SEORANG pemuda aktivis sosial yang menarik, pintar, dan bersemangat suatu ketika didekati seorang manajer kampanye profesional. Diyakinkannya pemuda itu agar mencalonkan diri bagi jabatan pemerintah. Sang pemuda setuju. Manajer itu lantas bergerak cepat. Sebuah tim sukses dibentuknya. Ada rombongan pollster (petugas polling), pembuat film, pembuat iklan, wartawan, penulis pidato, perias, dan sebagainya. Semuanya bekerja dengan satu tujuan: mencetak, mengepak, dan menjual kandidat itu melalui kampanye periklanan massal yang canggih.
Pemilihan usai. Sang kandidat menang. Tapi keraguan menerpanya. Dengan rasa khawatir dia merenung, apakah dirinya benar-benar memiliki kualifikasi sebagai pejabat pemerintah. Dia kembali kepada (mantan) manajer kampanyenya, seorang bayaran yang telah siap mencari wajah baru untuk dijual, dan bertanya, “Tapi, apa yang kita lakukan sekarang?”
Adegan penutup film The Candidate itu sangat bagus dan bermuatan satiristik. Adegan itu menjelaskan bahwa “produk” tak dikenal dapat dijual kepada pemilih sebagai konsumen. Dan Nimmo, dalam karya monumentalnya Komunikasi Politik, menyebutnya sebagai objek pelajaran dalam dimensi periklanan dari persuasi politik.
Dalam pemilihan umum (Pemilu) 2004, juga Pemilu 1999, kita menyaksikan bagaimana sejumlah kandidat, entah itu legislatif maupun presiden, sudah menggunakan cara-cara komunikasi modern. Kandidat kepala daerah di sejumlah dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) mungkin sudah menerapkan pula. Mereka menerapkan apa yang dikenal dengan political marketing, yang merupakan serangkaian aktivitas terencana, strategis tapi juga taktis, untuk menyebarkan makna politik kepada para pemilih.
Apa saja komponennya? Dalam pemasaran ada yang dikenal dengan istilah bauran pemasaran, lazim disingkat 4P. Product berarti kandidat dan gagasan-gagasannya. Price bisa dilihat sebagai atribut dan pernik-pernik dari sang kandidat. Promotion adalah upaya periklanan, kehumasan, dan promosi. Place merupakan tempat konstituen dapat menemukan berbagai hal tentang seorang kandidat –contohnya Warung Wiranto dalam Pilpres 2004.
Tentu saja konsep pemasaran, yang lazim untuk produk komersial, tidak bisa diterapkan begitu saja. Perlu pendekatan yang khas karena produk politik berbeda dari produk komersial. Apalagi waktunya relatif singkat. Selain itu para kandidat akan dihadapkan pada soal keterbatasan dana, jaringan yang tertata rapi dan solid, pengalaman, dan rekam jejak dalam kegiatan politik.
Di sinilah tim sukses, atau konsultasi komunikasi yang menanganinya, mesti menyiapkan dan membuat program kampanye yang bagus, tepat sasaran, dan menjual. Mengembangkan isu. Menyusun kebijakan politik. Membangun citra personal maupun sosial. Melakukan pendekatan emosional, dan sebagainya.
Tim sukses mesti menentukan segmententasi terlebih dulu, baik secara demografis, geografis, psikografis, geopolitik, maupun sistem nilai. Segmentasi juga bisa didasarkan atas isu atau kepentingan politik di masing-masing wailayah yang tentu saja berbeda-beda. Skala prioritas (captive market) penting karena faktor “kepastiannya”. Seorang kandidat cenderung punya pendukung utama di wilayahnya. Faktor agama dan etnik juga bisa dipakai untuk mengikat atau memberikan penawaran kepada konstituen. Dan tak kalah penting, positioning, yang pada dasarnya bagaimana masuk di benak konsumen melalui keunggulan sang kandidat. Misalnya, ada kandidat menegaskan diri sebagai pengayom “wong cilik”.
Tim sukses juga mesti memilih media yang tepat, serta menyiapkan pendekatan, cara, dan strategi kampanye seefektif dan seefisien mungkin. Baik melalui below the line (media cetak) maupun above the line (media elektronik). Dari situ membuat program komunikasi, melakukan analisis SWOT, menentuan khalayak sasaran, menentukan inti pesan, hingga langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menerapkan strategi kampanye. Pada akhirnya adalah penerapan dan penjabaran strategi kampanye dengan memperhatikan situasi maupun state of mind (tingkat kesadaran) khalayak sasaran. Di sini pesan sebagai inti komunikasi harus relevan, benar, dan tepat. Pesan-pesan harus berangkat dari kekuatan dan aset utama kandidat.
Dan inilah pesta demokrasi. Pesta bagi media menangguk iklan. Percetakan dan tukang sablon mendapat order. Bagi warga, yang kini bisa menentukan pemimpinnya sendiri, berebut kaos. Diperkirakan, karena hendak merebut hati pemilih, uang juga bertebaran, jalan-jalan akan mulus. Nikmati saja tanpa lupa bersikap selektif dan kritis. Mungkin pertanyaan dan jawaban sekaligus yang dibuat Dan Nimmo bisa jadi acuan:
Apakah semua persuader berbohong? Tidak, tapi banyak yang berbohong.
Apakah semua persuader menggunakan kata, tindakan, logika, dan gaya hanyalah sebagai akal-akalan penjaja untuk menyelimuti maksud mereka dan fakta yang sebenarnya? Lagi-lagi tidak, tapi ada yang dengan seksama menonjolkan tanda-tanda kecantikan dan menggunakan kosmetik untuk menutupi cacat.
Apakah setiap ide itu pura-pura dan setiap akal-akalan adalah palsu? Tidak perlu, tapi biarlah pembeli waspada.
Untuk para kandidat, ingatlah bahwa, dalam bahasa pemasaran, membujuk kembali seorang konstituen yang kecewa akan jauh lebih sulit daripada mencari seratus simpatisan baru. Lebih parah lagi, ke-100 simpatisan tersebut akan lebih mendengar pengalaman dari orang yang kecewa itu ketimbang seratus pesan politik Anda.*
Saturday, September 23, 2006
The Candidate
Permalink | 0 comments |
Tuesday, May 23, 2006
Ketika Propaganda Tak Ada Lagi
SEBUAH kejutan datang menjelang akhir tahun. Sejumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) berkunjung ke Mimika daerah untuk melakukan sosialisasi UUD 1945 hasil amandemen. Kejutan? Ya karena sudah lama kita tak mendengar kegiatan semacam itu lagi.
Dulu, rasanya kita sudah dibuat muak dengan apa yang dilakukan pemerintah Orde Baru. Sejak kecil kita diharuskan menghafal Pancasila, UUD 1945, bahkan nama-nama menteri. Setiap tahun kita seolah dipaksa menonton film Pengkhianatan G30S/PKI, yang menurut pemerintah berhasil ditumpas berkat kesaktian Pancasila. Ada program Kelompencapir atau Laporan Khusus di TVRI, televisi pemerintah dan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu. Prinsipnya, pemerintah merasa harus melakukan itu dengan alasan demi “pembangunan” dan “stabilitas nasional”.
Indonesia di masa Orde Baru seolah zaman perang. Musuh diciptakan, dengan nama yang beraneka ragam: bahaya laten PKI, organisasi tanpa bentuk, gerakan pengacau keamanan, dan sebagainya. Penangkalnya juga macam-macam, bisa melalui BP7, institusi yang didirikan agar warga “mengamankan dan mengamalkan Pancasila”, atau Departemen Penerangan, yang benar-benar menjadikan pers sebagai alat propaganda. Seperti Nazi Jerman yang melancarkan propaganda anti-Yahudi dan propaganda melawan Sekutu dalam Perang Dunia. Seperti Amerika Serikat saat ini yang di bawah pemerintahan George W. Bush mempropaganda perang melawan terorisme.
Tapi reformasi meruntuhkan semuanya. Departemen Penerangan dihapus. BP7 tak terdengar lagi kabarnya. Tak ada lagi pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), tak ada lagi penataran Pendidikan, Penghayatan, dan Pengalaman Pancasila (P4). Bahkan kita merasa tak perlu menghafal nama-nama menteri. Toh, nama-nama menteri itu bisa kapan saja berubah. Tapi dampaknya, pemerintah dihadapkan pada persoalan mengomunikasikan dan menyosialisasikan program dan kebijakan pemerintah? Persoalan komunikasi politik sudah muncul sejak pemerintahan Habibie.
Sekarang kita hanya bisa tahu secara samar-samar program pemerintah lewat iklan layanan masyarakat di media massa. Sesekali ada pesan masuk dari presiden, langkah yang diikuti instansi lain, lewat short message service (SMS).
Pemerintahan SBY tampaknya memahami sifat dasar kampanye politik kontemporer, yang menurut ahli komunikasi politik Dan Nimmo, terletak pada upaya bagaimana memersuasi warga melalui periklanan massa (komunikasi massa) dan retorik (komunikasi interpersonal), bukan pada propaganda. Bentuk komunikasi semacam ini mampu menyebarkan informasi kepada khalayak dengan cara yang halus, disusupkan, dan tidak mengundang antipati.
Hanya saja, bentuk komunikasi yang dijalankan pemerintah sering mengabaikan hukum komunikasi: dua arah. Semuanya monolog. Bagaimana warga bisa memahami kebijakan dan program pemerintah? Bagaimana mungkin partisipasi warga ikut tergerak, lalu menyampaikan pesan-pesan itu kepada pihak yang lebih luas?
Memang bukan hal mudah bagi pemerintah untuk menyampaikan pesan. Media juga sudah tak begitu tertarik meliput program-program pemerintah, atas nama rating, dan lebih memilih membuat program kriminalitas atau gosip artis. Inilah tantangannya.
Jika MPR, dengan dukungan pemerintah, kini menyosialisasikan UUD 1945 hasil amandemen bisalah dipahami. Amandemen UUD 1945, yang dulu disakralkan, merupakan salah satu prestasi penting MPR. Hasil amandemen telah mengerdilkan potensi kekuasaan tanpa batas. Hasil dari amandemen itu sudah kita rasakan, yakni pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung sebagai perwujudan kedaulatan rakyat, penghapusan Dwifungsi TNI/Polri, kebebasan berpendapat, perlindungan hak asasi manusia, dan sebagainya. Tapi hasil amandemen itu selama ini hanya diketahui segelintir orang.
Tapi keraguan juga tak bisa disalahkan. Ragu karena jangan-jangan model lama akan dipakai lagi. Pemerintah maupun MPR sendiri tidak menjabarkan secara jelas apa bentuk dan model sosialisasi yang akan dipakai? Apakah kelak semua warga negara juga akan diwajibkan mengikuti sosialisasi?
Sejauh ini saya masih agak tenang karena janji Ketua Umum MPR Hidayat Nurwahid sudah di tangan. Pada suatu kesempatan, ia menegaskan bahwa sosialisasi UUD 1945 hasil amandemen tak akan menggunakan sistem indoktrinasi, dengan penataran atau monolog. Semoga itu bukan janji kosong semata.*
Permalink | 0 comments |
Monday, August 01, 2005
Kenangan Sally
SUARANYA ramah, lincah. Orang yang tak mengenalnya bisa terkecoh karenanya. Ia tak bisa dibilang muda lagi. Usianya 53 tahun. Namanya Siti Salamah Koerniati atau dikenal dengan panggilan Sally Sardjan. Ia bersama Anny Cokro dan Titik Qadarsih mendirikan Salanti Bersaudara.
Salanti Bersaudara merupakan kelompok vokal yang hidup sezaman dengan Koes Bersaudara –yang kemudian berubah nama jadi Koes Plus dan jadi kelompok musik besar di masa itu. Salanti Bersaudara acap latihan dan manggung bareng dengan Koes Bersaudara. Sampai pada suatu hari terjadi peristiwa Djatipetamburan, yang menunjukkan betapa politik juga menjadi panglima di bidang musik.
“Yang saya ingat adalah Salanti Bersaudara pada waktu itu sedang latihan lagu The Beatles diiringi oleh Koes Bersaudara. Tiba-tiba ada puluhan orang datang entah dari mana dan siapa, terdengar suara lemparan batu. Kami diminta berhenti memainkan musik, dan tak lama kemudian kami pulang,” ujar Sally kepada saya, setahun lalu.
Itulah kenangan Sally yang hanya serpihan-serpihan kecil dan tak akurat benar karena peristiwanya sendiri sudah berlangsung lama dan terasa begitu cepatnya.
