunda. Dan penonton terus memintanya menyanyi. Tapi ia harus memberi tempat bagi kelompok musik anak muda, yang juga jadi pengisi acara ini. Seperempat jam sebelum pergantian tahun, Beb menuju losmen di tepi pantai. Ia sangat lelah. Ia berangkat tidur begitu dentuman petasan mulai meredup.

Pagi di awal tahun 2009 pantai mulai sepi. Satu per satu penghuni losmen pulang. Beb berbincang dengan Mama di beranda. Ada banyak hal yang akan dikerjakan Beb di tahun ini. Mungkin rekaman lagu-lagu Sunda. Tetap tampil menyanyi di acara-acara pesta ata acara televisi. Tapi Mama juga ingin Beb bisa lepas, mandiri, seperti kupu-kupu.

Kami pulang keesokan harinya. Ada tamu menunggu di rumah.

Hawa dingin kota Cianjur menembus kulit. Hujan juga baru saja turun. Beb keluar kamar dengan mengenakan jaket sport berwarna hijau dengan tudung kepala ketika sang tamu hendak pulang. Rumah kembali sepi. Beb melangkah masuk. Baru dua langkah, ia terpekik. Seekor kupu-kupu melintas. Beb menundukkan kepala, menangkupinya dengan tangan. Wajahnya pucat pasi. Kami tertawa, dan terus menggodanya. Beb berlari menuju kamar.

Beb, usaikan saja ketakutanmu pada kupu-kupu. Mungkin dengan begitu kau bisa terbang bebas, lepas, seperti kupu-kupu.*

Read More......

Wednesday, March 17, 2010

Emiria Sunassa: Perupa Genius




Namanya terlupakan dalam sejarah. Padahal ia salah seorang pelopor senirupa Indonesia modern.

“SENIMAN menciptakan sesuatu dari apa yang dinamakan ketiadaan,” ujar Emiria Sunassa.

Emiria sendiri seolah muncul dari ketiadaan, lalu menghilang begitu saja di masa akhir hidupnya. Dalam sejarah senirupa, namanya terdengar asing ketimbang nama-nama besar macam Basuki Resobowo, Sudjojono, Mochtar Apin, Rusli, dan perupa laki-laki lainnya. Padahal ia layak disebut pelopor perempuan perupa di Indonesia karena keberadaannya pada awal perjalanan sejarah senirupa dan konsistensinya dalam berkarya.


Ketika orang mempertanyakan aspek gender dalam senirupa, yang melihat perempuan bukan hanya sebagai objek tapi juga subjek, Emiria Sunassa sudah bergerak lebih maju. Sudjojono, bapak senirupa modern Indonesia, bahkan pernah menyebutnya “genius”. Salah satu karyanya, “Pengantin Dayak”, yang dominan dengan warna merah jambu dan coklat tua, menjadi koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.

Pada dasarnya Emiria Sunassa tak berpikir jadi pelukis. Sebagai putri Sultan Tidore, ia hidup bergelimang kemewahan. Emiria lahir di Tanawangko, Sulawesi Utara, pada 1895. Meski ayahnya seorang raja yang berpikiran modern, Emiria hanya boleh belajar tak lebih dari kelas 3 Europese Lagere School. Tapi jiwanya “berontak”. Emiria bertekad kelak ia bisa mengunjungi negeri-negeri jauh dan mempelajari banyak hal.

Suatu ketika seorang duta luar negeri sakit. Emiria merawatnya hingga sembuh. Ia tak menyangka ketika lelaki itu melamarnya begitu sembuh dan akan pulang ke negeri asalnya. Emiria menerimanya. Dan sampailah ia ke Eropa.

Emiria belajar tari balet dari Miss Duncan dari Dalcroze School di Brussel dan dari Green di Amsterdam. Di Wina bahkan ia bermain dalam satu balet termasyhur sebagai puteri Timur. Ia muncul sebagai “Sun”, dengan sekujur tubuh berkilauan bak matahari. Penonton senang. Sejak itu ia disebut “Sunny”.

Tapi perkawinannya kandas. Ia bercerai dan kembali ke Indonesia. Di negeri sendiri ia masih senang melakukan perjalanan. Ia punya perkebunan di Halmahera, yang hasilnya bisa membiayai perjalanannya keliling daerah dan kelak apa yang ia lihat tertuang dalam lukisan-lukisannya.