Peristiwa Djatipetamburan itu tepatnya terjadi pada 24 Juni 1965. Salanti Bersaudara mendapat undangan tampil di rumah Koesno, seorang kolonel angkatan laut, di Djatipetamburan, Jakarta, dalam sebuah acara makan malam. Selain mereka juga diundang Dara Puspita dan Quarta Nada. Dara Puspita adalah kelompok musik wanita yang terdiri dari Susi Sander, Titiek Hamzah, Titiek AR, dan Lies AR. Quarta Nada terdiri dari Surrachman, Wien, Angky, dan Totok.
Pukul 19.00 acara dimulai. Peralatan band tergeletak di depan ruang tamu. Beberapa duta besar, atase militer Amerika Serikat, serta perwira angkatan darat dan angkatan laut, terlihat di antara tamu undangan, menikmati suasana pesta yang santai ini. Secara bergantian empat kelompok musik itu menghibur. Sebagian besar menyanyikan lagu barat, terutama The Beatles, karena permintaan tuan rumah dan pengunjung.
Ketika Koes Bersaudara tampil dan membawakan lagu The Beatles I Saw Her Standing There, terdengar suara batu yang menimpa atap rumah. Kemudian diikuti suara teriakan ramai dari luar rumah.
“Ganyang Nekolim!”
“Ganyang Manikebu.”
“Ganyang ngak-ngik-ngok.”
Orang-orang di dalam ruangan terperangah. Permainan dihentikan. Suasana panik. Beberapa orang keluar untuk mengetahui apa yang terjadi, dan beberapa lainnya memilih pulang. Di luar puluhan pemuda bergerombol, berteriak-teriak, dan memuntahkan amarah.
“Mukanya brengos-brengos, kaku. Mereka menyuruh menghentikan lagu ngak-ngik-ngok,” ujar Sally.
Sasaran mereka adalah Koes Bersaudara yang sudah lama dianggap tak jera menyanyikan musik ngak-ngik-ngok meski sudah mendapatkan peringatan dari pemerintah. Personel Koes Bersaudara dituntut untuk minta maaf dan menyanyikan lagu Nasakom Bersatu oleh pengunjuk rasa. Tuntutan itu dikabulkan. Setelah semua nama yang hadir dicatat, semuanya bubar.
Tapi, lima hari kemudian kemudian, personel Koes Bersaudara diciduk dan dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Glodok, karena dituduh melanggar Penetapan Presiden No 11/1963 tentang larangan musik ngak-ngik-ngok. Selain itu, polisi juga melarang lagu-lagunya beredar di masyarakat, meski penggemar Koes Bersaudara masih bisa mendengarkannya melalui radio-radio gelap.
Personel dari tiga kelompok musik lainnya juga dipanggil dan dimintai keterangan sebagai saksi. Sally Sardjan datang bersama Anny Cokro ke kejaksaan di Jalan Hayam Wuruk. Mereka berhadapan dengan Jaksa Aroen. Mereka ditanyai satu per satu.
“Kenapa bawain ngak-ngik-ngok,” ujar Sally yang menggambarkan posisi Aroen dengan kaki nangkring di atas meja.
Sally bingung, dan menjawab dengan asal, “Wong enak.”
Mereka juga ditanyai siapa yang menyuruh membawakan lagu ngak-ngik-ngok, apakah tahu adanya larangan, dan seterusnya. Pemeriksaan itu tak berlanjut. Hanya sekali itu saja. Tapi, keadaan politik sedang tak menentu. Salanti Bersaudara sendiri kemudian vakum.
Sally membentuk band wanita The Singers bersama Neneng Salmiah, Henny Poerwonegoro, Tutty Thahir, dan Shinta Dungga, setahun setelah pertemuan mereka dalam acara untuk Laskar Arief Rahman Hakim pada 1967. Sally kemudian masih aktif bermusik, baik bersama kelompok maupun solo.
“Bagi kami trauma sih tidak, tapi merasa terkekang iya (meski) kami terus bernyanyi dan pentas di mana pun,” ujar Sally.
SALANTI Bersaudara terbentuk karena keinginan menyalurkan hobi, apalagi sudah mendapat izin dan restu orangtua –dukungan yang penting di masa itu. Kelompok vokal ini muncul kala The Beatles, The Lennon Sister, Marmalade, The Monkeys, dan kelompok musik sejenis merajai panggung musik di dunia, juga di Indonesia. Keterpengaruhan menjadi hal yang biasa dan wajar. Warna vokal Salanti Bersaudara terkesan lembut dan halus. Mereka juga terpengaruh pada penggunaan kostum, gaya panggung, dan irama musik.
“Salanti Bersaudara muncul bersamaan dengan Bimbo, zaman saya mau rekaman di TVRI bareng penyanyi-penyanyi yang masih bocah. Salanti muncul bersamaan dengan maraknya duo yang berkiblat ke barat, (seperti) Everly Brothers. Termasuk (juga) Sitompul Sister,” ujar Surrachman, personel Quarta Nada.
Tapi, jauh sebelumnya, Presiden Soekarno lagi gencar-gencarnya memgampanyekan antiimperialisme, termasuk di bidang kebudayaan. Pidatonya pada peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1959, yang mencanangkan Manipol-USDEK (Manifestasi Politik, Undang-undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kebudayaan Indonesia), Soekarno mempertanyakan, “Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi? ….”
Buntut dari seruan Soekarno itu, musik ngak-ngik-ngok dilarang. Razia dan penyitaan dilakukan terhadap ratusan piringan hitam Beatles, Rolling Stones, dan The Shadow di beberapa tempat; Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. Polisi juga melakukan operasi rambut gondrong dan mode pakaian. Tukang cukur, pengusaha salon kecantikan, dan pembuat sepatu di Bandung, misalnya, dilarang melayani permintaan pelanggan yang ingin potongan rambut dan sepatu ala Beatles. Polisi melakukan operasi di tempat-tempat yang sering dikunjungi anak muda, seperti bioskop, nite club, dan gedung kesenian, terutama di Tanah Abang dan Menteng yang biasa menjadi tempat mangkal anak muda. Beberapa penyanyi mendapat peringatan. Tapi, pengawasan ini malah membuat musik ngak-ngik-ngok dicari banyak orang, antara lain melalui radio gelap dan radio luar negeri.
Tentu saja pemerintah juga punya program untuk memajukan kesenian Indonesia. Pemerintah menyelenggarakan bintang radio dan televisi setahun sekali. Pemerintah melakukan penyuluhan kepada generasi muda tentang kepribadian bangsa. Usaha pemerintah ini didukung lembaga kebudayaan seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra, Lembaga Seni Budaya Indonesia atau Lesbumi (Pesindo), dan Lembaga Kebudayaan Nasional (Partai Nasional Indonesia). Antara lain dengan menggelar festival-festival kesenian seperti Lekra dengan festival Mubes Tani dan Lesbumi dengan festival Islam Modern. Keberadaan lembaga kebudayaan ini mendapat tandingannya ketika muncul Manifest Kebudayaan yang menolak politik sebagai panglima, yang kemudian dilarang pemerintah pada 8 Mei 1964.
Presiden Soekarno memopulerkan kembali lagu-lagu lama seperti keroncong, langgam maupun lagu daerah yang disajikan dengan irama aslinya. Selain itu, Soekarno menciptakan lagu pantun Mari Bergembira yang berisi cinta tanah air dan kemandirian bangsa, dan juga mempopulerkan tari Serampang Dua Belas dan tari Lenso. Kemudian dibentuk pula Tim Kebudayaan bernama Misi Lenso yang dikordinasi Bing Slamet untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia di Asia, Afrika, dan Eropa.
Pada suasana seperti inilah Salanti Bersaudara mulai berkiprah. Pada 1965 mereka meluncurkan album perdana berbentuk Long Play dengan judul Pitik, lalu diikuti album berikutnya Cilik, produksi IRAMA. Setelah itu Salanti Bersaudara hanya mengeluarkan album campuran bersama penyanyi lain seperti Rita & Nita dan Tutty Subardjo & Onny Suryono. Penjualan album mereka cukup lumayan. Tapi, pemasukan justru lebih banyak dari undangan pentas di berbagai tempat di pulau Jawa dan Sulawesi. Selain lagu rekaman sendiri, mereka biasanya membawakan lagu-lagu barat seperti The Beatles atau Skeeter Davis, lagu latin seperti Trio Los Panchos, dan lagu Prancis seperti Francois Hardy. Acap mereka tampil bareng kelompok musik Quarta Nada yang personelnya mayoritas saudara kandung sendiri. Terkadang pula diiringi grup band lain seperti Brimoresta, Zaenal Combo, Same, Srynada, Medenasz, Dharma Putra Kostrad, bahkan sampai Koes Bersaudara yang acap latihan di rumah mereka di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Tentu saja mereka tahu larangan pemerintah yang gencar diberitakan radio dan koran. Larangan itu sempat menjengkelkan mereka ketika rekaman. Selesai rekaman, ternyata ada satu lagu yang kebetulan berirama cepat, sehingga harus diubah menjadi lenso. Yang memberitahu hal tersebut adalah Suyoso, yang lebih dikenal dengan panggilan Mas Yos, pemilik studio IRAMA. Mereka sempat menagis, karena terbayang proses rekaman yang begitu melelahkan. Maklum, studio rekaman saat itu hanya mempunyai fasilitas dua track. Rekaman ulang akhirnya dilakukan dengan hati penuh kekesalan, sedih, dan tanpa semangat.
“Terus terang saat itu kami sangat marah dan kesal dengan adanya larangan tersebut, namun kami hanya bisa diam. Ada juga rasa tersinggung di jiwa dan perasaan kesenimanan kami yang seolah dibatasi,” ujar Sally.
Puncak kekesalannya terjadi pada akhir Juni 1965 ketika pentas di Djatipetamburan. Kebebasan berekspresi dan bermusik mereka terkekang.
“Kapan-kapan main ke rumah saya ya,” ujar Sally, terasa akrab, mungkin karena perkenalan kami yang agak panjang, melalui telepon dan juga surat elektronik.
“Iya deh,” ujar saya.
Tahun demi tahun berlalu, dan saya masih belum sempat bertandang ke rumahnya. Mungkin Sally juga sudah lupa.*
Permalink | 0 comments |
Wednesday, August 20, 2003
Revolusi Belum Selesai
KARENA aku gambarkan kepadanya, Megawati, --saya panggil dia Dis. Dis, kita ini hendak menyusun sosialisme. Dis, kita memerlukan produksi makanan, pangan, dan sandang lebih tinggi daripada sekarang ini. Dis, kita memerlukan naiknya produksi beras, padi, jagung, dan lain-lain sebagainya. Dis, engkau harus bantu di dalam usaha rakyat, mendatangkan sosialisme Indonesia yang cukup sandang, cukup pangan, gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja.
(Pidato pada Musyawarah Nasional Teknik, 30 September 1965)
PADAHAL saya telah berkata, kalau tidak senang katakanlah terang-terangan, saya akan mengundurkan diri. Tetapi dengan dongkelan gelap-gelapan, saya tidak mau.
(Amanat pada apel besar para menteri Kabinet Dwikora, 20 Januari 1966)
KALAU Kabinet Ampera yang dimaksudkan satu kabinet yang hanya, saya ulangi lagi, hanya menanggulangi isi perut, saya berkata, saya tidak bisa, saya tidak mau. Sebab, tugas dan kewajiban saya sebagai Mandataris dan Pemimpin Besar daripada Rakyat ialah untuk secara simultan menanggulangi segala persoalan ini, memenuhi segala tuntutan revolusi.
(Pidato pada Penutupan Sidang Umum IV MPRS, 6 JULI 1966)
KALAU saya disuruh bertanggung jawab atas terjadinya G30S, maka saya menanya siapa yang harus dimintai pertanggungan jawab atas usaha pembunuhan kepada Presiden/Pangti dalam 7 peristiwa yang saya sebutkan di atas itu? Kalau bicara Kebenaran dan Keadilan, maka saya pun minta Kebenaran dan Keadilan!
(Pidato pada pengumunan Pelengkap Nawaksara, 10 Januari 1967)
REVOLUSI BELUM SELESAI
Kumpulan Pidato Presiden Soekarno
30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara
Editor : BUDI SETIYONO DAN BONNIE TRIYANA
Kata Pengantar : ASVI WARMAN ADAM
Jumlah halaman : Jilid I (460 halaman)+ Jilid II (474 halaman)
Format Buku : 15 x 21 cm
Harga per buku : Rp 45.000,-
Artikel Asvi Warman Adam: "Soekarno Menggugat"
Liputan Utama Gatra: "Arus Balik Suara yang Hilang, Kumpulan pidato Bung Karno tahun 1965-1967"
Suplemen "Iqra" Tempo: "Bung Karno: 100 Tahun dalam Sunyi"
Permalink | 3 comments |
Friday, January 03, 2003
Mati Ketawa ala Sepakbolaria
SEMUA tokohnya berkepala gundul. Ini sudah lama berlangsung, sebelum trend kepala plontos melanda pesepakbola dunia seperti Ronaldo dan Fabien Barthez. Tapi, tokoh sentralnya mudah dikenali. Ia punya dua helai rambut di kepalanya. Namanya: Si Gundul.