Belakangan ia bertemu dengan Dr Pijper, yang suka seni. Suatu kali Pijper memperlihatkan reproduksi lukisan yang ia peroleh dari Belanda. Ia ingin tahu pendapat Emiria. Rupanya tanpa canggung Emiria melontarkan banyak kritik. Pijper terkesan. “Adakah kau mempunyai banyak pengertian tentang melukis gambar?” tanya Pijper seperti dikutip Soh Lian Tjie, wartawan perempuan, dalam “Emiria Sunassa, Dongeng Tentang Satu Pelukis Wanita” yang dimuat di Pantjawarna, Maret 1953.

Emiria mengangguk.

Pijper tak percaya. Ia belum pernah melihat Emiria melukis, atau melihat lukisannya. Penasaran ia mengusulkan agar Emria membuat satu lukisan sebagai kado ulangtahunnya. Emiria setuju. Tapi di dalam hati ia mengutuk: edan. Nasi sudah menjadi bubur, ia tak mau mundur.

Beberapa minggu telah lewat tapi lukisan jadi. Berkali-kali pula Pijper datang dan menanyakannya. Dengan ketus, Emiria menjawab ia tak dapat melukis sesuatu tanpa pensil, cat, dan kain linen. Pijper memberikan apa yang dibutuhkan Emiria. Lukisan belum jadi juga. Kali ini Emiria beralasan belum pernah jalan-jalan keluar Jakarta. Pijper mengajaknya ke Telaga Warna di daerah Puncak. Pemadangan di sana menakjubkannya. Tapi dengan beralasan ia bilang tak membawa kertas dan potlot. Akhirnya Pijper-lah yang membuat sketsa telaga itu untuknya. Sepulangnya, mulailah Emiria melukis.

Perlahan tapi pasti Emiria mulai menghasilkan banyak lukisan, dikenal, dan ikut pameran lukisan. Ia menjadi anggota Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) yang didirikan Sudjojono dan Agus Djaja pada 23 Oktober 1938. Ketika Bond van Kunstkringen, persatuan seniman Belanda, mengadakan pameran lukisan yang diperuntukkan bagi seniman-seniman Indonesia di Batavia pada 1941, Emiria ikut memamerkan karya-karyanya. Pameran 61 lukisan karya 30 pelukis pribumi ini menampilkan lukisan bertema pemandangan alam dan kehidupan sehari-hari yang merupakan tanda perkembangan seni rupa modern.

Di masa Jepang, Emiria juga masuk bagian seni Keimin Bunko Shidosjo (Pusat Kebudayaan), yang dibentuk pemerintah militer Jepang untuk tujuan propaganda. Pada 29 Agustus 1942, Pusat Kebudayaan memulai kegiatannya dengan pameran lukisan. Emiria satu-satunya perempuan yang ikut. Pameran berlangsung selama 60 hari dan sukses, sehingga dibikin kegiatan lainnya. Begitu pula ketika Poetera (Pusat Tenaga Rakyat) di bawah kepemimpinan Sukarno terbentuk. Emiria menjadi anggota seksi kesenian, yang dipimpin Sudjojono, dan tentu saja aktif mengikuti pameran. Di zaman Jepang, namanya tercatat dalam buku Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa terbitan Goenseikanbu tahun 1944, dengan nama lengkap: Emiria Sunassa Wama'na Putri Al Alam Mahkota Tridore gelar Emma Wilhemina Parera.

Kritikus seni Sanento Yuliman, dalam buku Dua Seni Rupa, menyebutkan bahwa pada akhir April 1943, Emiria memamerkan sejumlah lukisan dengan objek lukisan berupa patung masyarakat suku Indonesia dalam sebuah pameran di Jakarta. Menurut Sanento, karya Emiria merupakan salah satu ciri karya seni lukis yang menampilkan keindonesiaan melalui penggambaran artefak masyarakat suku di Indonesia.

Menurut Soh Lian Tjie, yang mengunjungi Emiria Sunassa pada 1953, jiwanya yang bebas-keras terlihat dalam lukisan-lukisannya. Ia melukis sebagaimana ia melihat objeknya, menurut kesan yang ia dapatkan, tak peduli aturan tentang anatomi atau keinginan pembeli. Ia memilih warna-warna yang luar biasa. Ia melukis objek-objek yang pernah ia kunjungi. Tak heran jika ia menonjolkan unsur etnik. Ada lukisan penari Bali, hutan di Papua, pemukul sagu di Maluku.

Oleh banyak kalangan Emiria juga dianggap menghasilkan karya feminis awal karena sering menampilkan perempuan yang bersumber pada cerita-cerita pribumi, sosok-sosok puak, dan model dari kalangan jelata. Lukisan “Mutiara Bermain”, yang dibuatnya selama empat tahun sejak 1942, menggambarkan dua perempuan telanjang sedang menari di belahan mutiara di dasar laut. Ini menyiratkan betapa tertindas perempuan kala itu, terlebih di masa penjajahan Jepang yang menjadikan perempuan sebagai pemuas nafsu birahi. Karya lain yang bersubjek perempuan antara lain "Kembang Kemboja di Bali" (1958), "Wanita Sulawesi" (1958), "Market" (1952), dan "Panen Padi" (1942). Menurut Emiria, seperti dituturkan kepada Soh Lian Tjie, seni Indonesia modern masih mesti mencari jalannya. “Pelayan-pelayannya”, laki-laki maupun perempuan, harus sadar sepenuhnya, bahwa mereka masih jauh dari tujuan yang ingin mereka capai.

Emiria tinggal di sebuah rumah yang adem dengan pekarangan penuh tanaman. Tapi dinding rumahnya kosong. “Ini semata-mata karena saya tak dapat bekerja apabila saya dikitari barang-barang bagus. Itu agak menganggu pemusatan pikiran saya. Seniman menciptakan sesuatu dari apa yang dinamakan ketiadaan.”

Jejak Emiria Sunassa kemudian lenyap pada 1960-an, meninggalkan tanya bagi banyak orang. Menurut arsip www.nationaalarchief.nl, pada 1960 ia mengajukan permohonan visa ke Nederlands Nieuw-Guinea, nama Papua Barat kala itu, dengan menyebut diri "Ratu dari Nederlands Nieuw-Guinea". Tak jelas untuk apa. Papua Barat, yang sejak abad ke-18 dianggap bagian dari Kesultanan Tidore, hingga masa itu masih menjadi wilayah yang disengketakan antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Emiria Sunassa meninggal di Lampung pada 7 April 1964.

Penulisan sejarah seni rupa mulai memberi apresiasi terhadap perupa perempuan Indonesia yang terus tumbuh -dan Emiria Sunassa-lah yang telah meletakkan pijakannya. *


[Dimuat di www.majalah-historia.com, Selasa, 16 Maret 2010 - 16:34:05 WIB]

Read More......

Wednesday, September 17, 2008

Lukisan Batik

BILIK itu sempit. Kanvas bertumpuk tak beraturan. Kaleng cat minyak berjejer di lemari kayu di sisi pintu masuk. Lukisan di dinding menjadi pemandangan yang memanjakan mata kita.

Seorang lelaki paruh baya, berusia 51 tahun, sesekali menyapukan kuas di permukaan kanvas. Ketika sibuk, ia terlihat di beranda biliknya, mewarnai bentangan kain bermotif batik. Kalau tak sibuk, ia memilih terlentang di ranjang atau kursi kayu, melahap buku yang ia pinjam dari tetangga sebelah.

Saya mengenalnya tiga tahun lalu. Dia sering datang ke rumah, meminjam buku. Dia menjadikan rumah saya sebagai galerinya. Lukisan-lukisannya terpajang di dinding-dinding rumah.

“Saya tak akan melepas lukisan-lukisan ini dengan harga murah,” ujar Ambar Nugroho, menunjuk lukisan di ruang tamu dan kamar saya.

Lukisan perempuan berbalutkan kain batik. Syal, juga dengan kain batik, melilit kepalanya. Ia mendonggakkan kepala, tersenyum manis. Di hadapannya, dalam bingkai garis, keramaian mengikuti pertunjukan tarian. Semuanya mengenakan batik dengan beragam motif. Lukisan di kamar juga seorang perempuan. Ia nyaris telanjang. Tangannya menyilang, menutupi dadanya yang ranum. Sehelai kain batik menutupi tungkainya yang halus. Ia setengah duduk sambil menunduk. Matanya sayu. Di belakangnya, gadis-gadis kecil saling melirik dengan tangan saling mengait.

“Bikin motif batiknya setengah mati.”

Di ruang tengah, seorang anak kecil bercawat kain kusam bersandar pada tiang bambu. Kulitnya legam. Rambutnya keriting. Tangannya mengengam ekor cenderawasih. Latarnya motif batik yang khas dan jarang ditemui: batik Papua –adopsi dari ukiran kayu suku Asmat.

Motif-motif batik, dengan pengerjaan amat detil, menjadikan lukisan-lukisan ini istimewa. Ia membuatnya tahun 2004, ketika kenangan akan kejayaan lukisan batik merayap di kepala, dan pengerjaan batik menjadi bagian dalam hidupnya.