Di lapangan, Si Gundul punya satu keistimewaan. Ia bisa berperan sebagai apa saja: kiper, penyerang, wasit, maupun pelatih. Sayangnya, ia tak selalu bisa memanfaatkan keistimewaan itu karena kekurangannya: goblok dan sial. Lihat saja ketika ia jadi penjaga gawang. Terjadi perebutan bola dalam sebuah kemelut di depan gawangnya. Ia berhasil menangkap bola. Tapi, sial, celananya lepas dan jatuh ke tangan penyerang lawan, yang membawa masuk ke gawang. Si Gundul mengejar, ikut masuk gawang, dan … gol.
Memang tak masuk logika sepakbola manapun. Sepakbola ala Si Gundul punya aturan sendiri. Penciptanya bernama Hanung Kuncoro, kartunis tabloid olahraga Bola yang menuliskan nama di kartu penduduknya: Nunk, saja. Sepakbola ala Si Gundul ini terbit tiap minggu di tabloid Bola, milik Kelompok Kompas Gramedia, dengan nama rubrik “Sepakbolaria”.
Nunk sendiri tak berkepala gundul. Rambutnya lebat. Wajahnya juga tak seimut tokoh rekaannya. Ada sedikit kesan sangar dari kumisnya yang lebat –dengan sehelai rambut berwarna putih. Tubuhnya tinggi, kurus, berkulit agak hitam. Matanya agak sayu. Orangnya mahal senyum. Pokoknya jauh dari kesan lucu, apalagi menggemaskan. Jika mengobrol dan ada sesuatu yang lucu dia sering tertawa belakangan.
Jaya Suprana, ketua Perhimpunan Pencinta Humor, sempat kaget juga ketika bertatap muka dengannya. “Orangnya sederhana, dan sosoknya tidak menampilkan kejenakaan. Kalau saya kan orang melihat saja sudah ketawa. Tapi, justru itulah kelucuan dia,” ujarnya.
Sosok seseorang memang tak bisa jadi ukuran kelucuan karyanya. Faktanya, Sepakbolaria bisa bikin orang tersenyum, tanpa harus mati karena ketawa.
“Senyum!” teriak Si Gundul sembari berkacak pinggang dan pasang muka cemberut. Sebagai pelatih, dia gemas karena para pemainnya tak juga tersenyum ketika dua fotografer hendak mengambil gambar.
“Senyum!”
Belum juga ada yang tersenyum.
Sang fotografer tak kurang akal. Dia menghampiri Si Gundul, dan memelorotkan celananya. Kontan para pemain tertawa, dan dua fotografer itu pun bisa mengambil gambar. Klik, klik, klik.
Begitulah salah satu kesialan Si Gundul. Nunk sengaja memilih tokoh yang bisa membuat orang gemas. Jadi da memilih karakter anak di bawah lima tahun (balita).
Nunk punya alasan. Bukan semata-mata karena anak balita pasti menggemaskan dan lagi lucu-lucunya. Mereka juga tanpa dosa. Buka celana atau bugil sekalipun tak akan menimbulkan kesan jorok. Nunk mengaku belajar dari maskot-maskot olahraga, yang kebanyakan mengambil tokoh anak-anak –meski seringkali berbentuk binatang. Kekuatannya terletak pada karakter yang menggemaskan.
“Sekilas Si Gundul mirip Anda?” tanya saya dalam satu dari dua sesi wawancara dengannya Oktober lalu.
“Wou, sangat tidak mirip,” ujar Nunk, terbahak.
“Banyak kartunis yang tokohnya mirip dengan dirinya. Kalau saya… ini kan sangat tidak notunis. Misalnya (Si Gundul) tidak punya telinga, trus bentuknya abstrak. Kalau dijadikan boneka, susah, karena matanya di samping kayak wayang. Tapi nggak masalah. Saya punya banyak contoh maskot olahraga.”
HANUNG Kuncoro mengenal kartun secara otodidak. Sedari kecil dia suka melihat kartun di majalah-majalah yang dilanggan orangtuanya, Soeroso Hadiwidjojo dan Sumiyatun. Dia mulai menggambar kartun sejak SMP untuk majalah dinding sekolahnya.
“Saya punya banyak ide lucu tapi nggak bisa mengungkapkan dengan kata-kata dan tingkah laku. Saya sangat pendiam dari sononya. Salah satu jalan mengekspresikannya ya dengan kartun,” ujarnya.
Baru ketika duduk di kelas satu SMA pada 1977, dia mulai berani mengirimkan kartun-kartunya ke Krida, majalah terbitan Korps Pegawai Negeri Jawa Tengah di Semarang. Kartunnya dimuat. Dia senang ketika mendapat honor dan nomor bukti pemuatan. Sejak itu dia mulai aktif menggambar kartun.
Selepas SMA, dia ikut ujian saringan masuk perguruan tinggi. Pilihan pertamanya arsitektur. Dia gagal. Justru pilihan keduanya yang berhasil. Dia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang. Karena desakan orangtuanya, dia kuliah, meski ogah-ogahan.
Nunk masih menggambar kartun dan mengirimkannya ke media-media seperti Gadis, Suara Pembaruan, dan Suara Karya. Dia juga menjadi anggota Semarang Cartoonist Club, meski tak aktif. Sesekali dia ikut pameran atau lomba kartun. Di sinilah dia mulai mengenal karya Deliege, komikus Belgia, yang amat mempengaruhinya.
“Judul komiknya Si Bob Napi Badung. Ia nggak selaku Asterix, Tintin, atau Lucky Luke. Gambarnya juga gak begitu bagus, sederhana, tapi kuat di ide dan ekspresif sekali. Karakternya kuat. Humornya juga tak kalah sama Tintin,” ujarnya.
Komik Si Bob Napi Badung berkisah tentang seorang narapidana di penjara Inzepocket. Dengan berbagai cara, dia berusaha melarikan diri. Asistennya, Kees, membantu pelariannya, yang sayangnya justru selalu mengacaukan rencananya. Di Belanda, serial ini bernama Jaap, sedangkan di Prancis, Bobo.
Lulus kuliah, Nunk ingin bekerja di media. Pada masa menganggur dia membaca Bola, saat itu masih sisipan harian Kompas sejak 1984 yang dilanggan orangtuanya. Penggemar sepakbola ini berpikir bagaimana agar kartunnya bisa menghiasi Bola. Dia ingin kartunnya muncul secara berkala seperti kartun strip Panji Koming atau Konpopilan di Kompas dan Pak Bei di Suara Merdeka.
“Kayaknya kalau kartun strip olahraga belum ada nih. Kalau olahraga otomatis sepakbola. Pasti. Itu olahraga paling populer,” pikirnya.
Nunk menuangkan ide-idenya. Semuanya berjumlah 20 gambar. Dia memberi nama untuk kartun stripnya: Sepakbola Lalala, yang menurutnya bagus dan bersajak. Dia mengirimkannya ke Bola.
Sepakbola Lalala menarik perhatian Clements Stefanus, yang jadi penjaga gawang artistik Bola. Sudah lama, Bola ingin punya maskot sendiri seperti Om Pasikom di Kompas. Dan coretan-coretan Nunk dianggap bisa mewujudkan keinginan itu. Stefanus membicarakan karya Nunk dengan Ignatius Sunito, pemimpin umum Bola.
“Mas, ini kayaknya bisa dibuat seperti Om Pasikom yang Mas Nito inginkan. Ini calom saya,” ujarnya.
Bersamaan dengan pemuatan kartunnya, Nunk hendak berangkat ke Jakarta. Seorang teman memberi tahu adanya lowongan kerja di Perusahaan Gas Negara di Jakarta. Karena desakan orangtuanya, Nunk melamar dan mendapat panggilan untuk tes. Di atas kereta, iseng-iseng dia membeli Kompas. Dia terkejut ketika melihat gambarnya dimuat di Bola pada 17 Juni 1988. Dia girang bukan kepalang.
Nunk tak lulus tes kerja di Perusahaan Gas Negara. Tapi dia tetap tinggal di Jakarta selama dua bulan, menginap di rumah temannya, Tohir Nur Ilhami, di Tanjung Duren. Sementara kartun stripnya, Sepakbola Lalala, dimuat secara tetap sampai Agustus 1988.
Pada suatu waktu, Nunk datang ke kantor redaksi Bola. Clements Stefanus menawarinya pekerjaan di bagian artistik. Nunk kaget. Ragu. Meski bekerja di media menjadi keinginan lamanya, dia merasa belum siap dan ingin bikin banyak karya dulu. Tapi ini kesempatan bagus. Setelah menimbang, dia menyatakan bersedia.
Justru Ignatius Sunito yang menolaknya. Bola masih berupa sisipan Kompas, dan Sunito tak berani merekrut tenaga baru.
“Saya belum bisa menerima Anda, apalagi background Anda ekonomi. Saya masih ragu,” ujarnya.
Sunito ingin Nunk bekerja di bagian pemasaran. Soal hobi berkartun, Sunito menawarkan dispensasi. Nunk menolak. Dia takut kerjanya jadi tak maksimal. Dia juga sudah memilih kartun sebagai pilihan hidupnya.
Sebulan kemudian Nunk mendapat panggilan lagi dari Bola. Kali ini dia diterima sebagai karyawan. Dia mendapat jatah tetap menggambar Sepakbola Lalala, yang setelah vakum sebulan berubah nama menjadi Sepakbolaria. Tokoh Si Gundul terus disempurnakan. Ketika Sepakbola Lalala bentuknya masih sederhana dengan coretan dan ekspresi yang masih lemah, bahasa tubuh maupun geraknya.
Nunk juga mempelajari karya-karya luar seperti Walt Disney. Dia ingin tahu letak kekuatannya. “Ternyata kekuatannya, selain ide, bagaimana mengekspresikan mimiknya,” ujarnya.
Perlahan Si Gundul mulai menemukan bentuk. Nunk menciptakan sekitar duapuluhan karakter Si Gundul. Dia juga membuat Si Gundul dalam berbagai posisi: berdiri, menendang bola, dan sebagainya. Perubahan juga dilakukan pada aksesoris. Nunk pernah memberi rambut pada semua tokohnya. Kini, semua tokohnya gundul, kecuali tokoh utamanya, yang punya dua helai rambut di kepala.
Teman-temannya di redaksi bertanya: “Namanya siapa?” Nunk sadar, tokoh utamanya harus punya nama. Kemudian disepakati namanya: Si Gundul.
“Gambarnya sudah mantap karena lama sekali menjadi ciri khas Bola. Karakter tokohnya menarik karena semua nyaris rata, kayak kokim Smurf. Jadi bisa lincah bikin set para pemainnya,” ujar Priyanto Sunarto, kartunis majalah Tempo.
Smurf adalah serial komik karya Pierre Culliford –dikenal sebagai Peyo– yang muncul kali pertama pada 1958. Serial komik ini mengisahkan suka-duka kehidupan sekelompok makhluk mini berwarna biru yang tinggal di sebuah desa kecil di tengah hutan, dengan seluruh bangunannya berbentuk jamur. Belakangan, komik ini menjadi alat propaganda komunis selama perang ideologi melawan kapitalisme Amerika.
Si Gundul jadi maskot Bola. Kartun opini dan semua ilustrasi juga memakai tokoh Si Gundul. Pada 1992, hak paten maskot Si Gundul didaftarkan ke Departemen Kehakiman atas nama tabloid Bola. Juga logo Bola –dengan alasan, banyak aksesoris olahraga meniru logo ini.
Nunk tak tahu-menahu. Dia pernah dipanggil Sunito untuk menandatangani formulir pengajuan hak paten. Nunk tak membaca isinya; langsung tanda tangan. “Saya gak mempermasalahkannya, eh tahu-tahu untuk Bola,” ujarnya.
NUNK memasuki toko olahraga Bola di kompleks Kelompok Kompas Gramedia di Palmerah Selatan. Toko ini berdiri pada 1988, berbarengan dengan lepasnya Bola sebagai sisipan Kompas. Di sini tersedia beragam perlengkapan olahraga, terutama sepakbola, beserta pernah-perniknya.
Dia menghampiri rak plastik kecil di atas meja yang memajang buku Sepakbolaria 3.
“Sepakbolaria jilid 1 dan 2 masih ada?”
“Sudah habis. Kita nggak punya stok,” ujar penjaga toko.
Nunk merasa puas. Dia lalu mengamati pernik-pernik olahraga, seperti bola, topi, poster, stiker, dan sebagainya, di dalam meja. Umumnya melekat logo Bola dan maskotnya, Si Gundul. Di dekatnya terdapat kotak plastik tembus pandang yang berisi boneka Si Gundul menenteng bola.
“Nggak beli bonekanya sekalian?”
“Nggak,” ujar saya.
Saya hanya mau membeli buku Sepakbolaria 3. Harganya murah, Rp 8.000. Sepakbolaria 3 diterbitkan Elex Media Komputindo. Dua jilid sebelumnya diterbitkan secara berbarengan pada Juli 1992, dan sudah empat kali cetak ulang.
“Kalau dijadikan buku, Sepakbolaria mungkin sudah sampai tujuh jilid. Saya masih punya beberapa ratus yang belum dibukukan. Dari 1990 sampai sekarang sudah ada sekitar 600 karya,” ujarnya.
Bagaimana Nunk bisa bertahan 12 tahun lamanya hanya dengan satu tema: sepakbola?
“Itulah yang saya kagumi. Dia konsisten, bertahan, mengkhususkan diri hanya pada sepakbola. Dan mungkin Sepakbolaria tetap ada selama sepakbola masih ada,” ujar Jaya Suprana.
Nunk suka menonton bola. Dia tak hanya melihat permainannya, tapi juga ulah penonton. Akhir-akhir ini saja dia mulai jarang menonton, kecuali partai-partai menarik serta babak semifinal dan final.
“Yang jelas, saya suka sepakbola Indonesia karena banyak adegan yang kadang di luar dugaan. Misalnya begini. Ada pemain cidera, terus bagian kesehatan masuk, membawa tandu. Nah, mereka mengambilnya terbalik, berhadap-hadapan, jadi mau jalan kan susah. Itu ide, itu rezeki, nggak perlu cari,” ujarnya.
Tapi Sepakbolaria hadir bukan untuk memberi petuah atau melontarkan kritik mengenai persepakbolaan Indonesia. Paling banter, menyentil. Isinya pun tak selalu aktual dan faktual. Kalau pun ada, Nunuk memelesetkannya. Seperti ketika menara kembar World Trade Center ditabrak pesawat pembajak pada September 2001. Televisi CNN menayangkan tragedi itu dengan teks di bawahnya: “America Under Attack”. Kebetulan, beberapa hari kemudian, kesebelasan Indonesia dipermalukan tim lemah Myanmar dengan skor 0:1 dalam perebutan medali perunggu Sea Games XXI di Kuala Lumpur. Nunk menggambarkannya: Si Gundul menonton siaran itu di televisi yang memasang teks “Indonesia Under Attack”.
Nunk kadang kewalahan mencari ide orisinal. Biasanya dia menyiasatinya dengan mendaur-ulang ide-ide sebelumnya. Pengembangan ini tak selamanya berhasil. Ada yang tidak menunjukkan perbedaan signifikan dari gambar sebelumnya. Nunk kurang jeli.
“Itu sih wajar. Karya-karya Shakespeare ada duplikasinya. Dia kan manusia biasa. John Sebastian Bach, banyak juga karya-karyanya yang diulang-ulang. Picasso juga. Itu sisi lain dari kekurangan manusia,” ujar Jaya Suprana.
Untuk menghindari duplikasi, Nunk meluaskan idenya. Keberadaan di Gundul kini tak melulu di lapangan bola. Kadang di rumah, di perjalanan,… di mana saja. “Yang pasti ide itu makin lama makin kering,” ujar Nunk.
“Susah memang mencari ide dengan tema sama terus. Kadang membosankan atau stereotip, atau dibuat-buat. Kadang terpaksa bermain d zona saru. Mas Hanung merasakan penderitaan itu. Tapi kadang juga segar dan lucu atau aneh,” ujar Priyanto Sunarto, yang juga mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung dan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta.
Persoalan lainnya, Sepakbolaria lebih menonjolkan banyolan fisik atau slapstick. Tokohnya selalu sial. Artinya, Sepakbolaria belum beranjak dari masalah klasik kartun-kartun Indonesia.
“Dia mungkin merasa puas dengan model begitu, sehingga tak beranjak dari situ. Gag cartoon kan seperti mie instan, cepat saji. Mungkin kebiasaan waktu melajang, bikin gambar untuk kejar setoran,” ujar Pramono R. Pramoedja, wakil pemimpin redaksi Sinar Harapan dan ketua Persatuan Kartunis Indonesia, tertawa.
Syahrinur Prinka dari majalah Tempo tak melihat kesan slapstick dalam kartun Nunk. Menurutnya, hampir semua kartunis pernah terkena gag cartoon, termasuk dirinya. “Kalau saya, berpikir mengenai keunikan dia: hanya sepakbola. Yang terpenting bagi semua karya kan kita punya ciri khas. Dia termasuk kartunis yang punya ciri khas dengan gambarnya,” ujarnya.
Salah satu banyolan Nunk adalah memunculkan simbol “burung” untuk menggantikan alat kelamin laki-laki. Dan ini pernah ditanyakan Aom Kusman, tokoh kelompok lawak Kabayan yang menggemari Sepakbolaria. “Kenapa seringkali melibatkan peranan manuk,” tanyanya seperti dikutip dari kata pengantar buku Sepakbolaria.
Dalam Sepakbolaria 2, peranan manuk (burung) ini dikumpulkan dalam satu tema: helm. Salah satunya seperti ini. Si Gundul pakai helm untuk melindungi kepalanya dari lemparan penonton. Penyerang lawan menendang bola dengan keras dan mengenai kemaluannya. Si Gundul menarik celanannya ke depan, memeriksa alat kelaminnya –dalam gambar, muncul simbol burung terkapar. Agar tak terulang lagi, Si Gundul melepas helmnya dan mengenakannya di bagian kemaluannya.
Nunk mengatakan tak punya niat berjorok-ria ketika menggunakan simbol burung. Burung, menurutnya, lebih aman ketimbang simbol "pisang ambon" atau "peluru kendali". “Saya pernah lihat juga di kartun luar, menggambarkan alat vital laki-laki dengan burung. Ternyata nggak cuma di Indonesia,” ujarnya.
Penggemar Sepakbolaria bukan hanya Aom Kusman. Kurniawan Dwi Julianto, pemain sepakbola nasional, membeli Sepakbolaria. “Bagus. Suka. Kartunnya gampang dimengerti,” ujarnya. Angket Bola, yang selalu menempatkan Sepakbolaria di tiga besar, juga menunjukkan kepopulerannya.
Sepakbolaria juga dinikmati orang luar. Sepakbolaria jilid 1 dan 2 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Anuar Othman dan diterbitkan Asiapac Books Singapore dengan judul Soccer Joy. Dan yang mengagetkan, Sepakbolaria sempat muncul di AFC Magazine, majalah internal milik Asian Football Confederation (AFC) atau Persatuan Sepakbola Asia yang bermarkas di Hongkong pada 1993. Pemuatan itu tanpa sepengetahuan dan seizin Nunk. Nunk kaget ketika melihat kartunnya dimuat di media itu tiga kali berturut-turut –redaksi Bola berlangganan majalah itu. Elex Media Komputindo, penerbit bukunya, juga tak tahu-menahu. Nunk segera melayangkan surat protes ke AFC Magazine. Pemuatan itu ternyata hanya seizin Asiapac Books Singapore. Setelah itu, pemuatan kartun stripnya pun dihentikan.
“Saya punya obsesi go international. Mungkin ke depan saya akan mencoba menembus sindikasi kartun internasional. (Kartunis) Indonesia belum ada,” ujarnya.
SORE itu teras kantor redaksi Bola masih ramai. Beberapa anggota redaksi duduk-duduk dan makan-makan sembari mengobrol. Mereka baru selesai rapat redaksi setelah merampungkan Bola edisi Selasa.
Sejak 1995, Bola terbit dua kali dalam sepekan. Edisi Selasa mengulas olahraga secara umum, sementara edisi Jumat hanya sepakbola. Sejak itu pula pekerjaan Nunk bertambah. Selain Sepakbolaria, dia harus membuat Si Gundul, kartun strip yang bertema olahraga secara umum –dari judulnya, sudah terlihat tokohnya ya Si Gundul.
“Kalau saya bikin sepakbola saja, terus bagaimana cabang olahraga lain. Masak saya nggak ngasih ruang untuk mengekspresikan karya dalam kartun strip dengan tema selain sepakbola,” ujarnya.
Untuk membuatnya, Nunk sesekali membuka ensiklopedia olahraga. Dia harus tahu bentuk lapangan atau atribut-atribut dari cabang olahraga yang mau dia gambar.
Seringkali Si Gundul hanya berisi kelucuan-kelucuan yang bisa digali dari cabang olahraga tertentu. Tapi Nunk juga mengabadikan kejadian politik dengan plesetan gaya Si Gundul. Misalnya ketika Jakarta digoncang kerusuhan Mei 1988. Pembakaran gedung terjadi di mana-mana. Petugas pemadam kebakaran kelabakan. Si Gundul terbengong di kolam renang. Air kolam terkuras habis untuk menyiram gedung-gedung yang terbakar.
Selain Si Gundul, Nunk juga menggambar kartun opini dua kali sepekan di halaman dua. Temanya aktual, dan lepas dari kebijakan editorial redaksi. Karenanya Nunk mesti rajin membaca koran. Jarang sekali dia membaca liputan teman-temannya –berita terhangat sudah dilahap habis oleh media harian. Sesekali dia membuat berdasarkan surat pembaca yang masuk.
“Biasanya saya mencari tema sendiri. Kalau sudah mentok, mencari sendiri nggak ada, baru nanya, ‘Ini isu yang lagi hangat soal apa?’ Nanya sama redaktur pelaksana,” ujarnya.
Sebenarnya Nunk bisa menggunakan halaman ini untuk melepaskan diri dari tokoh Si Gundul. Sayangnya, dia belum berani mengeksplorasi diri. Karakternya masih sama dengan kartun stripnya. Tokohnya masih Si Gundul. Untuk memperjelas sasaran kritiknya, dia hanya menuliskan labelnya, katakanlah Wismoyo Arismunandar atau ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia di dada, di meja, atau di kursinya. “Saya memang lemah bikin karikatur,” ujarnya.
Tapi kritik Nunk dalam kartun opininya lugas. Bukankah kebobrokan juga melanda dunia olahraga kita? Nunk menyentil kasus pemakaian obat bius di kalangan atlet, amburadulnya tinju profesional, kekalahan tim pencak silat Indonesia dalam kejuaraan silat Asia-Pasifik, hingga Bob Hasan, penghuni penjara Nusakambangan yang masih menjabat sebagai ketua umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia.
Ada kalanya kartun opinnya biasa-biasa saja. Mungkin tak ada masalah yang hangat. Meski demikian, kartunnya tetap mengundang senyum. Misalnya gambar pertarungan antara Mike Tyson dan Andrew Golota. Tyson pernah menggigit telinga lawan mainnya, Evander Holyfield. Golota dikenal suka memukul bagian kemaluan lawan. Di atas ring, sebelah tangan Tyson menutup daerah kemaluannya, sementara sebelah tangan Golota menutup sebelah telinganya.
“Kalau kartun opini lebih berat. Saya harus menguras energi. Saya bisa ke sana-ke mari mencari ide. Kalau pas lagi banyak kasus sih enak. Tapi kalau lagi sepi, tidak ada event, wah pusing. Kalau Sepakbolaria, saya masih enjoy,” ujarnya.
“Tujuan saya bikin kartun nomor satu itu menghibur. Itu saja deh. Saya nggak ingin muluk-muluk. Mencerdaskan atau mengkritik pun dengan cara saya. Saya usahakan, dengan kartun opini, yang dikritik tertawa, jangan sampai marah,” ujarnya.*
Pernah dimuat di majalah Pantau, Januari 2003.
Permalink | 11 comments |
Saturday, November 09, 2002
Anak Wayang Menggiring Angin
SUARA gending mengalun. Kursi penonton masih kosong. Di depan panggung para pengrawit memainkan peralatan masing-masing. Cahaya lampu menyorot layar yang masih terkembang. Dekorasi panggung tertata apik dengan puncak logo bergambar mangkoro dan tulisan “Ngesti Pandowo” bertuliskan huruf Jawa di bawahnya.
Alunan gamelan berhenti sejenak, hening, lalu mengalun lagi dengan layar tergulung ke atas. Seorang penari berbaju merah bersimpuh beberapa saat, kemudian menari, tanda pertunjukan wayang dengan lakon “Srikandi Menjadi Ratu” dimulai.