Di sesela kesibukannya membatik, Ambar menerima pesanan melukis. Kalau itu lukisan foto perkawinan, motif batik akan menonjol. Kalau lagi tidak mood, ia melukis apa saja. Ada lukisan abstrak. Lukisan telanjang. Ia juga menerima pesanan lukisan potret diri atau perkawinan. Ia mengerjakan lukisan-lukisan itu, “sekadar mengejar setoran.”



AMBAR kecil senang melukis. Semasa taman kanak-kanak di Gereja Pugeran, Yogyakarta, ia sudah memenangi lomba melukis antarsekolah. Lukisannya khas anak-anak tapi juga menggambarkan pamandangan yang umum di pedesaan: gerobak sapi yang melaju pelan, tak peduli sepasang anjing dengan asyik-masyuk kawin di sisi jalan.

“Dasar cah cilik,” ujarnya, tersenyum.

Kelas 3 sekolah dasar, di Jakarta, ia menekuni ilustrasi. Komik lagi berjaya. Ia menyukai komik Jan Mintaraga dan Ganesh TH. Ia membacanya berkali-kali, menirukan coretan-coretan mereka, “sampai hafal, terasah di sana.”

Bakatnya terpenuhi begitu lulus sekolah menengah. Ia masuk Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di Yogyakarta, bertempat di Akademi Seni Rupa Indonesia, tahun 1974. Tapi ia hanya bertahan sampai kelas 3 karena pikirannya mulai bercabang: mencari uang.

Saat itu lukisan batik mengalami masa keemasan. Lukisan batik kontemporer, yang dipopulerkan oleh Amri Yahya sejak pertengahan tahun 1960-an, mulai mendapat tempat sebagai karya seni pada 1970-an. Bahkan AN Suyanto, Bambang Gunarto, Kuswaji, Sumiharjo, sampai Bambang Oetoro berkeliling pameran di mancanegara. Selain mereka, Bagong Kussudiardja dan Kuswaji Kawindro Susanto ikut merajai lukisan batik di Yogya. Lukisan-lukisan mereka laris manis. “Bule moro dewe,” ujar Ambar.

Ia ikut-ikutan melukis batik, menitipkannya ke artshop di Ngasem atau Prawirotaman, sehingga memberantakkan sekolahnya.

“Aku rusakke neng kene. Kesenengen golek duit. Paling tinggi bisa Rp 15 ribu (per lukisan). Bahkan baru dimalam (dicanting) saja sudah dipesan.”

Namanya lukisan batik, proses pengerjaannya juga sama seperti membatik. Kain digambar dengan pensil, lalu dicanting sesuai guratan pensil dengan tambahan isen-isen, baru dicelup warna. Usai pewarnaan, sebagian ditutupi dengan malam, lalu dicelup lagi dengan warna yang lebih tua. Kain tinggal dilorod (dimasukkan air panas, agar malam mencair) –kalau ingin hasil lebih bagus, misalnya untuk mendapatkan degradasi warna, proses pelorodan bisa berkali-kali.

“Gak ana bedane. Bedane batik kanggo pakaian, lukisan batik kanggo hiasan.”

Ambar mengenal batik sejak kecil. Eyangnya, Atmo–dikenal dengan panggilan Bu Ayu, dikenal sebagai tokoh batik Yogya. Rumahnya di Patehan. Bagong termasuk salah seorang muridnya. Dari Eyangnya-lah Ambar belajar motif-motif batik. Biasanya ia yang menggambar di kain, sang eyang yang akan membatik.

Tapi persaingan ketat batik, yang menjatuhkan harga, berimbas pada lukisan batik. Kejayaan lukisan batik jatuh. Ambar pun mulai menekuni cat minyak. Ia juga bikin ilustrasi cerpen untuk Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, dan Mekar Sari. Sesekali ikut pameran lukisan tapi kapok karena tak ada lukisannya yang terjual.

“Tekor terus.”



SEBUAH majalah seni rupa mengusiknya. Ia membacanya dan terpaku pada satu nama yang tertera dalam sebuah artikel: Diyono SP, pelukis-pematung Bumi Tarung, lembaga yang dulu dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

“Dia guru saya,” ujar Ambar.

Pada 1986, seorang paman mendapatkan proyek pengerjaan gerbang selamat datang Lampung di Tarakan. Pengerjaannya diserahkan kepada Diyono. Ambar ikut membantu, dan senang karena bisa memperdalam keahliannya. Gerbang itu masih berdiri tegar.