Ruang Gedung Ki Narto Sabdo di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang yang berkapasitas 240 penonton, tak termasuk balkon, hanya terisi tujuh orang, yang menyimak pertunjukan dan dialog pemain yang lamat-lamat.
Cicuk Sastrosoedirdjo duduk menyendiri di antara kursi-kursi penonton yang kosong. Setiap pentas ia harus mengawasi pertunjukan sebagai pemimpin harian. Ia termasuk generasi ketiga di Ngesti Pandowo. Lelaki dari 5 bersaudara ini satu-satunya anak Sastrosoedirdjo yang terlibat di paguyuban wayang orang ini. “Saya tak dididik untuk main, sehingga tak pernah main,” ujarnya sembari menyimak pertunjukan.
Kesibukan terjadi di belakang panggung. Beberapa orang menarik-ulur kelir, mengatur sound system, dekorasi panggung, dan tata lampu. Beberapa pemain sibuk merias diri. Talok dengan sigap dan terampil memainkan tangannya; merias wajah sebagai Cembowati, istri Kresna. Soeratno memulaskan wajahnya menjadi seorang pendeta.
Soeratno dan Talok merupakan generasi pertama Ngesti Pandowo. Keduanya diambil anak oleh Sastro Sabdo, menjadi bujangan. Soeratno lahir tahun 1934, dan masuk Ngesti Pandowo delapan tahun kemudian. “Ayah saya dengan Sastro Sabdo sudah seperti kakak-beradik,” kata Soeratno.
Talok yang lahir pada 1940 sudah diambil sebagai anak Sastro Sabdo sejak berusia lima tahun. “Saya keponakan Bu Sastro Sabdo.”
Mereka menjadi bujangan bersama duapuluhan anak muda lain yang menjadi tanggungan Sastro Sabdo. Keseharian mereka seperti anak muda umumnya. Bermain, pergi ke sekolah, dan acap membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Malam hari mereka melihat pertunjukan wayang. “Bujang itu enak. Seperti keluarga, makan dan sebagainya dari Sastro Sabdho, tapi gaji utuh,” ujar Talok, yang punya nama asli Kasinem.
Mereka mengikuti ke mana pun Ngesti Pandowo pentas. Kalau berhenti di suatu tempat, rombongan diinapkan di rumah besar di kampung-kampung yang dikontrak, meski ada juga sebagian di hotel. Sebagai tempat pentas, dicarilah gedung yang mencukupi. Jika tak ada, dibuatlah tobong. Tiap malam Soeratno dan Talok menonton pertunjukan dari pinggir pilar, sekaligus mempelajari karakter tokoh-tokoh wayang, hingga mahir memainkannya.
Persiapan sudah selesai. Soeratno dan Talok bergegas menuju samping panggung, menunggu giliran tampil.
NGESTI Pandowo sendirian di Semarang. Perkumpulan Sri Wanito yang dipimpin dua bersaudara Yuk Hwa dan Kong Hwa berdiri tahun 1935, dan Wahyu Budoyo yang didirikan Sri Ani Sukarti pada 1970, sudah lama bubar. Ngesti Pandowo didirikan oleh Sastro Sabdho di Maespati, Madiun, 1 Juli 1937. Pertunjukan pertama “Endang Werdiningsih” beroleh sukses. Ngesti Pandowo kemudian menjadi kelompok wayang keliling. Dengan ukuran tonil (panggung) masih kecil dan kelir 7 ban per meter, serta busana dan gamelan sewaan, Ngesti Pandowo pentas dari satu pasar malam ke pasar malam; di Nganjuk, Kediri, Tukung Agung, Blitar, Kertosono, dan kembali ke Madiun. Sastro Sabdho kemudian diperkuat oleh Sastrosoedirdjo, Kusni, Darso Sabdho, Narto Sabdho, dan Marno Sabdho.
Keadaan susah dialami ketika zaman Jepang karena pemberlakuan jam malam dan sensor. Masalah datang ketika main di bioskop Gran dengan lakon “Kikis Tunggorono”. Sutradara Kusni diminta menghadap bagian sensor, dan diinterogasi. Lolos sensor, dan Ngesti Pandowo pun bisa pentas lagi. Keadaan susah ini bertahan hingga Jepang menyerah.
Meski masih kecil, Soeratno dan Talok sudah ikut rombongan ketika pendudukan Belanda, agresi kedua. Saat itu Ngesti Pandowo main di Delangu. Pukul 24.00 ada tentara Indonesia memberitahu bahwa gedung pertunjukan akan dibakar karena Delangu sudah diduduki Belanda, sehingga alat-alat harus segera dipindahkan. Wirjo, RM Begog, Markum, Kasidi, Truno Kartika, dan Tjipto mengangkat semua peralatan dan menitipkan ke rumah-rumah penduduk. Soeratno dan Talok hanya bisa melihat kesibukan senior-seniornya.
Oleh Sastrosoedirdjo, peralatan gamelan itu baru dibawa ke Solo ketika keadaan relatif tenang, meski di perjalanan sempat dicegat penjagaan Belanda. Keadaan genting ini membuat anak-anak wayang tak pentas selama satu tahun. Sebagian pemain pulang ke daerah masing-masing, dan sisanya menginap di rumah Sastrosoedirdjo. Talok berada di rumah Sastro Sabdho di Solo. Soeratno pulang ke rumah orang tuanya di Klaten selama setengah bulan, dan kemudian bergabung kembali ke Solo.
September 1949, akhir pendudukan Belanda, Ngesti Pandowo mendapatkan job untuk pentas di pasar malam di Stadion Semarang. Ki Narto Sabdho mengumpulkan anggotanya. Beberapa anggota di luar daerah dijemput. Karena tak semuanya kumpul, direkrut pemain-pemain baru. Mereka berangkat dengan truk yang dikawal konvoi Belanda. Di Semarang mereka mendapat asrama di kantor sosial di Jalan Kaligawe. Setelah sebulan, Ngesti Pandowo pentas di pasar malam Tegal, dan kemudian kembali ke Semarang untuk main di gedung kesenian di Dargo.
“Sastro Sabdho menginap di Peterongan. Kalau berangkat ke Dargo naik becak, iring-iringan seperti parade,” ujar Talok yang tak diizinkan main oleh polisi militer Belanda karena masih kecil.
Perlahan, sebagian anggota lainnya berkumpul kembali. Ngesti Pandowo mulai menetap, dan menata diri.
HARI itu, pukul 08.00, Walikota Semarang Hadisoebeno Sasrowerdoyo bersama kedua anaknya menemui Sastro Sabdho.
“Pak Sastro, sebetulnya Ngesti Pandowo tak layak main di sini. Sayang sekali.”
“Mau main dimana lagi?”
“Main di pusat kota.”
“Tapi bagaimana?”
“Tapi mau, Pak? Saya sanggup memberi gedung.”
“Mau!”
“Saat ini saya belum bisa beri gedung, karena biayanya besar. Saya beri brak (los) dulu.”
Ngesti Pandowo diberi tempat pementasan di belakang Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). GRIS sebelumnya merupakan sebuah sosietet de Harmonie (gedung pertemuan Harmoni) milik seorang Belanda. Karena letaknya dirasa tak baik untuk sebuah sosietet, gedung itu dijual pada Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM). Untuk acara-acara sosietet De Harmonie dibuat gedung baru di Jalan Bojong. GRIS kemudian berpindah tangan ke Fonds Gris yang terbentuk Agustus 1945 dan beranggotakan wakil-wakil dari penduduk kota Semarang yang diketuai Hadisoebeno Sasrowerdoyo. Fonds Gris dibubarkan pada 1950, diganti Yayasan Gedung Rakyat, setelah tujuan pembelian gedung terlaksana. Pada 1953 dibangun gedung kesenian, yang kemudian dipinjamkan pada Ngesti Pandowo.
Di GRIS Ngesti Pandowo mengalami kejayaan. Mengunjungi Semarang tanpa menonton Ngesti Pandowo sungguh suatu kerugian, begitu kata orang-orang Semarang tempo doeloe. Begitu juga turis asing yang mengunjungi Indonesia. Ngesti Pandowo menjadi salah satu trade mark kota Semarang.
“Dulu meski hujan ada penonton. Gedung belum dibuka, orang-orang sudah antri beli karcis dan pesan tempat. Kalau tak pesan tempat, tak kebagian,” ujar Soeratno yang bisa memerankan tokoh apa saja; balatentara Kurawa, Petruk, Ontoseno, atau tokoh idolanya, Anoman.
Tak jarang ada penggemar yang kedanan (tergila-gila). Talok termasuk pemain yang punya banyak penggemar. “Misalnya ada orang punya hajat, kalau yang fanatik ya memanggil saya untuk main,” ujar Talok yang acap menjadi Abimanyu.
Soekarno salah satu penggemar wayang orang ini. Ada dua bambangan cakil kesayangan Soekarno yang dimainkan oleh Soetjipto dan Soewarni. Keduanya pemenang lomba tari bambangan cakil seluruh Jawa yang diadakan pemerintah. Mereka kerap diundang ke Istana Negara untuk menghibur tamu-tamu negara, serta tiap perayaan kemerdekaan Indonesia. Ketika Soewarni keluar dari Ngesti Pandowo, Talok menggantikannya.
Suatu ketika, Ngesti Pandowo pentas di Ikada. Soekarno datang, lalu meminta Ngesti Pandowo tampil di Istana keesokan harinya. Selepas tampil, Soekarno mengajak makan sembari mengobrol dan bercanda.
“Saya bangga dan gembira makan bareng Bung Karno. Bapak duduk di muka saya,” kata Soeratno yang masih ingat sajian penutup pisang ambon yang besar-besar, dan bisa dimakan untuk tiga orang.
“Saya merasa senang, merasa dihargai, ‘kok hanya Ngesti Pandowo yang dapat perhatian’. Anak-anak dan para menteri juga menonton,” kata Talok.
“Ngesti Pandowo main di Istana Bogor dan Merdeka sudah tiga kali. Di Istana Bogor tak diajak makan. Dulu masih Bu Fatmawati, tapi tak ikut. Mega, Rachma, Guruh, dan Sukma masih kecil-kecil,” ujar Soeratno.
Ada kejadian menarik mengenai Soekarno ketika memberi kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Penduduk Yogya tahu betul bahwa Soekarno akan menonton selepas mengajar. Di muka brak pentas dipadati penonton. Tiba-tiba gedeg (dinding dari anyaman bambu) jebol, Soekarno muncul dari belakang brak diikuti rombongan, lalu berkumpul dengan penonton lain. “Penonton tahunya Bung Karno bisa menghilang. Padahal Beliau tahu kalau lewat depan akan mengganggu penonton,” kata Soeratno, tergelak.
Untuk meningkatkan penghasilan pada 1959 Ngesti Pandowo masuk dapur rekaman. Sebagai langkah percobaan Ngesti Pandowo menjual naskah cerita “Kongso Adu Jago” dan “Kresno Kembang” dengan harga Rp 45.000 kepada Remaco yang merekamnya dalam bentuk piringan hitam. Karena relatif sukses, Remaco kemudian meminta lima naskah lagi untuk direkam.
Soeratno dan Talok menikmati masa jaya Ngesti Pandowo yang berdampak pada kesejahteraan anak-anak wayang. Ngesti Pandowo menanggung biaya sakit, melahirkan, maupun kebutuhan sekolah anak-anak anggota.
Zaman berubah, perlahan kejayaan itu meredup. Sesudah Kusni meninggal pada 1980, kemudian diikuti Sastrosoedirdjo pada 1984, dan Ki Narto Sabdho setahun kemudian, Ngesti Pandowo kehilangan tokoh-tokoh panutan. Bersamaan dengan itu, muncul kesulitan kronis soal manajemen dan kreativitas, hingga terlontar untuk menjual peralatan dan inventaris. Jumlah penonton makin surut hingga menyisakan 5 orang per malam. Kesejahteraan perlahan dikurangi dan kemudian dihentikan. Ketika masalah ini terselesaikan, muncul masalah lain yang bahkan lebih berat. Pada November 1996, Ngesti Pandowo digusur dari GRIS yang diambil-alih oleh pihak ketiga, Bank Pembangunan Daerah Jateng. Penggusuran ini mengejutkan masyarakat. Radio BBC menyiarkan sekaligus menyesalkannya. Anak-anak wayang kecewa, sedih, tak bisa membayangkan apakah masih bisa pentas dan mendapatkan uang.
Ngesti Pandowo kemudian diizinkan pentas di gedung TBRS, tanpa jadwal yang jelas dan tanpa background. Enam bulan berhenti pentas, Ngesti Pandowo menyewa gedung di Istana Majapahit dan bisa menggelar pentas secara penuh. Namun pengunjung telah berkurang drastis, hingga biaya sewa tak terbayar. Bantuan pemerintah daerah pun hanya bertahan 4 bulan. Terakhir, Gedung Ki Narto Sabdo di TBRS menjadi tempat pementasan, hingga kini.
“Ada surat resmi dari wali kota. Di sini dibebaskan dari sewa, tapi diberi kesempatan pentas tiga kali seminggu, Kamis sampai Sabtu,” kata Cicuk. “Susahnya kalau gedung ini dipakai untuk pementasan lain, alat-alat ini harus dipindahkan dulu, kecuali kalau untuk pementasan wayang. Padahal peralatan ini kan permanen dan sebagian sudah usang sehingga rawan.”
Namun ini pun tak mampu menaikkan kembali pamor Ngesti Pandowo. Setiap pementasan hanya dihadiri segelintir orang. praktis, kesejahteraan anak-anak wayang pun makin berkurang.
SORE itu, kesibukan terlihat di sebuah kompleks di Perumahan Kakancanmukti yang dikenal sebagai perumahan Ngesti Pandowo. Beberapa remaja bermain gitar, dan anak-anak berlari-lari. Tapi rumah bernomor 423 lengang. Tiga ekor burung tertidur di sangkar masing-masing. Di bawahnya empat sepeda tergeletak tak beraturan. Gambar Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri menghiasi dinding bercat putih yang sedikit mengelupas dengan sebuah lampu di bawahnya. Kursi tamunya juga sedikit rusak.
Seorang pria keluar dengan pakaian rapi. Kumisnya tipis, dan wajahnya menyisakan kegagahan sebagai pemain wayang. Cucunya yang berusia 5 tahun mengikuti dari belakang. Afrizal Ramadhani, nama anak itu, adalah cucu dari anak pertama Soeratno-Talok yang dititipkan di rumah pasangan ini. Enam dari delapan anak mereka sudah menikah, dan sisanya sudah mandiri.
“Saya tinggal di sini tak keluar sepeser pun, dan selang 3 bulan sertifikat keluar,” ujar Soeratno sembari menunjukkan buku catatan yang sedikit kumal. Di situ tercatat 24 April 1990 sebagai tanggal penempatan rumah itu. Sebuah foto hitam-putih bergambar Soeratno beraksi dengan penampilan Anoman dan brosur pementasan di India yang memakai gambar itu, terselip. Soeratno menunjukkan gambar itu dengan bangga.
Tak beberapa lama kemudian Talok muncul.
Soeratno dan Talok menikmati masa tuanya di rumah sederhana itu. Keseharian Talok disibukkan dengan membereskan rumah, dan sesekali mengikuti arisan atau kegiatan ibu-ibu di kampung. Soeratno biasa membaca koran atau majalah, mengisi teka-teki silang, dan sesekali memutar video compct disc. “Saya suka film detektif,” ujar Soeratno yang menikahi Talok pada 1956.
“Kami tak punya kesibukan apa-apa. Sudah lima tahun ini saya berhenti memberi kursus tari dan rias pengantin. Sudah banyak tempat kursus. Kesibukan utama kami sekarang ya mengurusi cucu,” kata Talok yang masih menyiratkan kecantikannya.
Meski usia menginjak senja, pasangan ini tetap bertahan di Ngesti Pandowo yang hanya bisa menggaji anggotanya di bawah upah minimum regional; Rp 2.000-5.000, tergantung jumlah penonton. Sejak pamor Ngesti Pandowo meredup, kehidupan pas-pasan semacam ini biasa mereka hadapi. “Meski kehidupan susah, saya serahkan pada Yang Di Atas. Dapat banyak ya dimakan, sedikit ya dimakan. Saya sendiri heran kok bisa hidup dengan penghasilan sekecil itu. Tapi kuncinya, hati tetap senang,” ujar Soeratno.
“Ini soal melestarikan budaya, panggilan seni,” kata Talok yang pernah meraih penghargaan bintang karena kesetiaannya dari Ngesti Pandowo saat peringatan 25 kelompok wayang ini.
Pukul 17.00. Sebentar lagi, sebuah mobil akan menjemput anak-anak wayang itu menuju tempat pementasan.*
Permalink | 2 comments |
Monday, November 04, 2002
Superdirector: One Man Show
DIA berwajah bayi. Perawakannya kecil, tapi badannya gempal. Kulitnya rada gelap. Pakaiannya hitam-hitam. Dia duduk bersila di ruang tamu yang terasa adem, menikmati video musik dari MTV.
“Saya ini termasuk generasi MTV, generasi yang lahir ketika MTV lagi jaya-jayanya,” katanya, menyebut saluran khusus musik MTV yang muncul pada 1981.
Ketika itu, dia bukanlah siapa-siapa. Dia seperti remaja kebanyakan yang suka hal-hal baru. Kebetulan saja dia anak diplomat, yang harus hidup berpindah-pindah negara. Saat itulah dia menikmati MTV, dan takjub musik bisa berpadu dengan gambar. Musik ternyata tak hanya bisa didengar, tapi juga dilihat mata. Baginya, itu sesuatu yang baru. “MTV saya lihat sebagai satu revolusi kebudayaan pop. Fenomenal,” katanya.
Saat itu jauh dari pikirannya untuk menjadi sutradara video musik, meski dia sudah iseng bikin video musik sendiri. Dia membuatnya ketika kelas dua SMA di Srilanka, negara tempat ayahnya, Mohammad Saleh, bertugas pada 1983. Temannya, Edi Setiawan, punya kamera home video keluaran terbaru dari Sony. Karena mengidolakan Duran-Duran, muncul keinginan membuat video musik. Kebetulan salah satu video musik Duran-Duran berlokasi di Srilanka, jadi lokasinya sama. Ada dua lagu Duran-Duran yang mereka garap; Lonely in Your Nightmare dan Hungry Like The Wolf. Aksi mereka yang cuma berjalan-jalan direkam dalam pita kaset Betamax. Setelah selesai, mereka mengeditnya secara manual; dari VHS ke VHS.
“Kalau mau ngomong inspirasi bikin video musik, bukan (Steven) Spielberg, bukan orang film, malah Duran-Duran. Karena saat itu mereka bikin musik video yang benar-benar tergarap,” katanya.
“Saat MTV baru keluar, yang lain (video musiknya) cuma di studio. Ada dua yang fenomenal; Michael Jackson dan Duran-Duran. Saya suka Duran-Duran karena video klipnya lebih berpetualangan, di negara antah berantah segala macem, yang fantasi. Kalau Micheal Jackson ‘kan lebih dance.”
Srilanka jadi negara terakhir ayahnya bertugas di luar negeri setelah sempat ditempatkan di Iran dan Yugoslavia. Ayahnya pensiun, dan mulai menetap di Jakarta. Tapi, tiga tahun kemudian, ketika dia menginjak tingkat dua di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti, Jakarta, ayahnya meninggal dunia. Keluarganya kehilangan satu-satunya sumber pencari nafkah. Untuk menambah biaya kuliah, dia mengerjakan poster-poster komikal di toko komik DEHA di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dia menggambar tokoh komik terkenal Superman, yang kemudian dipajang di dinding toko.
Suatu ketika, pada 1991, Edward Buntario, art director di Creative Concepts, sebuah perusahaan periklanan di Jakarta, tertarik dengan poster-poster itu dan ingin berkenalan dengannya.
“Nama saya Rizal Mantovani.”
“Kamu yang gambar ini, ya?”
“Iya.”
“Mau nggak kerja di kantor saya jadi grafis desainer?”
“Waduh Pak, susah banget. Saya sekarang lagi kuliah.”
“Ya udah part time aja lah.”
“Part time? Ya, boleh deh.”
Keesokan harinya, dia diperkenalkan dengan Richard Buntario, adik Edward yang punya perusahaan itu. Richard memintanya menggambar. Richard juga menanyai kesukaannya, yang dia jawab menonton MTV dan Sesame Street, serial televisi karya Jim Henson, yang juga memopulerkan The Muppet Show. Sejak pemunculannya pada 1970 Sesame Street sukses besar dan menjadi program yang sangat diminati anak-anak sepanjang sejarah pertelevisian.
“Jadi bahasa televisi kita nyambung, sama. Itu membuat saya tertarik untuk merekrut dia,” kata Richard.
Di Creative Concepts pekerjaannya membuat story board untuk keperluan iklan. Setahun kemudian, ketika Richard Buntario mendirikan perusahaan baru bernama Broadcast Design Indonesia (BDI), dia ikut bergabung. Selain membuat iklan, BDI juga memanfaatkan keberadaan televisi swasta dengan membuat acara televisi. Di sinilah dia kemudian dilibatkan sebagai asisten Richard Buntario. Dia terlibat dalam penggarapan Bursa Komedi untuk RCTI. Salah satu tokohnya, sebuah boneka bernama Bob yang jadi pasangan pelawak Krisna Purwana, dibikinnya dan juga dimainkan olehnya. Tokoh itu lahir karena kesukaannya pada serial pendidikan Sesame Street ketika kecil.
“Saya ingat Sesame Street ketika buat acara teve, yang humor tapi kepengin beda. ‘Apaan ya, boneka saja kali ya.’ Karena ‘kan bikin orang tertawa saja susah. Ada pepatah film di Inggris, dying is easy, comedy is hard. Mati itu lebih gampang daripada buat orang ketawa,” katanya.
“Saya memang senang Sesame Street. Jadi boneka-bonekanya Jim Henson itu saya senang banget, seperti Kermit dan Ernie. Dulu saya nonton Sesame Street tiap hari. Dulu Iran punya tiga channel, salah satunya pasang Sesame Street.”
Setelah bikin acara televisi, dia ingat kesukaannya nonton MTV. Dia lalu menonton beberapa video musik di TVRI. “Saya lihat video klip-video klip di teve pada 1991 itu, kecuali video klip Jay Subiakto, kalau syutingnya nggak di taman ya di Ancol. Isinya begitu melulu,” katanya.
Dia melihat video musik Jay Subiakto lebih berwarna etnik. Warna pop belum tergarap. Warna inilah yang kemudian dia tawarkan kepada Richard Buntario.
“Chard, kita bikin video musik, yuk.”
“Ayo, ayo. Cuma materinya mana. Ini ‘kan susah, dan kita bukan di dunia itu.”
Tawaran kali pertama datang dari teman Richard untuk membuat video musik dangdut Suka-Sukaku yang dinyanyikan Helvy Mariyand. Meski tak mendapat respon luar biasa, hasil dari pekerjaan pertama ini mereka tawarkan ke Musica Studio. Indrawati Widjaja, direktur produksi, menyambutnya dan menawarkan pembuatan video musik rapper Iwa K berjudul Kuingin Kembali. Ketika ditayangkan, video musik ini dianggap sebuah terobosan baru dalam industri musik Indonesia. Sejak itu BDI menerima banyak permintaan untuk pembuatan video musik yang dikerjakan Richard bersamanya sebagai asisten.
“Sebagai asisten dia rajin, setia, disiplin, dan sangat mendukung sekali sehingga bisa diandalkan. Kalau saya nggak masuk sehari-dua hari dia bisa melanjutkan pekerjaan saya. Benar-benar asisten yang diidealkan banget oleh setiap sutradara,” kata Richard.
Kerja sama itu berbuah manis. Keduanya meraih gelar sutradara terbaik dalam ajang Video Musik Indonesia 1995 pada acaranya yang perdana melalui video musik Cuma Khayalan-nya Oppie Andaresta. Sejak itu duet Richard Buntario-Rizal Mantovani mulai dikenal, yang lebih populer disebut Duo.
SEPAGI ini, di pertengahan Januari 1994, dia sudah berada di kantornya. Richard Buntario bertemu dengannya sebelum masuk ruangan.
“Kok, tumben datang pagi-pagi?”
“Oh, ya, nih gue lagi kepengin menyelesaikan beberapa tugas.”
Maka, keduanya pun berpisah, masuk ke ruangan masing-masing. Tak berapa lama, dia kembali masuk ke ruangan Richard. Dia menangis.
“Kenapa lu nangis, Zal?”
“Gila nih ....”
“Kenapa?”
“Gue tadi keluar rumah Ria, tahu-tahu ketemu temannya, Aldi. Aldi sudah teler-teler gitu. Gue pikir cuman ‘Wah sakit’ gitu. Nggak tahunya tuh lagi saat-saat sebelum dia mau mati. Gue juga baru tahu.”
“Poin lu apa?”
“Poinnya ada orang mati di rumah Ria sekarang, dan gue mesti balik ke rumah Ria.”
“Ya udah, pergi saja.”
Dia bergegas menuju rumah Ria Irawan, kekasihnya, yang terkenal sebagai pemeran Juminten dalam Lika-liku Laki-Laki di RCTI. Tiba di sana sudah ada ibu Ria, Ade Irawan, dokter, dan polisi. Siangnya, ditemani petugas, dia dan Ria datang ke rumah mertua Aldi untuk mengabarkan kematian Aldi.