Jauh sebelumnya, Ambar sudah di Jakarta. Ia mengisi ilustrasi di majalah Senang, membuat ilustrasi cover buku, sempat mengajar kursus melukis dan membatik di Sasana Olah Kesenian Kak Alex –sama seperti Pak Tino Sidin, mengisi acara melukis di TVRI– dan akhirnya bertambat di butik Rama Sinta. Di sini ia membikin desain, mengurusi produksi, dan lain-lain. Tapi lagi-lagi perubahan terjadi di dunia batik. Batik printing merajalela, menggusur batik tulis. Banyak pembatik tradisional gulir tikar, tergerus oleh mesin.

Rama Sinta gulung tikar.

Ambar pindah ke Harry Darsono, perancang busana, yang sudah dikenalnya di Rama Sinta. Harry sering datang ke Rama Sinta. Pada suatu kesempatan, Ambar menunjukkan desain-desainnya.

“Mas, aku bikin desain-desain ini bagaimana?”

“Kamu ke rumah saja.”

Tawaran lama itu yang mendorong Ambar mendatangi Harry Darsono. Ia diterima jadi asisten khusus untuk motif-motif batik, tenun, dan lain-lain. Salah satu temannya kelak jadi perancang busana juga: Nelwan Anwar. Tiga tahun di sana, dia memilih mengerjakan gerbang selamat datang Lampung.

Balik ke Jakarta, ia bekerja di perusahaan interior Anggitan Cipta selama tujuh tahun. Bosan, ia keluar dan terjun sepenuhnya sebagai pelukis. Lukisan-lukisannya terpajang di Hotel Sheraton di Lombok dan Bandung. Lalu, sejak 2005, Ambar pun mulai menetap di Kebayoran Lama, di bilangan Jakarta Selatan. Ia membantu mengerjakan batik semprotan gradasi warna, andalan Parang Kencana, yang tak dibikin di tempat lain. Juga kembali menekuni lukisannya.

“Konco-koncoku di SSRI sudah punya nama. Mereka masih eksis. Terus terang mbiyen aku ora kuat karo ngelihe. Aku cenderung sing cepet dadi duit. Sing bertahan malah wis sugih-sugih. Diamput!” ujarnya, lalu tertawa.

Tapi ia senang melihat kebangkitan batik di Indonesia. “Sejak Malaysia klaim batik, rasa memiliki batik tersentil. Batik tulis trend lagi. Tapi lukisan (batik) sih sama aja.”*

"Bocah Papua” acrylic on canvas 98 x 56 cm


"Mlengak" acrylic on canvas 67,5 x 67,5 cm


"Nyadang" acrylic on canvas 70 x 70,5 cm


"Bar PakPung" acrylic on canvas


"Harum" acrylic on canvas 68 x 85,5 cm


"Nggrantes" acrylic on canvas 100 x 130 cm


"Sumringah" acrylic on canvas 100 x 130 cm

Read More......

Sunday, August 17, 2008

Trimurti

JASADMU sudah lama terbaring. Tapi aku ingin mengenangmu saat ini, ketika republik merayakan kemerdekaannya.

Trimurti. Aku melihatmu di layar kaca, tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang kayu. Badanmu kurus tapi jiwamu berontak. Gelisah. Ikatan di tanganmu tak kuasa menahannya. Lalu kau terbaring kaku. Wafat. Kau pergi ketika “merdeka” belum jadi sepenuhnya.


Hanya sekali aku berada di sisimu. Di tahun 2002 itu, kau nyanyikan sebuah lagu dengan penuh semangat, dengan bahasa Belanda yang terlatih. Aku tak tahu judulnya. Tapi kuingat kau mengacung-acungkan kepalan tanganmu. Dan satu pesanmu masih kuingat, ketika kau jabat erat tanganku: “Jadilah wartawan yang baik, yang berguna bagi bangsa dan negaramu.”

Kini aku hanya bisa membaca ketikan tanganmu, yang terselip di rak-rak bukuku.


KAU-lah wartawan tulen itu. Kau sudah menjadi wartawan sejak 1933. Dalam usia semuda itu, 21 tahun, kau sudah membantu dan menulis untuk majalah Fikiran Rakjat di Bandung. Ah, rasanya aku bisa mengerti kegugupanmu saat itu ketika Soekarno memberi perintah: “Tri, bikin tulisan untuk majalah Fikiran Rakyat.”

Kau merasa seperti disambar geledek. Kau galau karena berpikir majalah ini majalah politik yang isinya berat, penulisnya hebat-hebat. “Saya ini apa? Cuma gurem,” kau membatin.

Ini jalan yang sudah kaupilih. Ketika kau dengar pidato Bung Karno pada rapat umum Partindo di Purwokerto pada 1932, kau sudah bertekad untuk berguru politik padanya. Kau tinggalkan posisimu sebagai pegawai negeri, sebagai guru sekolah dasar puteri. Lalu kau masuk asrama wanita untuk murid-murid politik Bung Karno di dekat Astana Anyar, Bandung. Kau sudah rasakan gemblengannya. Kau ingat saat dia meminta kau berpidato, dan kau rasakan diinterogasi PID.

Kali ini, di tahun 1933, kau rasakan lagi perintahnya. Kau cari inspirasi. Hoplah, akhirnya ketemu. Kau menulis tentang kejahatan penjajahan Belanda, sikap rakusnya yang mengakuti kekayaan Indonesia ke negerinya, untuk membangun negerinya, sementara rakyat Indonesia yang bekerja keras, memeras keringat, tak diberi hak demokrasi. Tentu saja kau kena delik pers. Beruntung kau bebas dari hukuman.

Kau tak gentar jua. Kau menulis dan menulis lagi di harian Berjoang (Surabaya), majalah Bedug dan Genderang (Solo), majalah wanita Marhaeni (Yogyakarta), majalah yang kemudian jadi harian Pesat (Semarang), majalah Suluh Kita dan harian Sinar Selatan (Semarang), harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), dan majalah Mawas Diri (Jakarta). Kau pernah rasakan penjara wanita di Semarang karena delik pers.


JEPANG mendarat. Kau ditangkap, setahun jadi orang tahanan di Semarang. Kau didakwa melawan atau berusaha melawan pemerintah fasis Jepang. Kau terima hadiah itu, cuma sedikit tapi cukup berkesan bagimu: beberapa kali pukulan pakai pentung.

Beruntung kau kenal Soekarno, yang atas usahanya memindahkan kau ke Jakarta dan bekerja di kantor Pusat Tenaga Rakyat, lalu pindah ke Jawa Hokokai Honbu. Tapi status tahananmu belum dicabut. Kau sendiri yang harus hati-hati, tak bikin kegiatan apapun atau menghubungi kawan-kawan seperjuangan.

Jepang hanya seumur jagung. Ia kalah perang. Para pemuda ingin proklamasi kemerdekaan segera diumumkan sebelum Sekutu datang. Kau ikut dalam arus pemuda-pemuda itu.

Pada 17 Agustus pagi itu, kau tertidur pulas. Semalam kau hadiri pertemuan di Kebon Sirih No 80 untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang dan menguasai alat-alat komunikasi yang penting. Tapi tak ada Bung Karno atau Bung Karni cs di sana. Tak ada perintah aksi. Bung Karni cs, yang datang tengah malam, malah meminta para pemuda bubar. Kau pulang dengan hati kecewa. Mendongkol, merasa ditipu. Sampai di rumah sudah hampir pagi. Kau mengantuk.

Tak lama, kawan-kawan seperjuangan menghampirimu.

“Yu, mari kita ke Pegangsaan Timur No 56, ke rumah Bung Karno untuk mendengarkan proklamasi.”

“Mengapa tidak di Lapangan Ikada seperti rencana semula?”

“Ah, diam sajalah dulu. Di sana sudah banyak serdadu Jepang dengan senjata lengkap. Nanti kita ditembaki kalau ke sana,” ujarnya sambil meninggalkanmu.

Kau bangun, mandi, sarapan pagi, dan bergegas ke Pegangsaan Timur. Di halaman rumah Bung Karno, sudah penuh orang. Kau dan mereka berbaris di halaman depan. Bung Karno, Bung Hatta, dan Fatmawati datang. Pakaian mereka kusut. Juga wajah mereka, mungkin semalam suntuk tak tidur.

Pukul sepuluh pagi, bendera harus dipasang. Terdengar suara: “Yu Tri, kerek bendera itu.”

“Tidak,” jawabmu. “Lebih baik saudara Latif (Hendraningrat) saja. Dia dari PETA.”

Bendera merah-putih pun berkibar.

Kau dan Fatmawati berdiri di depan bendera, berhadap-hadapan dengan Bung Karno dan Bung Hatta yang berdiri di beranda. Tak lama kemudian, Bung Karno membacakan teks proklamasi, dengan suara rendah, perlahan tapi khidmat.

Berita proklamasih itu disiarkan ke seluruh negeri.


TRIMUTRI, kau pernah menulis, perkenalanmu dengan Bung Karno telah mengubah jalan hidupmu. Dari seorang pegawai negeri yang tunduk, menjadi orang mandiri, yang bisa mengeluarkan pendapat tanpa rasa takut. Dan hampir setiap kali kau menghadapi gejolak, kau rasakan otot-otot menjadi lebih kencang, lebih kuat. Daya tahan meningkat, dan rasanya di depan mata, tidak pernah ada penghalang yang berarti.