Aldi, bernama lengkap Raden Mas Rifardi Soekarno Putro, yang dikenal sebagai seorang pengusaha muda ditemukan meninggal dunia karena overdosis di lantai bawah rumah Ria Irawan di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kematian Aldi mendapat perhatian luas bukan saja karena melibatkan seorang artis, tapi juga karena mulai dikenal sejenis obat bius bernama ecstasy.
Beberapa jam sebelum Aldi meninggal dunia, Rizal Mantovani yang masih tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di Universitas Trisakti berada di rumah Ria. Dia menjadi saksi kunci, dan akan terus dimintai keterangan oleh polisi. Dia akhirnya datang ke kepolisian sektor Metro Cilandak, dan bertemu dengan polisi R.E. Nasution.
“Pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Kamu jangan ke mana-mana!”
“Saya nggak kemana-mana. Kalau perlu saya di sini.”
“Kamu mau di sini?”
“Nggak apa-apa.”
“Oke deh. Ya udah di mana?”
“’Kan bisa di kamar bapak.”
Dia menginap di ruang kerja Nasution selama beberapa hari. Keputusan ini dia ambil untuk membantu kerja polisi yang berarti mempercepat penuntasan kasus tersebut. Dia juga enggan pulang karena hadangan wartawan di luar rumahnya yang ingin mendapat informasi darinya.
Sebagai partner, Richard Buntario memahami betul apa yang dialami rekan kerjanya. Ia melihat kasus itu amat menganggu pikiran Rizal, juga pekerjaannya. “Dia merasa benar-benar capek, karena sorotan pers dan ditanyai pertanyaan serupa terus. Dia terus dihantui ini dan itu, padahal dia tak terlibat. Jadi dia tetap kerja, tapi kreativitasnya nggak maksimal. Dia sedang lesu,” kata Richard.
Untung, ini tak berlangsung lama. Sebulan kemudian dia bisa kembali bekerja. Dia juga bisa meneruskan hubungan asmaranya dengan Ria Irawan, hingga setahun kemudian berpisah. Masih bersama Richard, dia menggarap variety show bertajuk Intermezzo untuk ANteve dan juga beberapa video musik. Duo ini kembali berkibar ketika pada 1995 meraih MTV Asia Viewers Choice Award dalam ajang MTV Music Awards berkat video musik Sambutlah yang dibawakan Denada. Dia sendiri dinilai Vista, sebuah majalah musik dan televisi (kini sudah almarhum), sebagai salah satu dari 20 orang paling berpengaruh di industri televisi Indonesia pada tahun yang sama.
Dalam berkarya dia menggunakan konsep kebudayaan pop. Baginya, kebudayaan pop adalah sesuatu yang memiliki idiom-idiom, bahasa-bahasa, simbol-simbol, yang dapat dimengerti khalayak seluas-luasnya.
“Ini pengaruh dari waktu remaja. Saya selalu dikelilingi benda-benda yang sifatnya pop. Termasuk komik. Dan komik bukan Superman saja, tapi juga Gondala, Godam, Aquanus. Itu ‘kan kebudayaan pop. Teh botol ‘kan kebudayaan pop,” katanya.
Kebudayaan pop sangat dekat dengan dirinya. Dia suka menonton film –dia tak mau melewatkan midnight show. Dia suka makan junkfood dan minum Coca-Cola. Dia juga kolektor komik Superman.
“Gue pernah menemani dia di Los Angeles, mencari komik, sampai habis US$200. Nyari sampai sore. Bukan cuma di toko tapi juga di rumah-rumah orang kolektor. Komik yang dia cari macam-macam. Dia cari edisi lama, tahun lama, dan asli. Pokoknya kalau dia pulang, kopernya penuh buku, komik, mainan, dan majalah,” kata Eko Kristianto, sutradara video musik, rekan Rizal.
Kegemarannya pada komik berawal ketika dia masuk sekolah internasional di Iran yang menuntutnya mahir berbahasa Inggris. Ayahnya memberinya stimulasi dengan berbagai bacaan. Suatu ketika dia pergi ke toko buku yang hendak tutup. Kakaknya memintanya untuk memilih salah satu komik. Dia mengambil satu eksemplar, yang ternyata komik Superman. Ketika dia membacanya, dia merasa bisa memahami isinya meski dengan kemampuan bahasa Inggris yang seadanya. Karena cerita itu bersambung, dia harus mengikutinya pada bulan berikutnya, lagi, dan lagi. Lalu, dia mulai mencari komik kreasi Joe Shuster dan Jerome Siegel pada 1938 itu dari edisi lama, hingga jadi kolektor.
“Waktu kita ke Eropa, syuting, dia punya sekoper penuh buku. Orang-orang itu kalau ke sana, jalan, yang dicari baju, sepatu. Rizal nggak, ke toko buku, ngumplek aja. Dia bisa berjam-jam di toko buku. Akhirnya setiap pulang dari luar negeri dia pasti punya sekoper penuh buku,” kata Alfani Wiryawan, direktur program dan produksi di Avant Garde Productions.
Dia suka membeli dan membaca buku pop art, video musik, make up, dan buku-buku yang berhubungan dengan profesinya. Dia sadar dia belajar secara autodidak. “Bisa dibilang saya ‘kan salah jurusan. Mestinya masuk sekolah film, tapi ternyata nasib membawa saya menjadi begini. Seandainya saya disuruh mundur balik, mungkin saya akan sekolah film,” katanya.
Buku-buku itu bersama koleksinya yang lain ditatanya rapi. Di kantornya dia dikenal suka beberes. Sering terdengar suara palu dari ruangan kerjanya, yang menunjukkan dia lagi mengubah desain interior.
“Ada kesan dia one man show, apa-apa dia sendiri, bisa. Nggak salah kalau dia mengidolakan tokoh komik Superman. Dia itu Superman,” kata Oleg Sanchabakhtiar, sutradara video musik dari Planet Design Indonesia.
“Dulu, mau bikin video musik, kadang cuma dia sendiri yang tahu,” kata Eko Kristianto.
“Karena belum ada orang yang bisa, sesuai dengan dia, targetnya dia, mengimbangi dia. Jadi kalau dia nyuruh, daripada lama mending turun sendiri. Tapi one man show-nya lebih pada syuting,” kata Alfani. “Mungkin dia pikir biar cepat. Tapi anak-anak yang habis kerja sama Rizal biasanya bukan jadi tambah bego. Mereka juga tambah pinter.”
Oleg, Eko, dan Alfani—tiga rekannya semasa di BDI—mengatakan belajar banyak darinya, orang yang mau berbagi ilmu, tanpa terkesan menggurui.
Suatu ketika, di tahun 1996, dia keluar dari BDI. Alasan dia klise, “Tiap orang ingin berkembang.”
“Mungkin dia merasa sudah saatnya mencari, menjajaki hal baru, dan merasakan karya sendiri. Bagaimana pun di BDI dia merasa di bawah bayangan saya. Mungkin dia susah berkembang,” kata Richard Buntario.
Setelah itu, satu per satu karyawan juga memutuskan untuk keluar, termasuk Alfani, Oleg, dan Eko. Alasannya macam-macam, dari soal manajemen, perbedaan visi, sampai faktor kekeluargaan yang mengendur. Belasan karyawan itu kemudian berkumpul untuk mendirikan sebuah rumah produksi baru.
Dia tak ikut di dalamnya, karena ingin melanjutkan kuliah yang sempat terhenti. Tapi, teman-temannya berupaya mengajaknya serta ke dalam rumah produksi yang belum punya nama itu. Dia akhirnya bersedia ikut, dan bahkan mengusulkan nama Avant Garde Productions, nama yang kemudian dipakai hingga kini. Di Avant Garde dia bisa mewujudkan konsep-kosepnya lebih bebas. Selain tetap menggarap video musik, dia menciptakan sekaligus menyutradarai serial komedi situasi Satu Atap dan Gen-X, keduanya untuk ANTeve.
“Di Avant Garde cara kerjanya tak berubah. Lebih Superman. Lebihlah karena dia jadi one man show, dulu ‘kan duo,” kata Oleg Sanchabakhtiar.
1996. Dia didatangi Mira Lesmana. Mira baru saja keluar dari Katena, sebuah perusahaan periklanan di Jakarta. Mira juga pernah membantu Anak Seribu Pulau-nya Garin Nugroho, yang mempertemukannya kembali dengan Riri Riza dan Nan Triveni Achnas. Dari situ, Mira yakin bisa bikin film. Untuk itulah Mira mendatanginya yang tentu saja amat mengejutkan.
“Kenapa saya? Saya ‘kan sutradara music video?”
"Sebenarnya cita-cita kamu yang paling ultimate apa sih?"
"Bikin film."
"Ya sudah, mau nggak bikin film?"
"Gila apa, nggak ngerti 35 mm, nggak ngerti seluloid, nggak pernah tahu, saya nggak mau. Saya nggak!"
"Sudahlah, kita ‘kan sama-sama, berempat, kita punya teman-teman. Dan gue tahu elu bisa"
Mira juga mengajak Riri Riza dan Nan Triveni Achnas.
"Benar, yakin nih?"
Mira berusaha meyakinkannya. Dia pun berpikir tawaran tak datang dua kali. Dia menerimanya. Syaratnya, dia dibantu, karena awam.
Lalu, meluncurlah Kuldesak ke pasaran pada 1998. Kehadiran Kuldesak mengobati kerinduan publik terhadap film Indonesia, yang makin sepi karena aturan pembuatan yang ketat dan biaya produksi yang mahal. Beberapa kritikus film sempat menafsirkan film ini dipengaruhi Pulp Fiction karya Quentin Tarantino. Tapi, keempat sutradara ini berkali-kali bilang bahwa Kuldesak lahir karena pengaruh buku Robert Rodriquez berjudul Rebel Without A Crew.
Rodriquez adalah sutradara Meksiko yang sukses di Hollywood. Film pertamanya El Marachi, yang ia buat dengan peralatan sederhana, mendapat sambutan dan bahkan mengantarkannya ke Hollywood. Lalu, berturut-turut ia membikin film Desperado, From Dusk Till Dawn, The Faculty, dan Spy Kid. Melalui bukunya Rodriquez membagi pengalamannya membuat film dengan fasilitas terbatas. Ia juga menyuguhkan pelajaran-pelajaran praktis yang amat berguna bagi pembuat film amatir. Ada bagian khusus dalam buku itu yang diberinya judul “The Ten Minute Film School.”
Bagi Rizal Mantovani, pengalaman pertama membikin film ini amat menegangkan. Ada perasaan grogi pada awalnya. Tapi, dukungan teman-temannya membuat perasaan itu perlahan lenyap. Ini jadi momen yang amat menentukan dalam perjalanan kariernya. “Ya akhirnya saya merambah dari video musik ke dunia yang tadinya saya nggak kalah cintanya: film,” katanya.
Selepas itu, dia melanjutkan aktivitasnya sebagai sutradara video musik. Acap dia bertemu dan bertukar pikiran dengan teman-temannya yang berprofesi sama seperti Jose Poernomo, Jay Subiakto, Dimas Djajadiningrat, Oleg Sanchabakhtiar, Eko Kristianto, dan sebagainya. Lalu, muncullah ide dari Jose untuk membikin wadah bernama Music Video Makers (MVM). Bentuknya informal, hanya untuk bertukar pikiran saja. Tapi, MVM kemudian tak berjalan, meski sempat pula terlontar keinginan untuk membuat film.
Suatu hari dia diminta Erwin Arnada, pemimpin redaksi Neo, sebuah majalah gaya hidup, untuk menyumbang tulisan tentang film. Dia mengelak.
“Aduh, kayaknya saya nggak berkompeten menulis tentang film.”
“Ya udahlah Zal, lu bantuin kita bikin artikel apalah.”
“Apa aja?”
“Apa saja deh. Ntar gue lihat, kalau bagus, masuk.”
Dia menulis mengenai legenda-legenda urban di Jakarta, seperti Si Manis Jembatan Ancol, Suster Ngesot, dan Pastur Jeruk Purut. Dalam artikelnya yang berjudul “Legenda-legenda Urban di Jakarta” itu dia memasukkan sekitar 15 legenda.
Di luar dugaan, dua tahun kemudian, Rexinema menawarinya membuat film. Rexinema hendak membikin 12 telesinema untuk stasiun televisi baru TransTV, yang semuanya digarap sutradara video musik. Dia lalu mengembangkan artikelnya di Neo untuk filmnya yang kemudian diberi judul Jelangkung.