Saat ini kurasakan semangatmu itu. Dalam belenggu rasa sakit, kau masih berontak. Otot-ototmu mengejang. Aku tahu, kau ingin bebas. Dan Tuhan pun membebaskanmu, ketika azan magrib usai berkumandang, ketika negerimu merayakan dua abad kebangkitannya, pada 20 Mei 2008.

Namamu akan dikenang. Namamu, sudah diabadikan untuk penghargaan kepada aktivis dan wartawan perempuan yang berjuang untuk kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. Dan aku ingin mengenangmu di hari kemerdekaan ini.

Merdekalah Trimurti, “merdekalah” tanah air kita.* (Foto: ketikataku.wordpress.com dan community.kompas.com)

Read More......

Thursday, February 07, 2008

Mengenang

(1949)

Ah, Lidah Tuan!

Atas nama Tuhan berkata Tuan:
keadilan itu satu dan sama bagi semua
tapi mengapa pula distribusinya dikelas-kelas?

Tuan yang tidak botak atau tbc karena nasi sepiring
mengapa pergunakan terus kuasa Tuan
untuk merampas nasi kami?
jutaan kami lebih dari botak dan tbc
dan tuan makin gendut, dan kami makin kurus.


Dan bila kami coba-coba lepas dari siksa sepiring nasi
ingin juga mengecap vitamin dan nikmat musik
mengapa pula Tuan berikan kami timah panas
hingga untuk Tuan dan Keadilan jutaan
kami matianjing tiada harga.

Ah, Tuan!
botak, tbc dan vitamin ini, mari, kita adilkan pula
kami tidak seperti Tuan, distribusi mesti merata:
botak, tbc dan matianjing giliran Tuan
dan kami vitamin musik, baik untuk kesehatan kita.

Timah panas, kata Tuan?
ah, Tuan! Hari esok ia tak kan panas lagi
akan dingin seperti Tuan.


(1950)

Antara Bumi dan Langit
untuk H.B.Jassin

Kita adalah dua manusia
dari dua pandangan hidup
dipanaskan matahari satu zaman.

Engkau dan aku mencoba
menjauhi permainan hitam-putih
kita cari lapang luas
di mana kata Merdeka
berhenti menjadi semboyan hampa.

Kita sama-sama cinta merdeka
tetapi isi kata kita cari masing-masing
dan detik aku temui warna
yang tak luntur diuji waktu
gila kita terus-menerus jadi pencari?

Engkau mabok gairah langkah mencari
niadakan segala nilai hasil kerja
aku minta kau ambil posisi
ini senjata tidak serampangan
dia keringat dan otak sejarah umat.

Engkau dan aku cinta Merdeka
tapi lapang luas punya batas
kalau kau berlagak dewa
ku proklamir Manusia darah-daging
zaman ini pelaksana kata Merdeka.

Kita berdua sama-sama tidak bebas
kau terikat pada dirimu
aku pada Manusia dan zaman kini.


Klara Akustia, 7 Maret 1924 - 7 Februari 2006

Read More......

Wednesday, December 26, 2007

Iklan dan Politik

INI era komunikasi modern. Segala sesuatunya dikemas mengikuti hukum budaya massa yang lebih menekankan aspek hiburan. Berita politik di media seolah jadi drama. Iklan dan orasi politik hanyalah janji-janji kosong. Dan itulah sorotan buku ini.

Iklan dan Politik merekam dinamika periklanan politik selama pemilihan umum 2004. Isinya membahas aturan kampanye, keterlibatan praktisi periklanan, peran media, materi iklan, belanja iklan, aturan kampanye periklanan, pengaruh iklan, sampai pelanggaran-pelanggaran yang terjadi selama masa kampanye. Dilengkapi pula dengan gambar-gambar iklan yang menarik –sayang, rencana menyertakan sebuah CD berisi iklan-iklan media cetak, televisi, dan radio urung dilakukan.


Buku ini sudah terbit, dan momennya juga tepat, menjelang pemilihan umum 2009. Beberapa orang yang membaca buku ini sudah memberikan apresiasi. Sekarang, tinggal Anda.