Dia minta Jose Poernomo untuk membantunya dalam penyutradaraan. Skenario ditulisnya bersama Jose dan scriptwriter Adi Nugroho. Sejumlah pemain yang tak dikenal publik direkrut agar penonton tak dibebani pencitraan karakter tertentu. Pembuatan film dilakukan dengan menggunakan Betacam, kamera yang biasa dipakai untuk membuat video musik. Syuting dimulai pada Desember 2000. Setingnya di pinggiran Jakarta. Waktu syuting cepat, hanya sepuluh hari. Dengan penyiasatan itu biaya produksi bisa ditekan minim, sekitar Rp 200 juta.
Setelah film selesai dibuat pada Mei 2001, muncul keinginan untuk menayangkannya di layar lebar. Pertimbangannya, film ini punya nilai sinematik yang beda dari sinetron, baik dari pendekatan visualnya maupun cara bertuturnya. “Dengan harapan kita bisa masukin proyektor, pasang cuma di satu bioskop doang di Pondok Indah Mall,” katanya.
Meski awalnya tak menanggapi, Studio 21 di Pondok Indah Mall akhirnya memutar film berdurasi 102 menit ini. Di luar dugaan, antrean penonton meluber, bahkan banyak yang tak kebagian karcis. Karena laku, film ini pun dialihkan ke dalam format pita seluloid 35 milimeter, dan dibuat 20 kopi agar bisa diputar serentak di banyak kota dengan cara konvensional.
Jelangkung menjadi film yang diburu penonton. Jelangkung juga menjadi film nasional pertama yang menembus pertunjukan midnight sampai 13 kali putar di Pondok Indah Mall. Pun jadi film nasional pertama yang diputar di empat layar sekaligus di beberapa bioskop karena bludakan penonton.
Keberhasilan Jelangkung amat mengejutkan, meski kisah misteri bukanlah tema baru dalam perfilman Indonesia. Pada 1970-an dan sesudahnya, penonton Indonesia disuguhi film-film bertema sejenis. Ada Beranak Dalam Kubur, Bayi Ajaib, Akibat Guna-Guna Istri Muda, Arwah Penasaran, Dendam Jumat Kliwon, dan sebagainya. Belakangan, RCTI juga menayangkan Si Manis Jembatan Ancol yang merupakan remake dari film layar lebar dengan judul sama produksi Sarinande Film pada 1973.
Meski tak tahu kenapa filmnya diminati, dia senang melihat antrian panjang penonton. Inilah momen yang amat berkesan baginya, setelah pemutaran kali pertama Kuldesak.
Buah dari keberhasilan Jelangkung terus berlanjut ketika dia bisa bertemu dengan Michael Bay, sutradara sekaligus produser film di Hollywood.
Semuanya berawal dari Variety, majalah bisnis hiburan yang jadi pegangan orang-orang perfilman. Pada edisi November 2001, Variety menurunkan artikel tentang sukses instan Jelangkung sebagai headline di rubrik yang mengulas industri hiburan Asia. Roy Lee, produser dari perusahaan Dimensions Film, divisi dari Miramax di Hollywood, membaca artikel itu dan tertarik. Miramax adalah distributor film berbasis di Amerika Serikat yang banyak memasok film asing (non-Amerika Serikat). Lee lalu mengirim surat elektronik ke Erwin Arnada, produser eksekutif dari Rexinema, yang meminta satu kopi Jelangkung. Permintaan itu dipenuhi dengan mengirimkan film dalam format DVD tanpa teks terjemahan.
Meski kesulitan mengikuti jalan cerita, Lee memuji penyutradaraan Jelangkung. Ia menyatakan ingin membeli film itu. Lee juga memperlihatkan Jelangkung kepada Julien Thuan dari United Talent Agency (UTA), yang selama ini mewakili bintang ternama seperti Harrison Ford dan Jim Carrey. Thuan mengatakan suka pada Jelangkung dan bersedia membantu mengurus kontrak untuk pembuatan ulang.
Ketika tawaran itu datang, Rizal Mantovani tentu saja terhenyak, kaget. Bukankah di Hollywood lebih banyak orang jago bikin film? Tapi, sekali lagi, kesempatan tak datang dua kali. Dan berangkatlah dia bersama Jose Poernomo ke Los Angeles untuk melihat kemungkinan kerja sama. Di Hollywood pula dia bertemu dengan Michael Bay, pemilik perusahaan film Platinum Dunes. Kesempatan itu juga dimanfaatkannya untuk menjual konsep film.
Dua kali kunjungan mereka ke sana membuahkan hasil. Michael Bay mengajak kerja sama pembuatan film horor The Well untuk penonton di Amerika. Bay melibatkan pula Radar Films untuk produksi ini. Selain itu, proposal penggarapan ulang Jelangkung yang menjadi The Uninvited masih dibahas di beberapa perusahaan film, antara lain Paramount dan FOX Seachlight.
"The Well masih dalam proses. Kita baru dapat penulisnya, tapi saya belum bisa ngomong karena itu masih confidential. Insya Allah Januari saya ke sana untuk … take,” katanya.
“Entar saya akan menyutradarai bareng Jose dengan supervisi dari mereka. Dan kita juga akan supervisi ceritanya.”
Selain The Well, dia juga sedang mempersiapkan penggarapan film layar lebar berjudul Dan yang bekerja sama dengan Multivision Plus di Jakarta. Awalnya film itu akan diberi judul Reaksi Kimia, tapi diurungkan. Nama Dan diambil dari judul lagu Sheila On 7. Ia sudah membicarakannya dengan Eros, personel Sheila On 7 yang menulis lagu Dan. Nantinya lagu itu akan dibawakan dengan alunan suara penyanyi cewek.
”Ceritanya tentang cinta, cinta untuk 22 tahun ke ataslah. Saya lihat kalau anak muda, ABG, ‘kan nanyanya Siapakah saya? Cari identitas. Saya rasa umur 23-24 ke atas bukan nanya itu lagi, tapi Di mana saya?” katanya.
Dan baru menyelesaikan pembuatan script dan pemilihan pemain. Dia berkolaborasi lagi dengan scriptwriter Adi Nugroho untuk film bertema urban-drama ini. Film dengan seting kota Jakarta ini akan menjadi film layar lebar pertama yang dia sutradarai sendiri.
“Sekarang lagi break dulu. Jadi script lagi kita selesaikan, casting baru selesai. Mudah-mudahan Desember kali ya,” katanya.
“Setelah Dan dan The Well baru saya akan mengerjakan film I-sinema saya. Insya Allah sama Rayya (Makarim) tahun depan. Konsep sudah ada tapi saya belum bisa ngomong sekarang.”
Dia ikut bergabung dengan I-sinema, suatu gerakan yang dilakukan 13 pembuat film yang sebagian besar sutradara muda untuk menyiasati problem perfilman Indonesia. Melalui I-sinema ini beberapa film lahir, seperti Bendera garapan Nan Triveni Achnas, Eliana eliana (Riri Riza), dan Lima Sehat Empat Sempurna (Richard Buntario).
Tapi, dia tak ingin muluk-muluk di sini. Seperti yang diterapkan dalam proses berkeseniannya, dia suka pada pendekatan pop culture, dan berorientasi pasar.
“Misi saya membuat sesuatu yang bisa diterima masyarakat luas. Kalau mendapat hati dari mereka saya sudah senang. Dan itu berat,” katanya.
DUA poster besar terpasang di ruangan ini; Reservoir Dogs dan Pulp Fiction, keduanya karya sutradara Quentin Tarantino. Satu stiker kecil menempel di kaca nako bertuliskan “Dreamscape Indonesia.” Dia masih duduk bersila. Sesekali saja dia mengubah posisi duduknya agar terasa lebih nyaman. Sesekali pula dia menengok televisi di sudut ruangan yang masih menayangkan lagu-lagu dari MTV, menikmati sejenak waktu luangnya yang sempit.
Dia baru saja menyelesaikan pembuatan video musik Chrismansyah Rahadi atau lebih populer dengan nama Chrisye berjudul Kangen yang dinyanyikan bareng Sophia Latjuba. Dia biasa mengerjakan semuanya sendirian; dari proses pengambilan gambar, editing hingga video musik siap ditayangkan di televisi. Selepas Chrisye beberapa pembuatan video musik menunggu.
“Dia itu jenius di bidang ini, audio visual. Dia bisa membuat beberapa macam karakter. Seperti dia bisa bikin dangdut, pop, jazz, mau apa bisa,” kata Oleg Sanchabakhtiar.
“Kalau syuting, gilanya, dia suka kolosal. Dia ngatur kameranya, dia ngatur lighting, artistiknya, ini-itu, bisa begitu. Dan dia produktif. Tiap tahun pasti ada karyanya yang kategori the best, di dunia musik Indonesia ya, bukan ajang video musik indonesia.”
“Rizal itu sangat komersil. Lagu apapun, musik apapun, dia bisa jadi komersil. Lagu jelek pun bisa jadi bagus,” kata Eko Kristianto. “Yang nggak gue suka dari dia, semuanya pakai emosi. Misalnya dia ada masalah, itu bisa berpengaruh pada ritme kerjanya. Tapi, sekarang ‘kan dia freelance, dia jadi tegar, bisa berdiri sendiri. Dia jadi lebih dewasa.”
Dia kini memang mandiri, menempati rumah yang agak sempit di daerah Pejompongan. Sudah beberapa bulan dia berkantor di sini, setelah Maret lalu resmi keluar dari Avant Garde Productions, rumah produksi yang ikut dibangunnya pada 1996. Dia lalu membuat tim kerja bernama Dreamscape Indonesia untuk pekerjaan video musik.
“Saya merasa di Avant Garde masih berpartner dengan teman. Jadi dalam segi profit saya masih berbagi dengan orang lain. Saya merasa, kenapa nggak buat saya sendiri sekalian, nggak usah ada partner, ‘kan pasti secara finansial bisa saya nikmati sendirian. Jadi saya bertekad untuk bikin Dreamscape,” katanya.
Tapi, dia tak hendak membuat Dreamscape menjadi besar. Dia hanya mempekerjakan enam orang. Lainnya, dia sewa per proyek, termasuk kru, peralatan syuting, dan editing.
“Konsepnya sama kayak di Broadcast Design Indonesia dan Avant Garde. Cuma konsep dasarnya adalah kecil. Saya nggak mau membuat ini jadi besar. Jadi memang dia selalu jadi perusahaan kecil,” katanya lagi.
Dreamscape adalah rumah produksi untuk video musik, sesekali saja menggarap iklan. Bahkan, untuk iklan dia kerap disewa rumah produksi lain. Dreamscape juga tak hendak menggarap acara televisi. Dreamscape hanya menjual jasa kemampuannya sebagai sutradara video musik. Bukan hal aneh bila orang lebih melihat nama sutradara ketimbang nama rumah produksinya. Dan di bidang video musik dia jagonya. Dari 1992 hingga kini setidaknya dia sudah menggarap hampir 200 video musik dan beberapa iklan televisi.
Di Dreamscape dia sendirian, tanpa partner, seperti juga dia sendirian menikmati masa lajangnya.
“Kalau dibilang yang bukan luck-nya dia, dia ‘kan luck ya, apa-apa punya, itu soal jodoh,” kata Oleg Sanchabakhtiar.
“Rizal cuma butuh orang yang sayang sama dia. Tapi, kebanyakan cewek yang dekat semuanya jahat sama dia. Rizal punya semua hal tapi cuma di situ doang yang kurang,” kata Eko Kristianto.
Dulu dia bisa stres ketika ditanya tentang pasangan hidup. Kini, dia bisa menerima keadaan sembari tetap menyibukkan diri dengan bejibun aktivitas. Dan toh, dia masih punya ibu, Widji Andari yang sudah lama menjanda, yang begitu peduli padanya, dan amat berarti baginya.
“Bagaimanapun ibulah yang memberikan saya suport selama ini. Kalau nggak ada beliau dan tidak bersama beliau, saya rasa nggak bisa bekerja,” katanya.
“Dia dekat sekali sama ibunya. Sampai sekarang apa-apa untuk ibunya. Dia ‘kan anak bungsu. Dia dulu manja banget sama ibu dan kakaknya. Tapi, dia paling sebal kalau ada saudaranya datang ke kantor,” kata Eko.
Lalu, dia bergegas. Kesibukan menjadi rutinitas kesehariannya. Ada acara syuting. Lalu, dia harus mengedit. Mungkin lusa dia pergi keluar negeri. Bukankah dia generasi MTV, generasi yang tak lagi merasa atau terkekang oleh “memiliki tanah air yang satu”—atau dalam istilah Joshua Meyrowitz, penulis buku Understanding The MTV Generation, generasi no sense of place. Di mana pun dia mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehannya sebagai sutradara, itulah tanah airnya.*
Permalink | 2 comments |