Pemrakarsa: RTS Masli
Penulis: Budi Setiyono
Tim Ahli: RTS Masli, Baty Subakti, Rudy Haryanto
Penasehat: Indra Abidin, Nuke Mayasaphira, Effendi Gazali,
Yanti B. Sugarda, Iskadi SK, Garin Nugroho, Aswan Soendojo
Pracetak: Paulus Efendi
Administrasi: Wiji Lestari
Sampul dan Tata Letak: Riri Oskandar
Gambar-gambar: Mediabanc Jakarta, kecuali disebutkan sumbernya
Cetakan Pertama: 2008


Diterbitkan oleh:

AdGOAL.Com
Jalan Raya Kebayoran Lama No. 18 CD
Jakarta 12220 Indonesia
Tel +62 21 722 1678
Fax +62 21 722 3760

Galang Press
Jalan Anggrek No. 3/34 Baciro Baru
Yogyakarta 55225
Tel +62 274 545609, 554986
Fax +62 274 554985
Email: galangpress@jmn.net.id
http://www.galangpress.com/

BUKUkita
Jalan H. Montong No. 57 RT 006/02, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630
Tel +62 21 7888 3030 (Hunting)
Fax +62 21 787 3446 (Direct)
+62 21 786 4440, 727 0996
Email: marketingbukukita@gmail.com

ISBN: (13) 978-979-24-9913-1
ISBN: (10) 979-24-9913-x

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
All right reserved


Sampul Belakang:

SEORANG pemuda aktivis sosial yang menarik, pintar, dan bersemangat didekati oleh manajer kampanye profesional. Diyakinkannya pemuda itu agar mencalonkan diri bagi jabatan pemerintahan. Sang pemuda setuju. Manajer itu bergerak cepat. Sebuah tim sukses dibentuknya. Ada rombongan petugas polling, pembuat film, pembuat iklan, agen pers, penulis pidato, artis perias, dan sebagainya. Semuanya bekerja dengan satu tujuan: mencetak, mengepak, dan menjual kandidat itu melalui kampanye periklanan massal yang canggih. Pemilihan usai. Sang kandidat menang. Tapi keraguan segera menyergapnya: “Apakah saya benar-benar memiliki kualifikasi sebagai pejabat pemerintah?”.

Dia kembali kepada (mantan) manajer kampanyenya, seorang bayaran yang telah siap mencari wajah baru untuk dijual, dan bertanya, “Tapi, apa yang kita lakukan sekarang?”

Sepenggal adegan film The Candidate itu bermuatan satiristik bahwa “produk” tak dikenal dapat dijual kepada pemilih sebagai “konsumen”.

Bagaimana dengan para kandidat di Indonesia menjelang dan selama pemilihan umum? Buku ini layak dibaca kalangan praktisi periklanan, pembuat regulasi, praktisi media, politisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

“Kalau Anda memang (sebelum membaca buku ini pun) sudah telanjur relatif sinis, Anda toh masih bisa tetap mencoba optimis; motto “Bersama kita Bisa” itu juga boleh dibaca “Bersama Kita Bisa Memperbaiki Diri dan Masa Depan Iklan Politik”.
Effendi Gazali, Phd, Koordinator Program Magister Manajemen Komunikasi Politik, Program Pascasarjana Komunikasi UI

“Periklanan politik kadang dirindukan tapi juga dicacimaki karena pesan-pesannya dianggap membodohi dan menyesatkan masyarakat. Seyogyanya ada pijakan untuk menilainya secara arif. Dan buku ini layak jadi rujukan.”
Indra Abidin, President Director PT Fortune Indonesia

“Dari hasil survey pendapat publik, yang dibutuhkan masyarakat pemilih bukanlah iklan politik dengan pesan-pesan yang obral janji ataupun etalase tanda gambar dan nomor urut semata, melainkan pesan-pesan yang jujur dan mulus. Siapapun mesti membaca buku ini.”
Yanti B. Sugarda, President Director Polling Center

“Iklan politik tidaklah sekadar janji dan daya pikat, tetapi mengandung tawaran program, panduan publik, serta menumbuhkan ketulusan dan kepercayaan. Iklan politik adalah strategi image, pendidikan kewarganegaraan, dan strategi politik. Untuk itu, buku ini menjadi penting di tengah dinamika politik dan media serta hubungan bisnis, politik, dan pendidikan kewarganegaraan.”
Garin Nugroho, Koordinator Koalisi Media untuk Pemilu Jujur dan Adil

“Seringkali iklan dipersepsikan mendorong pola hidup konsumtif. Buku ini memberikan pemahaman peran iklan dalam mendorong demokratisasi dan peran publik dalam penentuan perjalanan bangsa.”
Aswan Soendojo,President Director Matari Advertising

“Ada banyak hal yang tercecer dan luput dari perhatian kita selama pemilihan umum berlangsung, dan semuanya bisa terekam dengan baik dalam buku ini.”
RTS Masli, International Advertising Association – Indonesia Chapter President

Read More......